Bab 2

1076 Words
Ketidak berdayaanku melawan takdir akhirnya membuka jalanku menuju ke arah yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.   Malam lamaran itu akhirnya datang. Beberapa hari sebelumnya aku tidak mendengar cerita apapun dari pak Firman mengenai lamaran ini. Sehingga akupun malas berkomentar.  Namun ketika malam ini dia datang, dan melihat aku ada di rumah di mana calon istrinya berada, berhasil menimbulkan tanda tanya besar baginya. Aku mencoba pahami mengapa dirinya kaget akan kehadiran diriku, karena dari cerita yang Zia katakan kepadaku, pak Firman ternyata melakukan ta'aruf pada adik kembarku itu. Sungguh luar biasa bukan. Pada masa modern ini, di mana mereka yang menikah biasanya telah lebih dulu berpacaran, namun apa yang dijalani pak Firman dengan Zia sungguh berbeda. Mereka menikah setelah saling bertukar proposal yang kebetulan dibantu oleh adik perempuan pak Firman. Usut punya cerita, Zia, adik kembarku ini saling mengenal dengan adik perempuan pak Firman di sebuah pengajian. Lalu entah bagaimana jalannya, Zia dan pak Firman bertukar proposal diri. Sampai akhirnya memutuskan untuk menikah. Yah, mungkin bagi orang yang beragama, hal seperti itu adalah hal biasa. Namun bagiku sungguh luar biasa tak pernah terbayangkan. Jika aku diposisi Zia, aku tidak akan mau melakukannya. Ya kali, aku menikah dengan laki-laki yang hanya kutahu nama sama tanggal lahirnya saja. "Kamu, ngapain di sini?" tegur pak Firman. Aku cengengesan saja saat dia nampak kaget atas kehadiranku. Lagian gaya-gayaan menikah pakai ta'aruf. "Rumah saya di sini, Pak," jawabku sambil melengos meninggalkannya. Sekali-kali membuatnya naik darah tak masalah rasanya. Dapat kulihat kedua orangtua pak Firman sibuk berbicara dengan ayah ibuku. Mereka tertawa-tawa sambil melirik ke arah pak Firman yang mati kutu. Lalu tak lama, ibu memintaku untuk membawa Zia agar bergabung dengan mereka. Aku mengikuti saja. Selama apa yang mereka pinta tidak memberatkanku, akan kulakukan. "Duh, wangi banget," godaku pada Zia. Kedua pipi kembaranku itu memerah. "Aku deg-deg'an Kak." "Ngapain deg-deg'an. Ini kan baru pertunangan." "Tapi mas Firman maunya langsung tentuin tanggal pernikahan," jawab Zia yang langsung membuatku terkekeh geli. Mas Firman. Sambil berpura-pura batuk, aku menutupi kegelianku. "Ya bagus dong. Secara kamu enggak dia gantungin kayak jemuran," tawaku geli. "Ih, Kak Fa. Jangan gitu. Awas ya, kalau nanti Kakak nikah, aku yang godain paling kenceng." "Godain aja. Paling kamu enggak akan bisa." "Bisa lah. Kecuali aku udah enggak ada di dunia ini," jawab Zia asal yang langsung kucubit pipinya dengan kencang. Kebiasaan dia, kalau bicara tidak pernah dipikirkan lebih dulu. Padahal di antara kami berdua dialah yang ilmu agamanya lebih baik. Masa dia lupa kalau ada malaikat yang bertugas mencatat segala hal yang dilakukan di dunia ini.   *** Ternyata benar apa yang dikatakan Zia. Malam itu setelah pertemuan keluarga, akhirnya tanggal pernikahan telah ditetapkan. Awal bulan depan. Yang berarti beberapa hari sebelum tanggal kelahiran kami, aku dan Zia. Kadang bila aku melihat jalan hidup Zia, betapa beruntungnya dia. Lahir dengan mudah, karena berhasil keluar lebih dulu dari rahim ibu, lalu kini menikah pun tidak menyusahkan orangtua. Namun jika disuruh memilih apa aku mau seperti dirinya atau tidak, tentu saja aku akan menolak. Karena aku tetap ingin menuliskan cerita hidupku sendiri. Bukan sebagai seorang anak yang dilahirkan kembar. Tetapi sebagai perempuan biasa. "Za, "panggil pak Firman yang sedang melangkah ke arahku. Jemariku yang sejak tadi menari-nari di atas keyboard langsung terhenti. Kedua mataku meliriknya. Menatap dirinya dari atas sampai bawah. "Sudah selesai kerjaan yang tadi?" tanya dia tak ada perubahan dari sebelumnya. Sebagai informasi saja, setelah tahu aku adalah kembaran dari calon istrinya, pak Firman sama sekali tidak menganak emaskan diriku. Aku pikir pak Firman akan memberikan aku kebebasan untuk bisa datang lebih telat atau pulang lebih cepat. Ternyata tidak. Saat di kantor dia akan tetap sama. Sebagai Firman Abdul Ghani. Bos sekaligus laki-laki yang akan menjadi saudara iparku. "Za, " panggilnya sekali lagi. Panggilan khasnya untukku dengan suara ngebasnya memang mencirikan perbedaan dari yang lain. Dulu aku pernah protes kepadanya. Meminta Pak Firman untuk memanggilku dengan Fa, bukan Za. Namun dia menolak. Katanya lebih enak memanggil namaku dengan Za, bukan Fa. Jadi terpaksalah aku menurutinya. "Kalau sudah selesai, kamu bareng saya saja," ucapnya sedikit lebih pelan. Namun tetap tegas. "Ke mana, Pak?" lirikku padanya yang berdiri tegak di sampingku yang tengah duduk. "Bantu Zia pilihkan keperluannya." "Eh, kok saya. Kenapa bukan ibu saja. Bapak kan tahu saya pulang kerja ada.... " "Saya yakin Zia butuh kamu sebagai saudaranya untuk menentukan pilihan." "Terus Bapak ikut juga?" tanyaku kembali. Dalam hati, aku mendumal sebal. Tuh kan lihat, namanya doang ta'aruf. Tapi masih saja curi-curi untuk bertemu. Dasar manusia zaman sekarang. "Saya ikut untuk membayar saja." "Sombongnya," gumamku sedikit kasar. Namun ketika aku melihat dia yang tidak akan pergi sebelum aku berkata "iya" maka akhirnya semua kulakukan dengan terpaksa. "Iya deh." "Kalau begitu, jam 5 kita jalan," jawabnya tanpa bisa dibantah. Boleh kuceritakan sesuatu fakta, ternyata tidak dalam sebuah cerita, tidak dikehidupan nyata. Kedudukan memang bisa mengontrol orang lain. Seperti yang dilakukan Pak Firman tadi. Aku dengan manutnya mengikuti apa yang dia perintahkan. Karena memang karyawan rendah sepertiku hanya bisa berkata iya, dan tidak diberikan kesempatan menjawab tidak. Tepat pukul 5, aku mulai bersiap-siap. Jek, teman sesama ojek online berulang kali menghubungiku. Pertanyaannya selalu sama setiap harinya, apakah aku akan ngojek malam ini atau tidak. Padahal dia sendiri tahu, tanpa pertanyaan itu aku pasti akan ngojek setiap harinya. Apalagi sekarang-sekarang ini sering sekali ada bonus yang diberikan oleh perusahaan ketika berhasil mencapai target tarikan setiap 3 harinya, maka dari itu tidak akan pernah kulewatkan. Namun sepertinya malam ini pengecualian. Aku terpaksa tidak mengojek demi adik kembarku. Bukan demi Pak Firman.   ***   Tuh kan benar, ketika aku dan pak Firman sampai di sebuah tempat perhiasan. Di sana sudah ada ibu dan Zia. Beberapa saat tatapan ibu seperti memberikan penilaian lain kepadaku karena datang bersama pak Firman. Namun aku berusaha tidak peduli. Apapun yang ibu pikirkan, tidak akan mungkin terjadi. "Kak Fa, bagusan yang mana?" tegur Zia padaku. Namun aku bisa melihat kedua manik matanya menatap pak Firman yang sedang berbicara dengan ibunya. "Semuanya bagus kok. Apalagi kalau kamu yang pakai," jawabku jujur. "Ih, yang benar. Masa aku pakai semuanya." Aku tertawa sebentar. Lalu menujuk satu cincin bermata sederhana yang sudah menarik perhatianku sejak pertama datang. "Ini aja bagus. Enggak berlebihan. Bukannya Zia yang bilang, sesuatu yang berlebihan itu enggak baik." Zia mengangguk setuju. Lalu mengikuti pilihan yang tadi aku ucapkan. Dalam hati aku tertawa geli. Sepertinya hanya aku, seorang anak kembar yang tidak ingin hal yang sama untuk dipilih. Buktinya Zia setuju atas pilihan dari aku, sebagai kembarannya. Apa aku yang tidak normal di sini? ------ continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD