Pernikahan bukan akhir segalanya. Namun langkah awal membentuk bahagia selamanya.
Kondeku hampir saja copot sewaktu tangan ini begitu gatal menggaruk kepala. Jujur saja aku pusing. Melihat semua orang sibuk berjalan ke sana ke sini mengurus semua keperluan pagi ini. Pagi di mana kembaranku akan memulai kisah baru bersama laki-laki yang telah dia pilih.
Sampai detik ini, aku akui belum banyak yang dapat kubantu untuk kebahagiaannya. Namun yang terpenting, doaku tak pernah putus untuknya. Karena aku pun tahu, bila Zia akan selalu mendoakanku jauh lebih banyak dari apa yang kulakukan untuknya.
"Kok kamu enggak pakai kerudung, Fa?" tanya ayah ketika dia melewatiku.
Loh, sepertinya ayah lupa. Bila putrinya yang satu ini memang tidak berkerudung. Lalu apa aku harus memakainya saat ini agar diakui sebagai putrinya juga?
Yah, mungkin saja dia malu dengan tamu. Memiliki anak kembar tapi sangat berbeda keyakinan. Eits, bukan berarti aku sudah pindah agama. Tapi hatiku saja yang masih belum yakin untuk menutup diri. Dari pada nantinya aku menjadi perempuan labil, lebih baik jangan coba-coba.
"Sana bantu Zia. Dari tadi katanya dia cari kamu," ucap ayah kembali saat dia tidak mendengar satu katapun dari bibirku.
Sambil mengangkat tinggi kain kebayaku, langkah kaki ini nampak tidak seimbang menuju kamar di mana Zia berada. Bagiku, hari ini seperti neraka. Bukan karena aku sedih atau kesal atas pernikahan Zia. Namun ya Tuhan, siapa sih yang menciptakan pakaian seribet ini untuk perempuan? Memangnya harus pakaian perempuan dibedakan dengan laki-laki? Bukannya Zia selalu bilang semua manusia sama di mata Tuhan. Yang membedakan adalah akhlaknya. Lalu mengapa sekarang aku harus berpakaian seperti ini?
Masih dengan mendumal kesal, aku membuka pintu kamar di mana Zia berada.
Alah, mak. Cantiknya Zia.
Aku memujinya dalam hati karena bibir ini tak bisa berkata-kata lagi. Takut bila memujinya membuat hati ini sakit. Karena kenyataan selalu tak sesuai dengan keinginan.
Aku ingin cantik juga seperti Zia. Tapi aku tidak mau mirip dengannya. Lalu aku harus bagaimana? Apa memang sudah takdirku seperti ini? Menjadi anak kembar yang menyedihkan.
"Kak, Fa," panggil Zia bahagia atas kedatanganku.
Perlahan aku mendekatinya. Menatapnya lekat seperti sedang bercermin. Dia benar-benar mirip denganku. "Kamu cantik, Zia," ucapku pada akhirnya.
Air mata ini tak bisa terbendung lagi. Aku menangis. Merasa tertampar dengan pujian itu.
Ya, Zia memang cantik. Tapi tidak untuk diriku. Meskipun kami adalah sama.
Karena sejak awal aku tidak ingin disamakan olehnya.
***
Akad nikah lancar. Acara syukuran pun lancar. Memang Zia dan pak Firman memilih untuk tidak membuat pesta besar. Dan aku setuju akan hal itu.
Bukan karena aku berpikir bila semua itu akan menghambur-hamburkan uang. Namun karena aku tidak suka pesta.
Di pesta semua orang akan memberikan penilaian secara bebasnya. Dan pasti yang menjadi sasarannya adalah aku.
Kok Mafaza berbeda dengan adiknya ya, Marzia?
Katanya kembar, kok yang satu enggak kerudungan?
Kembar kok beda?
Kasihan ya, terlahir kembar tapi takdirnya berbeda.
Dan seterusnya, beberapa komentar netizen akan terus berdatangan. Membuat telingaku panas. Karena alasan itulah, aku mendukung tidak adanya pesta.
Zia dan pak Firman ternyata mengaminkannya. Mereka hanya mengundang 100 anak yatim. Keduanya kompak membagikan santunan serta makan-makan kepada anak yatim tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas pernikahan yang telah mereka lakukan.
Dan untukku, tidak akan ada nyinyiran pedas dari orang-orang tidak penting itu.
"Kak Fa kapan nyusul?" tanya Zia sebelum aku meninggalkan keramaian ini.
Senyum pura-puraku mulai beraksi. Aku melirik ke sekitar. Kira-kira apa yang bisa kujadikan jawaban saat ini.
"Nanti juga ada waktunya," jawabku asal.
Ayah dan ibu nampak tertarik dengan pembicaraan ini. Apalagi pak Firman yang duduk di samping Zia sibuk menatapku dengan rasa penasaran tinggi.
"Nanti tuh kapan?" desak Zia.
"Hm, nanti kalau pak Firman ijinkan aku untuk datang terlambat dan pulang lebih awal, aku pasti nikah," tawaku geli.
Mana mungkin semua itu terjadi. Jadi masih banyak waktu untuk menikmati hidup ini tanpa laki-laki yang berstatus sebagai seorang suami.
"Yah, susah itu mah. Kecuali Kak Fa nikah sama Mas Firman," jawaban dari Zia kembali lagi diluar logika.
Dasar adik menyebalkan, mengapa bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Memangnya aku kembaran macam apa yang merebut suami dari adik kembarnya sendiri.
"Hehehee, udah ah. Kamu kalau ngomong enggak pernah dipikir dulu," ucapku sebelum pergi menghindari semuanya.
Kok rasanya aku kesal mendengar kata-kata Zia tadi. Bukannya dia tahu dari kecil aku paling benci disamakan. Lalu bisa-bisa dia bilang pak Firman menjadi suamiku? Sungguh kalimat yang tidak berfaedah.
Karena itu aku malas menanggapinya. Semua itu adalah hal yang mustahil. Lagi pula, Pak Firman bukan tipe laki-laki yang kusukai.
***
Awal-awal pernikahan Zia memang aku akui berdampak buruk bagi kehidupan. Bukan kehidupanku saja. Tapi orangtuaku juga.
Biasanya rumah terasa hidup karena celotehan Zia yang kerap kali diluar logika. Namun sekarang semuanya terasa sunyi.
Setelah akad nikah pada 5 bulan lalu. Loh ternyata sudah lama juga Zia menikah. Dan sampai detik ini rasa kehilangan masih benar-benar terasa. Apalagi setelah akad nikah, Zia langsung diboyong oleh pak Firman ke rumahnya.
Sedangkan di rumah ini tinggal aku, ibu dan ayah. Hanya bertiga di dengan 4 kamar dan satu kamar pembantu. Benar-benar terasa sunyi.
Jujur saja aku yang jarang sekali berbicara menambah kesedihan mereka. Sampai-sampai sering kali aku memergoki ibu yang menangis di dapur sambil membuat makanan. Atau tak jarang pula aku melihat ayah sedang melamun sambil membaca koran.
Bingung harus bersikap apa. Meskipun aku dan Zia kembar. Tapi sikap kami berbeda. Tidak bisa begitu saja aku bersikap seperti Zia, yang selalu tersenyum cerah dan bermanja-manjaan dengan ibu dan ayah.
Tidak. Aku bukan tipe anak yang seperti itu.
Tapi semakin sering aku melihat kesedihan di kedua mata ayah dan ibuku, aku mencoba untuk mencairkan suasana. Meskipun selalu gagal.
Seperti kali ini, aku berusaha mengobrol dengan ayah untuk mengusir kesunyian dalam hatinya. Tapi malah berakhir aku yang mendapat nasihat panjang olehnya.
Ayah selalu mengingatkan aku, bila kodrat seorang wanita bukanlah bekerja di luar rumah. Tetapi membangun madrasah untuk anak-anaknya kelak.
Duh, jadi bingung. Aku ini seorang perempuan apa tukang bangunan sih? Kok disuruh membangun madrasah?
Sedangkan ketika aku ingin mencairkan suasana bersama ibu, banjir air mata yang terjadi di antara kami. Belum satu kata pun aku bersuara, ibu sudah menangis lebih dulu. Kata ibu, jika melihat wajahku malah mengingatkannya dengan Zia.
Lalu aku harus bagaimana? Memangnya aku yang meminta Tuhan untuk dilahirkan ke dunia memiliki saudara kembar?
Setelah berusaha susah payah, aku memilih untuk menghubungi Zia. Memintanya datang berkunjung minggu ini. Sebagai pengobat rindu ayah dan ibu.
Dan bagusnya Zia menyetujui. Dia juga memang sudah berniat datang. Karena sesuatu hal penting yang ingin dia katakan pada ayah dan ibu.
Ya baguslah. Setidaknya, aku masih bisa menjadi anak yang berguna. Meski porsi bergunaku masih jauh lebih dikit jika dibandingkan Zia.
------
continue