Minimal kita sudah membenci maksiat. Meskipun belum sekalipun bisa untuk selalu taat.
Segelas es teh manis sudah berhasil aku habiskan. Malam ini bagiku terasa begitu sepi. Sepenggal ingatan tentang kesedihan pada weekend kemarin ini masih menjadi tanda tanya besar. Ketika aku mempertanyakannya pada ibu, tidak ada penjelasan yang membuatku puas. Apalagi jika aku bertanya pada ayahku. Laki-laki paruh baya itu bukanlah tipe yang suka menceritakan masalah orang lain. Termasuk masalah anaknya sendiri. Karena itulah, kini aku yang merasa paling bodoh di sini.
Aku hanya bisa menerka-nerka ada apa dibalik tatapan sedih Zia waktu itu? Apakah mungkin dia tidak bahagia dengan pak Firman? Ataukah pak Firman memiliki wanita idaman lain?
Ya Tuhan, jika sampai semua itu terjadi, aku yang akan mengadili laki-laki itu lebih dulu. Meskipun aku selalu mengingat perkataan ibuku, jika tidak ada manusia yang bisa menghukum manusia lain, tetapi kasus ini pengecualian.
Enak sekali laki-laki. Setelah berhasil mendapatkan manisnya, maka pahitnya dia buang begitu saja.
Aku pun mengerti sesempurna apapun Zia di mataku, aku yakin kembaranku itu pasti memiliki kekurangan juga. Tapi apakah harus dari kekurangannya itu, pernikahan mereka hancur?
Duh, gusti. Aku yang memikirkannya saja sudah begitu pusing. Apalagi Zia? Pantas saja kemarin ini senyum manisnya itu tidak terlihat.
"Hei ... ngelamun aja!!" suara Jek yang baru saja datang berhasil mengagetkanku.
Laki-laki itu membuka masker wajahnya. Di sekitar pipi kanannya aku bisa melihat bekas masker itu berhasil membuat garis.
"Ada masalah apaan? Tarikan sepi? Atau gimana?" tegur Jek kepadaku.
Aku menompangkan kepalaku pada salah satu tangan di atas meja. Menatap wajah lelah Jek memang ada kesenangan sendiri. Laki-laki yang kukenal dalam kurun waktu setahun ini memang luar biasa menyenangkan.
Berawal dari ketidak sengajaan melamar untuk jasa ojek online ini bersama-sama, membuat aku dan Jek menjadi sahabat karib.
Dulu sebelum berhasil sedekat ini dengannya, aku masih begitu polos memanggilnya dengan nama lengkap "Zakaria". Namun kini, panggilan Jek sudah melekat di dalam dirinya.
"Heh, kenapa sih lo? Ngeliatin gue begitu banget. Kangen mah bilang. Nanti gue santronin rumah lo," ucapnya dengan logat Betawi yang khas.
Aku sejenak terkikik geli. Siapa yang bisa menyangka jika Jek yang merupakan tukang ojek online adalah cucu dari saudagar tanah Betawi yang begitu kaya raya. Rumah kakeknya, atau biasa dia panggil engkong, berada di salah satu kawasan elit di daerah Jakarta Selatan.
Tidak hanya itu yang kutahu, keluarga Jek sendiri rata-rata termasuk golongan orang sukses. Bahkan Kakaknya Jek sendiri salah satu pedagang sukses.
Tapi yang kusuka dari Jek, meskipun terlahir dari latar belakang keluarga yang cukup berada, Jek selalu tampil sederhana. Pakaiannya, gayanya, bahkan cara dia menilai orang lain, tidak ada yang pernah menyangka bagaimana latar belakang keluarganya.
"Eh, buseh. Ini bocah. Jangan melamun aja. Udah malem ini. Nanti kesambet, gue yang repot."
"Tumben lo ganteng malam ini, Jek," ucapku jujur.
Terlihat sekali Jek mendadak salah tingkah saat mendengar ucapanku. Sebelah tangannya berusaha memutar kepalaku agar tatapanku berubah arah darinya.
"Gue yakin lo salah makan, jadi ngomongnya aneh begini."
"Gue lagi pusing, Jek."
"Pusing? Minum puyer sana. Pusing kok dipelihara?"
"Bukan pusing itu, gue lagi bingung."
"Et, yang jelas kenapa. Lo pusing apa bingung? Nanti kalau salah obat gimana?"
Satu tarikan napas lelah lepas dari bibirku. Kepalaku perlahan bersandar pada bahunya. Tatapanku kosong. Meskipun di warung kopi pinggir jalan ini ramai berkumpul para tukang ojek online beristirahat, namun aku merasa seorang diri saat ini.
"Waduh, ini anak bener-bener salah makan," gumam Jek pelan.
"Perasaan gue enggak tenang, Jek. Gue kepikiran terus sama kembaran gue. Entah kenapa gue ngerasa dia lagi enggak baik-baik aja. Tapi gue bingung harus tanya ke siapa?"
"Ya tanya orangnya langsung lah. Lo mau cari jawaban tentang kembaran lo, tapi lo tanya ke gue, enggak akan ketemu jawabannya. Lagian kalau lo tanya orang lain, pasti jawabannya akan berbeda."
"Kok tumben lo bener?"
"Emang gue pernah salah apa sih sama lo, Bocah? Lo aja yang nilai gue salah terus. Gue kan bukan penyanyi yang serba salah itu. Gue temen lo. Sahabat lo. Ya walau hidup gue belum 100% bener. Tapi ya kali gue ajak lo buat enggak bener. Gue punya otak juga kali."
"Terus menurut lo, gue harus tanya kembaran gue?"
"Iya lo tanya. Apa perlu gue anterin ke sana?" tawar Jek yang langsung aku hadiahkan sebuah cubitan.
"Mentang-mentang tukang ojek. Maunya nganterin orang aja."
Jek di sampingku tertawa. Dia mendorong kepalaku yang masih bersandar di bahunya. "Jangan deket-deket dah. Nanti kalau gue enggak bisa lepasin lo gimana?"
"Ya lo harus nikahin gue?"
"Bukannya lo enggak mau gue nikahin?"
"Yah, lihat aja nanti. Kalau mentoknya sama lo, mau gimana lagi?" kataku sambil tertawa.
Dari saku jaketku, uang 10 ribu aku berikan kepada penjual warung kopi itu. "Sekalian sama cowok ini ya, Bu. Kasih dia kopi pakai s**u. Karena dalam hidup, dia udah sendirian. Jangan sampai minuman yang dia minum juga sendirian," godaku yang diberikan kepalan tangan kesal oleh Jek.
Oke. Sekarang aku akan ke rumah Zia untuk mempertanyakan hal yang mengganjal dalam hati.
***
Di depan rumah besar berpagar cokelat motorku berhenti. Kalau tidak salah memang benar ini rumah Zia, sekaligus rumah pak Firman. Walaupun aku belum pernah ke rumah ini, tetapi dari alamat yang pernah Zia berikan, GPSku membawa ke sini.
Sambil celingukan ke sana dan ke sini, aku merasakan kesunyian dalam perumahan besar ini.
Mengapa mereka betah hidup bertetangga dengan dilapisi pagar setinggi ini?
Lalu kapan mereka bisa bersosialisasi? Jangan sampai keberadaan mereka begitu dekat, namun berkomunikasi masih menggunakan media sosial.
Setelah berdebat dengan hatiku sendiri, aku menekan bel rumah Zia sambil menunggu tanggapan darinya.
Tetapi dalam beberapa detik aku menunggu, bukan suara Zia yang kudengar melainkan suara piring atau gelas yang pecah dari dalam rumah itu.
Karena takut terjadi hal buruk, aku menerobos pagar tinggi ini untuk masuk. Untung saja pagarnya tidak digembok, sehingga mempermudahkanku.
Dari penglihatanku, mobil milik pak Firman sudah terparkir dalam garasinya. Aku yakin pak bosku itu sudah di rumah.
Sedikit ketenangan bisa dirasakan dalam hatiku. Namun rasa penasaranku belum hilang. Suara kencang dari barang pecah itu menandakan perasan buruk.
Saat aku berhasil masuk ke dalam rumahnya, aku mendengar suara teriakan Zia dari arah dapur.
"Ini bukan tentang kamu, Mas. Tapi tentang aku. Tentang kecacatan aku. Kenapa sekali ini saja, kamu enggak menuruti kemauanku. Aku ingin bayi tabung, Mas. Bayi ini bukan untukku. Tapi untuk masa depanmu juga!!!! "
Dengan menelan ludah susah payah, kini terjawab sudah apa yang membuat senyuman Zia lenyap. Ternyata faktor keturunan yang membuat perselisihan ini terjadi.
-----
Continue... Masih penasaran?