Ibadah terberat dan terlama menurutku adalah berumah tangga. Karena itu aku tidak ingin salah memilih teman sepanjang perjalanan ibadah itu. Aku tidak mencintainya. Aku tidak mencintainya. Aku tidak mencintainya. Kalimat itu terus saja aku ulang dalam pikiranku setelah dengan bodohnya otakku memikirkan apa yang Jek katakan. Memangnya ada yang salah jika perempuan memikirkan seorang laki-laki dalam otaknya? Bukan berarti ia mencintai laki-laki tersebut. Bisa saja memang perempuan itu peduli dengan sekitar. Seperti yang kurasakan kini. Ya ampun, pak Firman itu baru saja ditinggal pergi Zia untuk selama-lamanya. Mengapa aku tidak boleh khawatir kepadanya? Apalagi secara tidak langsung permintaan terakhir Zia mengikatku pada perjalanan pernikahan mereka. Tapi aku sama sekali tid

