Gibran POV
Aku mencari anak itu sekeliling rumah sakit, kenapa dia harus hilang saat dia harus melakukan cek up rutin sebentar lagi.
Sungguh harus ekstra sabar menghadapi anak laki-laki itu, tapi aku tak pernah merasa tersusahkan walau lelah seusai kerja sekalipun.
Ya, aku berprofesi sebagai Captain Pilot dan pemilik pusat perbelanjaan di tengah kota. Perkenalkan namaku Raditya Gibran.
Status? jika bicara mengenai itu aku harus terpaksa jujur jika aku masih lajang di usia 30 tahun terakhir memasuki 31 tahun.
Anak (?) itu bukan anak kandung ku, lebih tepatnya dia putra adikku yang aku anggap seperti putra sendiri.
Jujur aku sendiri juga ingin segera bertemu jodoh, tapi aku merasa semua wanita yang mengejar diriku yang tampan dan rupawan ini (hehehe) bukanlah jodoh yang tepat untuk masa depan keluarga.
Sepertinya sebentar lagi aku akan bertemu dia, itulah jawaban ku jika Bunda dan Ayahku mengomel memintaku untuk segera menikah. Hanya saja aku merasa yang tepat belum berhasil aku temukan.
Rata-rata wanita yang mengejar ku hanya demi uang dari hasil gaji sebagai pilot sekitar 70jt per bulan belum lagi bonus yang aku dapat perbulannya membuat mereka buta ditambah saham dari mall besar ku, kadang aku berpikir dengan harta dan uang ini aku merasa sedikit susah menemukan wanita yang sesungguhnya baik dan tulus.
Seluruh area rumah sakit telah aku cari demi menemukan Deon. Namun kenapa dia sepertinya lenyap ditelan bumi, membuat aku pusing saja. Akhirnya aku masuk area Kantin dan menelusuri seluruh penjuru.
Pengelihatan ku menangkap Deon yang tengah duduk bersama wanita ber jas putih yang sedang makan bersama.
Pikiran ku sudah kemana-mana, bagaimana jika makanan itu tidak baik untuk Deon, aku segera berjalan cepat menghampiri mereka berdua.
"Deon, kamu di sini?" sergah ku sambil menarik Deon ke pelukan.
Wanita itu menatapku kaget dan bingung sebelum aku melanjutkan bicara.
"Anda berniat menculik Putra saya?" sergahku cepat mengira dia seorang dokter amatiran yang berusaha mencari sasaran.
Wanita itu menatapku kaget dan sepertinya sedikit marah dan berkata, "Saya tidak berniat mencelakakan putra Bapak apalagi menculik dia!" ucapnya membela diri tak terima jika aku menuduhnya sebagai penculik.
"Saya sudah paham dengan sikap Dokter seperti Anda!" jawabku sinis.
"Huh ... kasihan dia mungkin tak beristri yang menikah muda, usiannya sepertinya cocok untuk aku panggil adik laki-laki, apa dia seorang Duda muda? pasti kondisi psikis nya kurang baik." gumam wanita itu menatapku penuh selidik dan ada perkiraan besar dalam pikirannya.
"Apa Anda kira saya Duda, dan kurang bahagia?" sergahku membaca pikirannya karena sedikit mendengar gerutuannya.
"Ya mungkin saja, bahkan Anda cocok untuk menjadi adik saya, usia kita berbeda jadi sedikit lebih hormat pada saya" balasnya sambil merapikan jasnya, dia mengira jika aku masih berusia sekitar 20 tahun, memang tak asing lagi jika semua orang yang melihatku mengira aku masih berkepala dua padahal aku sudah berkepala tiga.
"Baiklah Bibi! Anda lebih tua." jawabku penuh penegasan, tapi wanita itu malah marah, apa ada yang salah dengan ucapan ku (?) dalam hati aku tak mengerti nalar wanita ini, sungguh aneh.
"Terserah, saya malas mengurusi Anda, lebih baik pergi karena pasien saya sudah menunggu." ucapnya sambil membereskan meja.
Aku ingin membuka bicara, tapi Deon mendahului perkataan ku.
"Bibi, besok kita makan sayur lagi ya? Deon tunggu hadiah dari Bibi," ucap Deon membuatku tercengang.
"Iya Deon, besok kita makan sayur lagi biar jadi superhero, nanti Bibi kasih Deon hadiah," jawab wanita Dokter itu sambil beralih pandang dari Deon menatapku.
Aku tak sempat melihat dan membaca identitas namanya karena ia terburu-buru pergi dan berjalan jauh sambil memasukkan tangannya pada saku jas putih bersih itu.
Tatapannya berusaha membuktikan jika aku sudah salah tanggap, dan dia pergi berlalu begitu saja. Dalam hati aku merasa malu dan bersalah, apa lagi jika tahu dia memberi makan sayur pada Deon.
Yang orang lain menjauh dari anak seperti Deon, wanita itu malah mendekat pada Deon dengan ikhlas tanpa tahu latar belakang Deon.
"Aku akan menyampaikan maaf jika bertemu dengannya lagi," ucapku lirih sambil mengajak Deon jalan menuju pemeriksaan khususnya kali ini.
Gibran POV end
Tanpa Gibran sadari dia akan bertemu masalah baru yang memperumit kondisi dan membuatnya merasa berhutang budi.
***
Rena bersiap memulai jam kerjanya lagi setelah istirahat makan siang di kantin yang bertemu sedikit masalah.
Dia lebih tidak mempedulikan kata-kata pria tadi yang di ketahui Rena adalah ayah Deon.
Rena merasa sedikit ingin cepat pulang dan menemui sang ibu, entah kenapa dia merasa rindu mendadak.
Rena merapikan jas dokternya dan stetoskop yang melingkar di lehernya, menambah kesan cantiknya sebagai seorang Dokter.
"Dewi, kita bisa mulai pemeriksaan pertama pasien." ucap Rena pada Dewi yang merapikan sedikit berkas di depan pintu.
"Baiklah Dok, pasien kali ini tidak begitu ramai seperti biasa, jadi Anda bisa segera pulang!" jawab Rena membuatku terkekeh, sepertinya dia tahu jika aku ingin segera pulang.
"Dugaan mu selalu benar Dewi! sepertinya ibuku sudah rindu," sahut Rena membuat mereka berdua tertawa lucu.
"Saya panggilkan pasiennya dulu." tukas Dewi dan Rena hanya mengangguk paham sambil membuka catatan keluhan pasiennya.
"Saudara Deon Imanuel?" ucap Dewi memanggil pasien pertama bernama Deon, Rena tak mendengar jelas panggilan Dewi karena di luar pintu.
"Oh, iya terimakasih ya?" jawab Gibran diketahui wali dari pasien.
Dewi melihat Gibran yang tersenyum langsung meleleh takjub, dia merasa jika Gibran benar-benar tipenya. Wajah tampan rupawan dan stylenya yang modern.
Mata Dewi terus mengikuti arah Gibran memasuki ruangan Dokter Rena.
"Silahkan duduk, dan ada keluhan apa?" ucap Rena ramah yang semula menatap catatan pasien dia beralih menatap pasiennya.
Rena terkejut, dan sedikit merasa malas untuk bertemu orang yang sama di kantin tadi.
***
Gibran masuk ke dalam ruangan seorang dokter yang bernama Dr. Rena Rosallie Sp.A. Ini pertama kalinya Gibran menemani Deon untuk cek up. Karena kesibukannya di dunia penerbangan.
Saat masuk dan duduk di hadapan dokter kusus Deon, matanya melolong terkejut, lagi-lagi wanita yang sama.
Yang semakin membuat Gibran kaget adalah, ternyata wanita itu adalah dokter spesialis anak sungguhan, yang sebelumnya dia mengira jika wanita itu adalah dokter amatiran, sungguh benar-benar malu melihat wajahnya sendiri.
Gibran tersenyum canggung pada Rena, bukannya disapa ramah oleh Rena, malah berpaling wajah pada Deon, otomatis membuat Gibran merasa makin bersalah.
"Bibi dokternya Deon?" tanya Deon gembira sambil menatap Rena berbinar.
"Wah ... kita ketemu lagi Deon," sahut Rena ramah dengan senyumnya yang begitu manis, Gibran menatap mereka berdua begitu canggung.
"Biar saya periksa catatan Deon," ucap Rena memulai bicara lebih serius sambil membuka catatan sakit milik Deon.
Saat Rena membuka catatan, Gibran memulai bicara, "Apa ada yang perlu diperhatikan lebih serius?" tanya Gibran menatap Rena dengan jas ber-gelarnya sedikit bangga, seorang wanita seperti Rena terlihat hebat untuk berjuang di hari-hari nya, namun rasa bangga Gibran hilang begitu saja saat mendengar ucapan lirih Rena.
"Perhatikan ucapan mu sebelum bicara seperti di kantin tadi," gumam Rena sambil melirik sinis Gibran.
Gibran mendengarnya sedikit jengkel, namun dia juga mengakui jika membuat kesalahan.
"Maaf jika pembicaraan saya tadi kurang berkenan pada Dokter!" ucap Gibran sedikit canggung.
Rena mendengarnya langsung mendongak kaget, dalam pikirannya dialah yang salah paham.
Salah paham karena mengira Gibran adalah pria duda beranak di usia berkepala dua. Namun dia salah, Rena segera memastikan perkiraannya.
'Fix! dia duda berpengalaman, pasti sudah tua dan memasuki kepala empat, tapi fisiknya terlihat masih sangat muda, huh aku kurang sopan pada yang lebih tua.' batin Rena sedikit merasa miris mengingat nada bicaranya kepada Gibran yang lebih tua dan berpengalaman.
Rena meringis canggung, dan melanjutkan bicara, "Ehm ... sudah Bapak lupakan saja tadi saya juga kurang sopan dalam berbicara," jawab Rena ramah bermaksud mengakui kesalahannya.
"Oh, iya-iya baiklah!" respon Gibran bahagia karena Rena terlihat bukan pemarah.
"Begini, Anda pasti tahu kondisi putra Bapak, saya juga mengerti bagaimana kondisi psikis anak seusia Deon, tapi mari kita mulai lakukan ..." ucap Rena tegas tapi baru saja dia berhenti bicara, Gibran menyela ucapannya.
"Lakukan apa? apa ini tidak keterlaluan?" sahut Gibran cepat seolah kaget, yang seharusnya kaget bukan Gibran tapi Rena.
'Apa yang dia pikirkan? lakukan apa? apa dia berpikiran aneh? sungguh nasib seorang Duda bertahun-tahun yang tersiksa tanpa belaian istri!' batin Rena penuh tanya dan kasihan pada Gibran.
'Beruntung diriku belum menikah, pasti akan ada kemungkinan bernasib seperti Duda tua ini!' batin Rena terus berkelanjutan.
"Kita lakukan pemeriksaan Deon? apa Anda berpikiran lain?" tanya Rena bodoh, kenapa dia harus mengucapkan kalimat terakhirnya, sungguh Rena meruntuki kebodohannya.
Gibran terkejut dan merasa malu, kenapa mulut dan pikirannya harus seperti ini saat kondisi baru saja membaik.
'Nasib jomblo sampe sekarang kamu Bran!' batin Gibran salah tingkah menuntut kebodohannya pada Dokter yang sudah membuat dirinya malu di kantin tadi, dan sekarang harus malu lagi, ah ... tidak, astaga.
"Ah ... tidak-tidak, saya tadi salah bicara, mari kita lakukan pemeriksaan putra saya!" sahut Gibran salah lagi, kenapa dia memangil Deon seolah-olah putra kandungnya, ah ... bodo amat memang Deon sudah seperti putranya sendiri.
"Oh ya, baiklah silahkan." Rena mempersilahkan Deon untuk mendekat dan di periksa.
Stetoskop Rena menempel pada d**a dan perut Deon, dia merasa ada yang aneh. Rena melanjutkan pemeriksaannya pada anggota tubuh khusus untuk diperiksa pada anak yang terlahir prematur.
Pemeriksaan selesai, dan Gibran berbicara serius dengan Rena membiarkan Deon bermain di atas brankar rumah sakit.
"Ada berita baik, dan kurang baik, saya akan sampaikan yang kurang baik lebih dulu," ucap Rena sambil menulis sesuatu di catatan pasien.
"Kondisi Deon saat ini lebih dominan pada terganggunya sistem pernafasan, dan jika di biarkan akan rentan pada Displasia Bronkopulmoner dan Apnea, ini bisa diselesaikan dengan perawatan khusus dan rutin, ditambah imunisasi tertib, kurangi kunjungan berlebih diluar rumah, sebab akan ada resiko terkena virus baru, dan perhatikan posisi tidur putra Bapak, terutama suhu dan kondisi ruangan, jika itu di laksanakan maka akan sempit kemungkinan terjadinya hal buruk yang tidak diinginkan, dan berita baiknya adalah putra Bapak kondisi pendarahan ringan sudah mulai mereda karena rutinnya perawatan dan itu hanya bersifat jangka pendek!" terang Rena panjang lebar kali tinggi, mulutnya berbicara tangannya menulis dan pandangannya beralih kesana kemari seperti berbicara pada umumnya sama sekali tidak terlihat terlalu fokus dan kesusahan.
Dapat di lihat jika Rena adalah wanita cerdas, Gibran yang sedari tadi menatap dibuat kagum dan terbawa alur pembicaraan Rena.
Entah kenapa kali ini dia benar-benar merasakan pertama bertemu dengan wanita cerdas seperti Rena walau hari-hari dia dikelilingi pramugari cantik dan tak kalah pandai.
Rena selesai bicara dan menatap Gibran yang menatapnya serius, apa yang terjadi (?) apa ada kesalahan dalam berbicara (?) batin Rena bertanya-tanya melihat respon Gibran.
"Ehm ... permisi Pak?" ucap Rena berusaha menyadarkan Gibran yang hanya diam.
Gibran menyadari tindakannya langsung salah tingkah, 'haduh saya malu lagi!' gerutunya dalam hati dan memalingkan pandangannya dari wajah Rena.
"Apa Bapak mengerti yang saya sampaikan tadi?" tanya Rena memastikan.
"Oh, iya-iya saya paham, dan terimakasih atas saran dan nasehatnya pada saya dan putra saya!" jawab Gibran ramah.
"Iya sama-sama Pak, dan saya sendiri juga senang bertemu dan kenal sosok anak seperti Deon, saya yakin dia akan menjadi anak yang cerdas kedepannya, yakinlah masa depan putra Bapak akan indah jika Bapak tidak lalai padanya!" respon Rena memberi nasehat sedikit.
Gibran mendengarnya seolah dia merasa jika Rena mengira Deon adalah putranya, tapi tak apa lagi pula itu bagus, tidak ada yang salah.
"Kalau begitu ini resepnya bisa di tebus ke resepsionis!" lanjut Rena ramah dengan senyumnya yang mengembang, dan berdiri mengusap kepala Deon lembut.
Pemandangan yang begitu indah yang dilihat Gibran, seketika Gibran tersenyum hangat dan berjalan keluar ruangan bersama Deon.
Rena melihat mereka berdua keluar tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan dan berkata, "Masing-masing manusia ditakdirkan beraneka macam, mungkin ini adalah jalanku agar tidak terjerumus pada pernikahan yang berujung perceraian!" ucap Rena lirih sambil melanjutkan pekerjaannya memeriksa pasien baru secara bergantian.
Displasia Bronkopulmoner adalah penyakit paru-paru kronis yang disebabkan akibat cedera paru-paru. Apnea adalah kondisi yang menyebabkan denyut jantung dan kadar oksigen dalam darah menurun, namun kodisi ini biasanya terjadi pada bayi prematur jenis usia tertentu.