Kadang takdir serasa mempermainkan kita. Padahal kita saja yang tidak menyadari bahwa sering kali takdir tercipta atas diri kita sendiri.
"Kak Fa," panggil Zia kaget saat melihat kehadiranku di dalam rumahnya.
Aku meringis malu. Kali ini aku benar-benar sudah keterlaluan. Masuk terlalu dalam pada rumah tangga yang dijalani saudari kembarku.
Tetapi semua ini benar-benar ketidak sengajaan. Aku hanya mengikuti hatiku. Aku hanya merasakan perasaan yang Zia rasakan. Hingga akhirnya aku menemukan jawabannya di sini.
Jawaban yang menyakitkan untuk saudari kembarku. Dan aku tidak paham, harus seperti apa aku bersikap. Apa aku harus menatapnya dengan kesedihan?
"Kak Fa kapan datang?" tanya Zia kembali sambil berjalan mendekatiku.
Sepertinya Zia lebih bisa bermain dengan ekspresinya. Tadi dia begitu kaget atas kehadiranku. Namun sekarang ekspresinya terlihat seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Bahkan pecahan kaca entah bekas piring atau gelas saja tidak mengganggunya sedikitpun.
Senyumanku berusaha menutupi kekagetanku tadi. Hal yang sebelumnya tak pernah kupikirkan benar-benar terjadi di depan mata. Dan rasanya diri ini tidak mampu berkata-kata.
"Ayo duduk dulu. Udah biarin aja Mas Firman, tadi dia bawa gelas enggak hati-hati. Makanya pecah."
Aku melirik bosku itu sejenak. Dengan tangannya sendiri, pak Firman membereskan pecahan gelas itu tanpa melihat diriku sedikitpun.
Mungkin ada rasa malu yang dia rasakan. Atau mungkin perasaan sedih yang berlebihan. Entahlah, aku hanya bisa menerka-nerka sampai sejauh ini.
Karena jujur saja, pak Firman yang kukenal di kantor sangat berbeda ketika sedang di rumah.
Dari penilaianku ketika di rumah, pak Firman memang seorang suami yang benar-benar baik. Dia jarang berkomentar ini dan itu seperti yang sering kali dia lakukan di kantor. Tetapi aku yakin dia masih begitu tegas dalam mengambil keputusan. Terlihat ketika tadi pak Firman begitu menentang keinginan Zia mengenai bayi tabung dalam rumah tangga mereka.
"Ih, Kak Fa malah diem aja. Udah main ke sini, ngobrol dong. Zia kan kangen," ucapnya basa basi.
"Kamu baik-baik aja kan, Zia?" tanyaku langsung pada intinya. Aku bukan tipe perempuan seperti Zia, yang bisa memanipulasi perasaan. Aku akan menjerit ketika merasa sakit. Bukan malah tertawa dan menyimpan luka seorang diri.
Seperti halnya tadi yang kulakukan pada Jek, dulu aku juga sering kali membagi kisahku kepada Zia. Setidaknya aku cukup beruntung ada orang yang mau mendengarkan segala perasaanku. Mungkin memang tidak mengurangi masalah, tapi setidaknya aku merasa tidak sendirian ketika menghadapi masalah itu.
Lalu ketika Zia telah berumah tangga, Jek yang rela mendengar keluh kesahku kini. Meskipun beberapa kali laki-laki itu meminta imbalan dengan berkata ingin menikahiku, hanya sebuah senyuman yang bisa kuberikan kepadanya. Karena sampai detik ini aku belum sedikitpun berpikiran untuk menikah. Terutama menikahi sahabatku sendiri.
"Aku enggak apa-apa, Kak Fa."
"Aku memang bukan Tuhan, Zia. Yang bisa menampung segala curahan hatimu. Tapi aku adalah kamu. Dan kamu adalah aku. Meskipun kamu enggak bilang apapun, aku bisa merasakannya. Karena kita adalah sama," ucapku terisak.
Tangis itu tidak bisa ditahan lagi. Aku menarik Zia ke dalam pelukannya. Kemudian kami sama-sama menangis tanpa perlu menceritakan apa yang terjadi. Karena perasaan kami mengatakan hal yang sama. Jika kesakitan yang Zia rasakan adalah kesakitanku juga.
Kali ini aku benar-benar mengakui bila manusia kembar memang ditakdirkan untuk selalu sama dalam segala hal. Termasuk atas apa yang dirasakan tanpa perlu diceritakan.
***
Sudah beberapa lama aku tidak bergerak dari tempat tidurku pagi ini. Aku pun merasa sejak semalam, kedua mata ini tidak bisa tertutup rapat. Penjelasan yang Zia berikan sangat membuatku pusing. Mendengarnya mengucapkan bahasa kedokteran membuat aku ketakutan sendiri.
Endometriosis.
Entah apa itu, aku pun tidak begitu paham. Ketika Zia menjelaskannya, otakku benar-benar tidak bisa memahaminya. Yang kurasakan hanya perasaan ketakutan dan kesedihan Zia.
Namun sejak semalam, setelah aku membrowsingnya, masuk laman penjelasan satu ke laman penjelasan yang lain, akhirnya aku paham apa itu endometriosis.
Singkat penjelasannya, endometriosis adalah sebuah penyakit. Bukan mematikan. Tapi benar-benar menakutkan bagi perempuan.
Sebuah penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi perempuan dimana jaringan dari lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rongga rahim.
Bagaimana bisa?
Pertanyaan itu yang langsung muncul dalam otakku. Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Aku sendiri bukanlah seorang dokter, sehingga tidak pernah terpikirkan bagaimana caranya dapat mengobati penyakit itu yang kini diderita oleh kembaranku.
Yang Zia jelaskan kepadaku, faktor terjadinya penyakit itu cukup banyak. Salah satunya bisa dari lingkungan, gaya hidup, dan faktor keturunan. Lalu yang kuyakini penyakit itu ada karena salah satu gejalanya adalah sering terjadi sakit ketika masa menstruasi.
Dulu. Ketika kami baru pertama-tama mendapatkan tamu bulanan, aku sering bingung mengapa Zia selalu menangis ketika siklus itu terjadi. Dan anehnya tidak terjadi padaku. Namun ibuku selalu beranggapan, semua itu adalah hal wajar. Karena masa menstruasi itu adalah masa dimana dinding rahim meluruh dan sel telur yang tidak terjadi pembuahan harus dikeluarkan.
Andai saja aku tahu lebih awal mengenai keadaan ini, sudah sejak kecil aku akan memaksa ibu untuk membawa Zia berobat.
Memang selalu seperti ini, penyesalan datang tak pernah diawal.
Sudah semalaman aku belajar tentang penyakit itu, sudah semalaman aku tidak tidur, namun sampai detik ini aku benar-benar bingung harus berbuat apa.
Dokter tempat Zia berobat menganjurkan untuk proses bayi tabung. Karena dalam proses pembuahan tidak akan pernah bisa sempurna akibat penyakit itu.
Namun dari yang kudengar semalam, bila pak Firman menolak keras hal itu.
Lalu apa yang harus kulakukan? Membujuk pak Firman agar mau melakukan proses bayi tabung? Memangnya dia mau mendengarkan pegawai rendahan sepertiku?
"Arrggghh, pusing...." Teriakku berusaha melepaskan beban ini.
Jujur saja, aku tidak mungkin diam saja dan seolah-olah tidak tahu mengenai hal ini. Karena biar bagaimana pun yang tengah merasakannya adalah Zia. Perempuan yang terlahir bersama diriku.
"Zia, aku harus bagaimana?" isakku sambil menelungkupkan tubuhku di atas kasur. Sarung bantal berwarna biru sudah basah oleh air mataku yang tak kunjung bisa berhenti. Memikirkan nasib Zia, kembaranku yang hidupnya sedang dipermainkan oleh takdir.
Kupikir ketika Zia menikah, maka hidupku lah yang paling menyedihkan. Ternyata tidak.
Takdir memang tidak pernah bisa ditebak oleh siapapun. Sekalipun kami kembar, nyatanya jalan hidup kami berbeda. Meskipun kami sama-sama merasakan sakit, tetapi ceritanya tidaklah sama.
Jika Zia sakit akan takdir yang menimpa hidupnya, maka aku akan merasakan sakit atas kesedihan yang dirasakan Zia.
Bagaimana? Sudah menjadi kembar sempurna belum, aku dan dirinya?
------
continue