Bab 8

1055 Words
Mendung sering kali berbohong. Namun hujanlah yang membuktikan. Seperti halnya sebuah senyuman, sering kali mengartikan bahagia. Tapi tak selamanya manusia dapat menutupi luka yang tak berdarah.  "Kenapa lagi sih lo? Ngelamun mulu. Udah berapa tarikan hari ini?" tanya Jek padaku kala kami kembali bertemu di warung kopi biasa kami beristirahat. Hari ini adalah hari sabtu. Dan sudah sejak pagi aku langsung mengendarai si betty menuju sang pengorder yang ingin di antarkan ke mana saja. Namun sayangnya, baru dua kali tarikan, aku sudah tidak bisa fokus menjalani pekerjaan sampinganku. Biasanya jam segini, ketika weekend, aku sudah berhasil mengumpulkan 7-10 trip. Demi bonus mingguan yang aku kejar untuk pemasukan tambahan. Akan tetapi karena pikiranku masih saja bergelut dengan masalah Zia, membuat fokusku buyar. Aku rasanya begitu gemas. Pak Firman yang berkata ingin melakukan pengobatan Zia terlebih dahulu baru memikirkan program anak, benar-benar tak bereaksi. Bosku itu malah terlalu sibuk berkeliling dari satu cabang ke cabang lain demi kemajuan perusahaan. Padahal seharusnya dia juga memikirkan bagaimana kondisi istri dan masa depan pernikahannya. Bukan aku bermaksud membela Zia, namun ya Tuhan, kalau aku menjadi Zia pasti pak Firman sudah habis aku maki-maki. Apalagi sudah seharusnya pak Firman lebih memerhatikan Zia dalam kondisi seperti ini. Bukan seolah melepaskan semua keputusan kepada Zia. Bahkan kejamnya membiarkan Zia ke dokter seorang diri tanpa sedikitpun pak Firman menyediakan waktunya untuk mengantarkan istrinya itu. "Masih tentang masalah kemarin?" tanya Jek sembari menghirup pelan-pelan kopi s**u yang dia pesan. "Iya. Geregetan gue, Jek. Rasanya gue yang pengen ngamuk sama pak Firman." "Kenapa emangnya? Dia selingkuh." "Astaghfirullah al'adzim, Jek. Kok lo ngomongnya gitu." Tatapku dengan pelototan tajam. Jek di sampingku tersenyum penuh arti. "Gue bicara enggak asal ngomong doang, Fa. Secara bos lo itu laki-laki normal, pastinya butuh yang lain. Apalagi istrinya memiliki kekurangan, bukan hal aneh menurut gue kalau dia selingkuh." "Dosa lo nuduh orang." "Sekarang gini, siapa yang bisa jamin bos lo bisa setia sama kembaran lo? Kembaran lo punya kekurangan. Kalau pun dia enggak macam-macam, gue takutnya tekanan dari keluarga yang buat dia melakukan hal yang enggak diinginkan. Secara zaman sekarang lo pasti tahu deh gimana tajamnya mulut komentator. Gue sih bakalan aneh kalau dalam kehidupan pernikahan kembaran lo enggak dikomentarin macem-macem." "Huh, " desahku membenarkan perkataan Jek. "Terus gue harus gimana? Kasihan Zia. Dia bakalan makin tertekan dong." "Kalau udah kayak gini sih tinggal yang paling banyak sabar aja yang bertahan." "Jek, kok lo ngomongnya ngeselin sih. " "Sakit kan dengar kata-kata gue? Karena emang begitulah faktanya. Kalau kembaran lo sama suaminya enggak punya kesabaran lebih, pasti enggak sampai setahun mereka.... " "Ih, enggak. Enggak. Mereka enggak akan cerai. Gue tahu banget pak Firman cinta banget sama kembaran gue. Lagi juga Zia pasti ngertiin apa yang dimau sama suaminya. Pasti itu. Mereka pasti akan saling melengkapi," jawabku langsung membantah kata-kata dari Jek. Memang benar pak Firman dan Zia menikah dengan cara ta'aruf, namun aku yakin mereka tak semudah itu untuk berpisah. Karena yang kutahu kualitas iman keduanya sama-sama baik. Ya kecuali Zia itu seperti aku, aku pun tidak yakin bisa bertahan selamanya jika diuji seperti ini dalam pernikahan. "Hahaha, Faza. Emang gue bilang mereka bakalan cerai. Enggak kan? Begini nih tipe-tipe manusia yang dengarnya enggak tuntas tapi paling bisa mengambil kesimpulan." "Terus apa dong?" "Kalau dari penerawangan gue, awal-awal dalam cobaan ini mereka masih bisa sabar. Tapi setahun ke depan gue enggak yakin kesabaran mereka akan bertahan. Entah itu kembaran lo atau suaminya pasti akan melakukan tindakan di luar logika." "Lo enggak mikir salah satu dari mereka bakalan selingkuh, kan?" "Selingkuh bisa jadi. Yah banyak deh tindakan nekad seseorang yang dalam masa frustasi besar," ucap Jek begitu santai. Rasanya laki-laki ini memang perlu dikasih pelajaran. Enak sekali dia menilai kehidupan orang lain. Memangnya dia siapa? "Bodo. Gue enggak percaya. Lo aja jarang sholat, buat apa gue percaya." "Lo yang aneh. Udah tahu percaya sama orang lain itu musyrik masih aja kemakan sama kata-kata gue. Udah ah, gue mau narik dulu. Dengerin curhatan lo mah enggak kelar-kelar. Ngomonginnya itu-itu terus. Padahal harusnya lo mikirin diri sendiri juga. Mau sampai kapan hidup lo kayak gini? Kalau nunggu yang kaya raya, terus imannya sempurna mah jarang. Lagi juga dia enggak akan mau sama lo. Dengerin gue sekali ini aja, Fa. Selama lo masih di Bumi, jangan mengharapkan langit datang menghampiri lo." Ketika aku ingin membalasnya, Jek sudah lebih dulu meninggalkanku dengan perasaanku yang kacau balau. Kadang kupikir kata-kata Jek ada benarnya. Tetapi yang membuatku sebal, diri ini yang tidak ingin mengikuti kebenaran itu. Sebelum aku kembali melamun, sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Dari Zia, batinku bersuara. Sejenak aku tersenyum. Membaca awal-awal chat yang dia kirimkan. Tetapi di bagian akhir chat membuatku ketakutan kembali. Terlahir berdua bersamamu, memberikan aku kekuatan lebih dalam menghadapi segala macam cobaan. Mengapa isi chatnya seperti pesan terakhir seseorang. Sungguh, kemarin ini aku sudah membaca berbagai informasi tentang penyakit Zia tidaklah mematikan. Hanya saja ... akan ada gangguan dalam organ reproduksi ketika memiliki anak. "Halo, " ucapku saat panggilan ini terhubung kepada Zia. Kudengar dia masih bisa tertawa karena mendengar nada suaraku cukup kesal. "Jangan galak-galak jadi perempuan." "Gimana enggak galak, aku kesel sama kamu Zia. Kenapa sih kamu ngomongnya gitu? Bukannya dokter yang bilang kalau semua bisa disembuhkan." "Hehehe ... iya aku tahu. Makanya besok temani aku untuk berobat ya." "Emangnya pak Firman belum balik dari Makassar?" tanyaku basa basi. Padahal aku sendiri tahu sampai kapan jadwal pak bosku itu di sana. "Belum. Ya ... ya ... kamu mau temani aku." "Ajak ibu ya?" "Jangan!!! " "Kenapa? Bukannya bagus kalau ibu ikut. Jadi dia enggak akan tanya-tanya ke aku lagi tentang kondisi kamu, Zia." "Jangan Kak Fa, aku enggak mau ibu ikut. Aku takut dia sedih melihat keadaan aku yang enggak sempurna. Cukup mas Firman yang kubuat sedih atas kondisi aku ini." "Tapi Zia. Ibu kan orang tua kita. Dia juga berhak tahu bagaimana kondisi kamu," ucapku menasehati. Tarikan napas lelah dari Zia terdengar di telingaku. Sejenak kami sama-sama membisu. Membiarkan ikatan batin kami yang saling berbicara. "Tanganku hanya dua, Kak Fa. Jika semakin banyak air mata yang menetes nantinya, aku enggak akan sanggup menghapusnya. Karena itu aku cuma minta Kak Fa saja yang temani. Soalnya aku yakin Kak Fa enggak semudah itu bisa menangis." Entah ini adalah pujian atau sebuah hinaan untukku? Yang jelas Zia memang berharap aku bisa kuat dalam mendampingi masa-masa sulitnya. ------ continue Yakin enggak penasaran?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD