03. perjuangan wanita kuat (perawan tua)

2102 Words
Sore tiba, Rena pulang dari rumah sakit menuju kediamannya dengan sang ibu yang tinggal bersama selama bertahun-tahun di sana, saat sang ayah masih hidup bahkan hingga beberapa tahun setelah beliau meninggal. Rena turun dari mobil dan memarkirkannya di lahan parkir di depan gang menuju rumahnya. Rena berjalan menaiki gang bertangga dengan rasa lelah dan beban dalam hati yang tidak tahu ingin dibagi dengan siapa. Bajunya sedikit lusuh karena aktivitasnya sepanjang hari, dan sepatu putihnya masih bersih tanpa kotoran. Tepat saat Rena berada di tengah anak tangga, dia mendengar sesuatu tentang dirinya dan sang ibu. "Lihatlah dia, percuma menuntut ilmu hingga menjadi dokter, padahal dokter tak menjamin kebahagiaan bertemu jodoh! Apalagi Hilza janda selama bertahun-tahun, pasti dia tidak menikah lagi demi putrinya yang egois, memilih menjadi dokter dari pada mencari pasangan! dari pada menghabiskan waktu mencari ilmu yang ujungnya seperti ini lebih baik dia menikahi pemuda kaya raya dan hidup berlimpah harta, sungguh anak tidak tahu di untung!" lirih seseorang tetangga Rena pada tetangga yang lain. "Ke sana kemari membawa gelar sarjana percuma, jika statusnya perawan tua, mana ada laki-laki mapan mau wanita seperti dia! jikalau ada, aku berani bertaruh lahan besar ku akan aku jual dengan bunga murah!" sahut ibu-ibu dengan kesombongannya, hingga dia berani menjamin ejekannya pada Rena dengan lahan luas yang dia miliki. "Percuma punya gelar besar jika ujung-ujungnya hanya akan bekerja di dapur juga, apa dia tidak kasihan pada ibunya yang membiayai pendidikan bertahun-tahun hanya di balas seperti ini!" oceh ibu-ibu lainnya, membuat Rena geram, memang apa urusannya dengan mereka, 'kebahagiaan ibuku tidak seperti yang mereka pikirkan.' batin Rena jengkel. Diketahui jika ibu-ibu itu memang terkenal dengan ucapannya yang besar, kadang sang putri jengkel karena janjinya tidak pernah di tepati oleh sang ibu untuk membelikan sesuatu. Ingatlah selalu takdir seseorang tak pernah bertahan pada satu posisi, bisa jadi satu detik kemudian dia akan jatuh miskin, hingga nyawanya pun bisa menjadi taruhan. Sesuai pepatah, 'Mulutmu harimaumu' begitu pula dengan 'Tong kosong nyaring bunyinya'. 'Namun biarlah, takdirku tidak di tentukan dengan ocehan mereka' itulah kata penyemangat yang selalu Rena pegang selama ini. "Aku jamin dia akan mati tanpa pasangan!" sahut ibu-ibu lainnya dengan tatapan sinis, kadang mereka membuat Rena berpikir apa hubungan statusnya dengan kehidupan ibu-ibu itu, sungguh mulut mereka diobral. Tepat saat Rena berjalan di depan salah satu ibu-ibu itu dia berkata sesuatu yang membuat mereka semua merasa takut tanpa alasan. "Usia sekitar lima puluh tahun keatas kemungkinan besar akan ada pembengkakan pembuluh darah dan bisa berakibat fatal, bahkan akan mempercepat kemungkinan saat mereka selalu berusaha mencemaskan hal yang tidak penting!" ucap Rena berpura-pura bicara di telepon dengan seseorang. Ibu-ibu itu mendengarnya dan langsung merasa terkejut, seketika mulut mereka terkunci tak men-judge Rena lagi. Mereka percaya saja sebab mereka tidak ada bekal tentang kesehatan, menandakan perbedaan besar bagi orang yang berpendidikan atau tidak. Mereka khawatir dengan ucapan Rena sebagai seorang dokter, padahal Rena tidak tau banyak mengenai penyakit orang tua, dia hanya sedikit bicara untuk membungkam mulut mereka semua, tanpa Rena duga ternyata mereka benar-benar takut dengan ucapannya yang ngawur. Rena melihatnya hanya tersenyum kecut, dan berjalan melewati mereka semua dengan perasaan gundah, kondisi seperti ini memang membuat manusia terbelah berkeping-keping tanpa ada yang tersisa, tapi Rena selalu berusaha dan berhasil bangkit dari ocehan khalayak umum seperti mereka. Rena terus menatap langkah kakinya yang berjalan naik anak tangga depan rumahnya. Dalam benaknya dia begitu terpukul dan terhempas jauh dari ketinggian. Dahulu dia sempat berpikir jika suatu saat dia berhasil menjadi dokter, kehidupannya akan indah seperti drama sinetron dan novel, namun itu semua hanya pemanis buatan. Rena membuka pintu rumahnya, dan melihat Leo di samping pintu, Leo adalah seekor anak kucing yang Rena adopsi saat terjebak di jalan ketika hujan lebat pada perjalanan pulang dari rumah sakit. Rena berjongkok di depan Leo dan berkata, "Mama pulang." ucap Rena menyebut dirinya sebagai orang tua Leo. Leo menurut saat kepalanya dibelai hangat oleh Rena. Saat itu juga Hilza (ibu Rena) datang sambil membawa makanan Leo. "Udah pulang Ren?" sapa Ibunya sambil tersenyum lembut. "Iya Bu, baru saja sampai." balas Rena. "Rena masuk dulu Bu." lanjut Rena pada sang Ibu yang menyuapi Leo. Hilza menatap punggung putrinya dengan perasaan bangga dan sedih, dia bangga jika sang putri bisa bertahan hingga sekarang, dan juga sedih mengingat permainan takdir pada sang putri. Di dalam kamar Rena. Jam menunjukkan pukul 21.15 malam, Rena duduk di meja kerjanya yang berada di depan jendela, menampilkan pemandangan langit malam di tengah keramaian kota. Lalu lalang para manusia itu tak ada habisnya bahkan hingga hari berganti siang berganti malam tak pernah sepi jalanan besar itu, hingga kadang mereka lupa pada sikap sosial hanya karena kesibukannya, contohnya saat lampu hijau menyala untuk para pejalan kaki ada juga pengendara yang menerobos dan alhasil hampir terjadi kecelakaan. Tangannya bergerak dengan pulpen dan buku kamus kedokteran, tapi matanya menatap keluar jendela kamar, dengan pemandangan malam yang di suguhkan oleh kota tempatnya tinggal. Perlahan-lahan bibirnya bergerak mengucap sesuatu dengan penuh pertanyaan, "Huh ... ibu-ibu itu apa mereka berprofesi sebagai penyiar radio?" lirih Rena sambil mengingat ucapan ibu-ibu tetangga. "Jika iya, wah ... luar biasa! mereka begitu pandai berbicara!" lanjutnya sambil menggelengkan kepala pelan, pertanda dia heran. "Gaji mereka berapa perbulan? mungkin lebih tinggi dari penghasilan ku, sebab mereka sangat berbakat," Rena semakin aneh, bukannya marah atau sedih dia malah berpikir tidak jelas, bahkan mengira-ngira gaji seorang penyiar radio. "Pasti mereka kaya! sampai bertaruh lahan luas demi ending cerita masa depan ku," lanjutnya sambil tertawa kecil, merasa begitu lucu. Batinnya sebenarnya begitu terpukul, tapi dia berusaha menghibur dirinya sendiri. Saat Rena mengingat ucapan ibu-ibu tadi, dia langsung mendongak ke atas menatap langit-langit malam dan mengucapkan sebuah harapan. "Tuhan! bantulah hamba-Mu yang paling sholehah ini! jangan kau buat aku semakin berwisata terus menerus di dunia yang membingungkan ini! Segeralah mengirim malaikat yang tampan, muda, dewasa, mapan, setia, dan yang paling penting adalah seksi, bisa menghiburku di tengah malam setiap harinya ...." Rena menengadah ke atas dan berdoa bersungguh-sungguh sambil tertawa kecil mengingat permintaannya yang terakhir. Tapi yang lucu adalah dia berdoa di kalimat terakhirnya, apa maksudnya jodoh yang bisa menghiburnya di tengah malam setiap harinya, kenapa hanya setiap malam (?) Rena masih diam sambil menengadah penuh keyakinan. Diam Diam Diam Akhirnya yakin jika doanya di kabulkan, Rena merasa begitu bahagia mendengar sinyal jika doanya dikabulkan, ponselnya berdering tanda panggilan masuk. "Sungguh ternyata aku benar-benar sholehah, berdoa sebentar sudah dikabulkan, i love you Tuhan!" ucap Rena kegirangan penuh tawa dan senyum keyakinan jika yang meneleponnya pasti adalah laki-laki yang ditakdirkan bertemu dengannya. Dengan penuh keyakinan Rena melihat panggilan masuk itu, nomor tidak di kenal. Secepat kilat Rena menjawab, "Hallo?" ucapnya begitu lembut berharap pikirannya benar. "Dokter tolong saya! ini saya Gibran." jawab sang pemilik nomor panggilan. Seperti dijatuhkan dari gedung paling tinggi, harapannya dan doanya berasa sia-sia, pikirannya seolah hanyalah halusinasi, sungguh Rena begitu jengkel mendengar jawaban orang yang menelponnya ternyata adalah Gibran .Ingin rasanya Rena membunuh wali pasiennya kali ini, pertama kalinya dia benar-benar kesal dengan pasiennya sendiri. **** Setelah selesai dari rumah sakit untuk cek up Deon, Gibran dalam perjalanan pulang bersama Deon di dalam mobil miliknya, terlihat Gibran fokus menyetir dan Deon menikmati es krimnya. Gibran POV Sepuluh menit berlalu, aku masih di dalam mobil bersama Deon menuju rumah. Aku melihat Deon begitu bahagia, dia terus mengoceh tentang dokter Rena di rumah sakit tadi, membuat diriku tersenyum menanggapinya. "Bibi dokter baik dan cantik ya Yah?" ucap Deon sambil menjilati es krimnya, aku mendengarnya hanya mengiyakan saja lagi pula anak seusia Deon masih polos perihal orang dewasa. Deon memanggil ku dengan sebutan ayah sebab dia akan memamerkannya pada teman sekolahnya jika dia juga punya ayah, sama seperti anak-anak yang lainnya. Kadang aku merasa kasihan pada Deon, dan kadang aku menyalahkan kedua orangtuanya (adikku dan suaminya), mereka lebih mementingkan ego dari pada masa depan sang putra. Saat aku sibuk dalam pikiran dan jalanan di depan, ponselku berdering. Terlihat notif panggilan telepon dari Bunda, segera aku menjawabnya dengan tombol speaker di samping setir mobil. Panggilan terhubung... "Hallo Bun?" aku memulai bicara pada Bunda. "Hallo Gibran, kamu dimana? masih di rumah sakit?" tanya Bunda menanyakan keberadaan ku. "Ini di jalan mau pulang Bun, sama Deon." jawab ku sambil melirik Deon yang tersenyum mendengar suara sang Nenek. "Deon mau pulang sama Ayah Nek!" ucap Deon ikut menyahuti ucapan Bundaku, Neneknya. "Wah ... cucu Nenek pintar, kamu nanti di jemput Mama segera ya?" lanjut Bunda membuatku bingung, kenapa Tessa (adikku dan Mama Deon) harus menjemput Deon, saat kami sudah segera sampai. "Kenapa Bun? Tessa pasti baru pulang dari kuliah pasti lelah?" sahutku cepat. "Tidak apa, Tessa sudah Bunda beritahu dan menunggu di kafetaria depan swalayan!" jawab Bunda membuatku semakin bingung dengan alasannya. "Kenapa Bun?" tanyaku mengulangi kembali. "Jemput Bunda di hotel dekat kantor pusat!" jawab Bundaku meminta ku menjemput dia di sana. "Kenapa lagi Bun? ayah dimana?" sergahku semakin serius. "Ayahmu sedang ada pekerjaan, kamu jemput Bunda sekarang! Bunda lupa bawa uang!" jawabannya cepat, baru saja aku ingin mengajukan pertanyaan lagi, beliau sudah bicara lagi. "Tidak usah bertanya lagi, cepat kesini atau coret Kartu Keluarga!" ucap Bunda sambil mengancam ku keras, memang hanya dengan tidak menjemput harus keluar dari anggota keluarga (?) sungguh luar biasa menakutkannya Bunda ku ya teman-teman (?) Itulah salah satu alasanku menjadi anak yang penurut di usia menjelang tua. (Jaga mulutmu Gibran, Bunda tabok tau rasa, hhhh) "Iya-iya Bun, Gibran meluncur, pilot ganteng menuju lokasi!" balasku sedikit bercanda pada Bunda sambil menahan senyum. "Halah! percuma ganteng kalau nggak nikah-nikah keburu tua kamu Bran!" jawab Bunda membuat ku bungkam dan memilih mengalah mengakhiri panggilan. "Gibran sampai di kafetaria Bun, da ...." sahutku segara mengakhiri panggilan, sebelum akan terjadi masalah. Tanpa di sangka Deon tertawa mendengar ucapan ku dengan Neneknya, 'dasar anak ini' batin ku menahan lucu dan mengusap pelan kepala Deon. Gibran POV end Sesuatu yang akan membuat Gibran marah adalah bunda Gibran sedang di rumah, bersama sang suami (ayah Gibran) dan yang akan membuat Gibran semakin geram adalah Tessa juga terlibat di masalah yang akan membuat dirinya dalam masalah, mereka semua harus siap dimakan oleh amukan Gibran. Tiba saat Gibran di depan kafetaria dan melihat Tessa duduk di dalam sambil beristirahat pulang dari kuliah, Tessa adalah mahasiswa muda berusia 23 tahun, namun sudah berstatus janda beranak satu yaitu Deon, dia bercerai dari sang suami hampir dua tahun. Berbeda dari sang kakak yang sudah berumur namun masih belum mendapatkan pendamping, memang takdir bisa bertolak belakang walau itu saudara kita sendiri. Gibran turun dari mobil bersama Deon dan masuk ke dalam kafetaria. Tessa mendengar suara yang memanggilnya dengan sebutan 'mama' dibuat menoleh seketika pada sumber suara yaitu Deon, putranya. "Mama! ...." teriak Deon sambil berlari menuju Tessa yang tersenyum bahagia. Gibran melihat Deon berlari sedikit kaget karena takut jika terjatuh, dan alhasil dugaan Gibran benar, Deon terjatuh. Untungnya tangan Tessa sigap menangkap tubuh sang putra, dan mengomel karena kaget. "Deon, kan Mama sudah bilang, jangan lari-lari! kalau jatuh yang sakit siapa?" omel Tessa penuh perhatian. "Deon ...." jawab Deon polos. "Lalu yang marah siapa?" lanjut Tessa bertanya dan mengomel pada Deon. "Mama!" jawab Deon dengan polosnya. "Yang belain siapa?" tanya Tessa lebih ganas. "Ayah!" jawab Deon polos sambil menunjuk kearah Gibran tanpa dosa. Gibran melolong melihatnya, kenapa dia harus di ikut campurkan dengan masalah ibu dan anak ini. "Lah? kok Ayah?" tanya Gibran penuh tanda tanya, Tessa melihatnya sinis. "Kalau salah di belain itu benar atau tidak?" tanya Tessa masih dengan interogasi pada sang putra. "Enggak! ...." balas Deon tak mau mengalah sambil menggeleng tidak, jika dia diam maka Tessa akan diam, tapi jika Deon diam dia akan di marahi oleh sang Mama karena tidak menjawab padahal punya mulut, sungguh rumit jika berdebat dengan seorang ibu. "Yang dihukum siapa?" tanya Tessa semakin mendesak, dan lagi-lagi Deon mengumpan kail pada Gibran sang paman yang di panggil Ayah. "Ayah!" jawab Deon menunjuk pada Gibran polos, dan tersenyum licik pada Gibran. Membuat Gibran kesal, 'dasar anak ini, kenapa aku yang dijadikan umpan coba!' batin Gibran jengkel pada kelakuan nakal Deon. Tessa mendengarnya menggeleng pelan, dan berkata, "Kak, keponakan mu kau ajari macam apa?" sergah Tessa sambil bercak pinggang, Gibran seolah terpojok di sana. "Lah! kenapa aku Tess? konyol tau nggak kalian berdua!" jawab Gibran jengkel. Deon melihatnya, tertawa lucu sambil menjilat bekas eskrim di sudut bibirnya. "Sudah lah, aku mau jalan! keburu di coret dari kartu keluarga sama bunda!" sahut Gibran sambil berpamitan pada Deon dan keluar dari kafetaria. Di balik itu dia tidak tahu jika akan ada masalah yang akan membuat dirinya panik. Tessa tersenyum lucu sambil melihat mobil sang kakak melaju jauh dari kafetaria, mengingat rencana orangtuanya pada Gibran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD