Bab 4

1100 Words
Akan ada saatnya aku meragu pada diriku sendiri. Tanpa sadar keraguan itu membuat banyak orang terluka.   Suara perempuan sedang melantunkan ayat Al-Qur'an samar-samar terdengar di telingaku. Sambil berguling dengan malasnya, aku melihat jam pada ponsel yang kebetulan sedang aku charger di lantai. Pukul 04.00 pagi. Masih sambil mengumpulkan semua kesadaranku, aku kembali memastikan lagi ada terdengar suara perempuan yang tengah mengaji sekarang ini. Beberapa saat aku terdiam. Lalu kemudian bibirku mengulum senyum. Dari suaranya yang khas, aku tahu siapa perempuan itu. Meskipun aku tidak tahu kapan dia datang, namun 100% aku yakin suara perempuan mengaji itu berasal dari Zia. Adik kembarku. Sambil mengikat rambut panjangku asal, aku membuka pintu kamar. Dari luar ruangan kamarku, suara lantunan ayat suci Al-Qur'an semakin jelas terdengar. Perlahan aku memejamkan kedua mata ini. Menikmati suara khas itu yang sudah beberapa bulan ini tidak aku dengar. Zia kembali. Pikirku bersorak senang. Meskipun aku tahu kedatangannya ke rumah ini tidak akan bertahan lama. Karena status Zia kini sudah berubah, menjadi seorang istri yang harus setia di samping suaminya. Dalam beberapa saat ada perasaan sedih muncul di hatiku. Merasakan kehilangan sosok yang dulunya adalah kawanku berbagi makanan di dalam rahim Ibu. Ya ampun, mengapa aku secengeng ini. Hanya karena memikirkan Zia saja, entah mengapa aku malah menangis. Memangnya apa yang harus aku tangiskan? Kini Zia telah bahagia. Apalagi yang harus diragukan? Yang seharusnya menjadi prioritas perhatianku adalah bukan Zia. Melainkan bagaimana caranya menikmati hidup sebelum Tuhan tahu bila beberapa waktu ini hidupku begitu mulus tanpa masalah yang berarti. "Fa, tumben kamu bangun pagi," tegur ibuku begitu kaget. Aku di sini cuma bisa mengelus d**a. Tidak ingin menjawab kalimat ibu barusan. Karena semua manusia akan melakukan hal yang sama. Ketika ada sesuatu hal di dekatnya terjadi tidak seperti biasa, maka akan dijadikan topik utama. Mungkin bila aku adalah sosok anak yang mudah baper, mendengar kalimat ibu tadi, aku langsung tidak ingin bangun pagi untuk selamanya. Namun aku bukanlah sosok perempuan yang seperti itu. Lagi pula apa yang ibu katakan memang benar.  Yang perlu kulakukan hanya menyabarkan diri. Kadang memang mendengar fakta lebih menyakitkan dibandingkan dengan kebohongan. "Ayo, ikut sholat jamaah. Ada Firman yang mau mengimami kita," ajak ibu sambil menjelaskan. "Kapan-kapan aja deh, Bu. Sekarang mah lagi enggak bisa sholat," jawabku jujur. "Kamu kapan bisanya sih sholat? Tunggu ayah sama ibu meninggal dulu? Atau tunggu kamu sendirian dulu di dunia ini, baru kamu ingat Tuhan," tegur ibuku begitu keras. Aku diam. Tidak ada terbesit sedikitpun dalam benakku untuk melawannya. Memang benar apa yang ibu katakan. Tapi aku bukan seorang anak kecil yang akan mudah mengikuti hanya karena ditakut-takuti. "Tidur lagi sana kalau memang enggak mau sholat. Bangun impianmu dalam mimpi," sambung ibuku marah. Kembali lagi, ketika kedua orangtuaku mengangkat tema tentang agama dalam pembicaraan kami, pasti mereka akan keki sendiri setelah menasehati aku yang tidak pernah mau mengerti. ***   Senyuman itu tidak lagi terlihat. Tatapan itu menyiratkan sebuah kesedihan mendalam. Bahkan kedua langkah kakiku sampai terhenti kala tatapan menyedihkan itu mengunci diriku hingga tidak bisa bergerak. Di ruang tengah rumahku, ada Zia tengah duduk sambil memandangiku. Dia sendirian di sana. Entah ke mana pergi suaminya. Bahkan ayah dan ibuku pun tidak terlihat di kedua mataku. Aku merasakan hal-hal aneh akan menimpaku. Apalagi ini adalah hari libur dan aku merasa kebahagiaan bukan milikku kali ini. Sambil mencoba mendekati Zia, aku sekilas memberikan senyum padanya. "Datang jam berapa?" "Jam 12, tunggu mas Firman balik dari Manado dulu semalam baru ke sini." Aku mengangguk paham. Beberapa minggu ini memang bosku itu sedikit lebih sibuk. Banyaknya cabang yang baru dibuka di beberapa kota besar mengharuskannya untuk keliling Indonesia beberapa waktu belakang ini. "Oh gitu," ucapku santai. Kami pun sama-sama duduk di sofa ruang tamu, memandang sebuah lukisan besar di mana ada ayah, ibu, aku dan Zia ada di sana. "Enggak kerasa ya, waktu berjalan cepat. Di lukisan itu kamu masih kecil," ucapku terkekeh geli. "Kita, Kak Fa. Bukan aku aja." "Oh iya, lupa. Kita kan lahirnya sama." "Bahkan duluan aku lahirnya," sahut Zia yang langsung aku setujui. "Sekarang kita bukan anak-anak lagi. Kamu bahkan udah nikah. Udah punya kehidupan sendiri-sendiri," ucapku sembari meliriknya. "Nanti jangan malas untuk datang ke sini ya, Zia. Kasihan ayah sama ibu," sambungku menginformasikan bagaimana keadaan kedua orangtuaku pasca Zia menikah. Kulihat Zia mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Kerudung berbentuk bergo yang biasa dirinya pakai ketika di rumah nampak lusuh. Seperti perasaan kembaranku saat ini. Entah apa aku yang berlebihan, namun aku merasa memang Zia tengah memiliki masalah. "Kamu enggak lagi sakit kan, Zia?" tanyaku mulai memperhatikannya. Zia menggeleng cepat. Membalas tatapanku dengan manik mata cokelatnya yang berkaca-kaca. Aku pun tidak mengerti arti dari tatapannya. Yang jelas mendadak hatiku sakit. Perasaan pedih ini muncul tiba-tiba seolah aku merasakan hal yang sama seperti yang Zia rasakan. Namun saat aku ingin bertanya kepadanya lebih dalam, pak Firman masuk ke dalam rumah. Sepertinya laki-laki itu baru saja mengambil sesuatu dari mobilnya. Karena dilihat dari kedua mataku, nampak ada satu tas hitam kecil yang dia bawa di tangannya. Sambil melewati kami berdua dia tersenyum. "Kamu mau sarapan apa?" tanya pak Firman kepada Zia. Aku melirik keduanya. Dari tatapannya saja aku tahu sekali bila pak Firman betul-betul mencintai Zia. Dari caranya bersikap, cara dia berbicara, benar-benar contoh suami manut pada istrinya. Tidak pernah terpikirkan olehku bila pak Firman bisa berubah seperti ini ketika dengan istrinya. Biasanya laki-laki zaman sekarang lebih memikirkan diri sendiri dibandingkan istrinya. "Mas mau makan apa? Biar aku masakin." "Enggak usah. Kita beli saja." "Iya tuh, beli aja. Masa hari libur istri disuruh masak juga," sahutku cepat. Namun setelahnya aku meringis tidak enak. Dasar mulut kurang ajar. Bisa-bisanya ikut campur masalah keluarga pak Firman dan Zia. "Hust, Kak Fa. Mas Firman enggak pernah suruh aku masak ini dan itu. Tapi aku yang mau melakukannya," bela Zia. Entah siapa yang benar. Tapi jika nanti aku menikah, aku tidak akan mau melakukan kegiatan memasak, atau mencuci seperti kebanyakan hal yang dilakukan seorang istri. Kalau semua pekerjaan rumah masih istri yang melakukannya, untuk apa suami bekerja cari uang ke sana ke sini. Percuma uang dicari, lalu hanya disimpan dan malah menyusahkan istri untuk melakukan pekerjaan rumah. "Suruh Za menikah. Biar dia tahu rasanya menjadi seorang istri," goda Pak Firman yang berhasil mencuri perhatianku. Di sampingku Zia tertawa. Akhirnya raut sedih itu perlahan menghilang hanya karena melihat aku yang sebal digoda oleh suaminya. "Suatu saat Kak Fa tahu rasanya menjadi seorang istri. Tanpa diminta. Tanpa dibayar, pasti rela untuk melakukan apapun. Apalagi untuk membahagiakan orang yang cinta. Tidak hanya untuk suami. Tapi juga untuk anak dikemudian hari," ucapnya lesu. Kenapa mendadak sekali perubahaan ekspresi di wajah Zia? ------ continuee... Mau versi cetaknya... bisa pesan diaku langsung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD