Anggaplah aku awan putih bagimu. Seolah tidak peduli atas semua hal yang terjadi. Namun tanpa kau sadari aku diam-diam melindungimu dari panasnya sinar matahari.
Sikapku di kantor berubah total. Aku yang biasanya tidak peduli dengan pak Firman, kini diam-diam memerhatikannya. Hatiku ingin sekali menanyakan bagaimana keadaannya setelah mengetahui kabar buruk ini. Aku yakin dia tak sekuat karakternya sebagai seorang bos yang tidak suka mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan rumah.
Ketika di kantor, dia fokus pada pekerjaannya. Meskipun aku dan dia sering kali terlibat interaksi percakapan, namun dia sama sekali tidak membahas tentang penyakit Zia sedikitpun.
Sebenarnya dia khawatir tidak dengan Zia? Mengapa pak Firman bisa santai-santai saja menjalani rutinitas ini? Sedangkan aku sudah ingin mati rasanya jika mengingat penyakit yang kini tengah Zia rasakan.
"Pak ... Pak Firman...." Panggilku ketika kulihat dia sedang menuju lift saat ingin makan siang.
Pandangannya yang sibuk dengan ponsel mulai terarah padaku. Dia tersenyum, dengan satu tangannya sibuk di dalam saku celana.
"Kenapa?" tegurnya santai.
Nyaliku yang tadi menggebu-gebu mendadak ciut. Aku membalas tatapannya, dan merasa tidak seharusnya aku ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Tetapi aku tidak bisa diam saja ketika kembaranku merasa sedih seorang diri, sedangkan suaminya bisa sesantai ini bersikap. Seperti tidak terjadi apapun.
"Anu, Pak. Enggak jadi deh."
Kulihat dia menaikkan satu alisnya. Sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja yang ia pakai, kini fokus Pak Firman tertuju padaku seutuhnya. "Ada masalah dengan kerjaanmu?"
"Bukan, Pak. Tapi.... "
"Pak Firman makan siang di mana?" tegur beberapa kepala bagian yang aku ketahui semua mengenal Pak Firman dengan baik.
"Masih belum tahu."
"Bareng kita aja."
"Oke. Nanti saya nyusu,." jawabnya sembari menepuk bahu salah satu kepala bagian yang berkepala botak.
Ingin sekali aku mengomentari bila di zaman modern ini ada krim yang bisa digunakan untuk menumbuhkan rambut. Tetapi mengapa para orang kaya ini seakan tidak peduli dengan penampilan mereka?
Memang benar sih, orang yang real kaya biasanya tidak memperdulikan penampilannya. Lihat saja di mall kalau tidak percaya. Orang yang benar-benar kaya akan terlihat memakai sandal jepit, kaus, bahkan celana pendek yang membuat mereka terlihat santai. Namun coba bandingkan dengan orang kaya baru, atau orang yang tidak mampu tapi bersikap seperti pemilik dunia ini. Semua barang miliknya yang ia pikir menjual akan melekat pada tubuhnya. Padahal mereka hanya pergi ke mall. Semua tampil mewah.
Tetapi mirisnya ketika mereka akan pergi beribadah, terutama umat muslim, pakaian mereka terlihat seperti orang yang tak punya apa-apa.
Hanya sandal jepit, kaus yang sudah kusam, bahkan sarung yang sudah bolong mereka pakai dengan bangga. Padahal yang ingin mereka temui adalah Tuhan. Yang membuat mereka bisa menikmati hidup di dunia.
Sungguh miris bukan?
"Za," panggil pak Firman menghentikan lamunanku tentang kemirisan manusia jaman sekarang ini.
"Ada apa?"
"Saya ingin bicara, Pak."
"Tentang?"
Aku sejenak diam, di hadapan pak Firman yang terlihat penasaran.
"Tentang Zia."
"Baiklah. Tunggu saya di lobby," ucapnya yang langsung aku turuti.
Kali ini aku akan mencoba mengatakan ketakutanku. Dan memberikan pandangan pada pak Firman tentang penyakit Zia. Semoga pak Firman bisa menerima saranku. Bukan sebagai karyawannya tapi sebagai kembaran dari istrinya itu.
***
Menu makan siang yang dipesan pak Firman siang ini begitu banyak. Andai saja pikiranku tidak sedang kusut seperti sekarang ini, pastinya semua makanan yang dihidangkan sudah aku libas habis.
Sebelum pak Firman fokus kepadaku, aku melihatnya menghubungi seseorang sejenak.
Melihatnya berbicara begitu tegas pada lawan bicaranya sedikit kekaguman muncul dalam diriku untuknya. Menurutku pak Firman memang suami sempurna untuk Zia. Aku bahkan kesulitan menemukan kekurangan dari laki-laki ini.
Mungkin aku memang mengenalnya telah lama, tetapi apa yang kuketahui tentangnya hanya sebatas dia adalah bosku yang sering kali memanfaatkanku untuk pekerjaan.
Akan tetapi setelah dia menikah dengan Zia, aku semakin tahu sosok pak Firman Abdul Ghani yang sebenarnya.
"Apa yang mau kamu bicarakan tentang Zia?" tanya pak Firman setelah menyelesaikan panggilannya.
"Banyak, Pak. Sampai saya bingung harus memulainya dari mana."
"Kamu bicara saja, pasti saya dengarkan," jawabnya sembari meneguk kopi hitam yang dipesannya tadi.
"Sebelum saya bicara banyak, saya cuma ingin tahu bagaimana perasaan Pak Firman setelah mengetahui penyakit yang Zia alami? Apa Pak Firman sedih? Atau marah? Atau kecewa?"
"Kamu tanya perasaan saya? Untuk apa?"
Aku tak berani membalas tatapan manik matanya. Tubuhku terasa mengecil. Ketakutanku semakin membesar. Apa pak Firman bisa menerima saran dariku?
"Agar saya tahu dari mana saya akan bicara. Jika Pak Firman merasa sedih, saya akan memulainya dari perasaan senasib yang kita rasakan. Saya pun merasa sedih atas segala cobaan ini. Jika Pak Firman merasa marah, saya akan mengatakan kata sabar. Meskipun kata itu tidak mengubah apapun. Tapi setidaknya ketika Bapak marah, saya siap untuk menahan kemarahan Bapak. Tolong jangan melampiaskannya kepada Zia. Karena dia pastinya jauh lebih sedih menerima kenyataan ini."
"Bagaimana kalau saya kecewa?"
"Kalau ... kalau Bapak kecewa saya akan memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekecewaan yang Bapak rasakan. Setiap manusia pasti mempunyai kekurangan. Namun seharusnya Bapak yang lebih tahu, jika Zia memiliki kekurangan harusnya Bapak yang mencoba menutupinya dengan kelebihan yang Bapak miliki."
"Hahaha, kamu bicara apa? Menasihati saya? Atau apa?" tawa yang kudengar dari pak Firman begitu mengejekku. Apa mungkin dari kalimatku tadi ada kesalahan fatal yang dia dengar?
Sambil memainkan jemariku, takut-takut aku melirik ke wajah pak Firman.
Dia kembali sibuk dengan ponselnya dan seolah menganggapku tidak ada.
"Pak.... "
"Saya penasaran, ketika kamu terjerat dalam masalah serumit ini, apa kamu masih bisa berkomentar seperti tadi? Atau kamu bahkan lebih rapuh dari Zia?"
"Cara orang menghadapi masalah berbeda-beda, Pak. Dan harusnya Bapak lebih tahu, Tuhan enggak akan menguji umatnya dengan sesuatu yang lebih besar dari kemampuannya."
"Seperti itukah pemikiranmu?"
"Memangnya ada yang salah, Pak? Saya bingung dengan sikap Bapak. Di sini Bapak seakan pusing atas masalah yang sedang kalian alami. Namun terkadang saya lihat, Bapak seakan tanpa beban atas penyakit Zia. Padahal yang saya tahu Zia sudah mengajukan salah satu jalan terbaik untuk kalian. Apa Bapak lupa? Atau pura-pura lupa?"
Wajah tanpa ekspresi milik pak Firman perlahan berubah. Kedua sudut bibirnya tertarik tinggi. Kemudian tawa renyah terdengar dari mulutnya.
"Andai kamu telah menikah, saya yakin kamu tidak semudah ini berkata tentang masalah kami," ucapnya penuh penekanan. "Lalu dengan bayi tabung, sesungguhnya bukan inilah yang menjadi topik utama. Saya bukan laki-laki yang setega itu. Hal utama yang saya inginkan adalah kesembuhan Zia. Bukan tentang anak. Itu yang saya sayangkan dari pemikiran Zia. Pernikahan memang identik dengan keturunan. Namun jika sampai akhirnya saya hanya diizinkan berdua dengan Zia, saya terima. Karena memang itulah takdir saya."
Ketika pak Firman bangkit dari kursinya, tanganku tanpa sadar menahan lengannya. "Pikirkan baik-baik, Pak. Mungkin anak bukan masalah penting untuk Bapak. Tapi bagaimana dengan Zia? Tolong Pak. Jangan egois dalam hal satu ini. Di kantor Bapak bisa menekan siapa saja untuk bisa berhasil dalam pekerjaan. Tetapi dalam rumah tangga, saya rasa harus ada yang mengalah untuk bisa mencapai tujuan yang sama."
Aku meraih ponselku yang berada di atas meja. Memohon pamit lebih dulu setelah menyelesaikan kalimat panjangku tadi.
Sekali lagi aku merasa berdosa telah ikut campur dalam hubungan rumah tangga kembaranku, Zia. Tetapi mau bagaimana lagi? Aku juga tidak bisa diam saja merasakan sakit atas apa yang Zia rasakan.
-----
Continue