Bab 9

1316 Words
Jadilah manusia yang bijak, bukan hanya disaat menentukan sebuah pilihan. Namun juga bijaklah dalam menjalani apa yang telah dipilih.   Aku menangis sejadi-jadinya setelah menemani Zia ke rumah sakit. Penjelasan dari dokter yang terus saja mengulang di dalam pikiranku membuat ketakutan ini semakin membesar. Bayang-bayang kesedihan yang akan dirasakan oleh Zia sudah dapat kurasakan. Ingin sekali aku memeluknya saat ini. Memberi semangat agar kesabarannya semakin bertambah dalam menghadapi segala macam cobaan ini. Akan tetapi melihat kondisinya yang berpura-pura tegar memancing kekesalanku. Apa salahnya bila kini dia menangis? Menumpahkan perasaan sedih atas segala hal yang dia tengah rasakan. Tapi Zia tetaplah Zia. Dia kembaranku yang memang paling pintar membohongi siapapun dengan senyuman palsunya. Terkadang akupun bingung, apa memang benar Zia tak pernah bersedih? Apa mungkin kedekatannya dengan Tuhan membuatnya semakin tegar? Karena yang kutahu Zia tak pernah sekalipun absen dalam beribadah. Baik itu yang wajib ataupun yang sunnah, semua dia lakukan dengan khusyuk. Mungkin karena itu juga dia mampu menghadapi cobaan ini. Yah coba bandingkan dengan aku. Jangankan ibadah yang sunnah, yang wajib saja masih jarang sekali aku lakukan. Alasannya satu. Sibuk dengan pekerjaan. Ketika di kantor ada teman-temanku yang mengajak untuk sholat, aku berkata akan menyusul mereka karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku kerjakan. Namun ketika mereka sudah selesai beribadah, aku masih saja berkutik dengan pekerjaan. Padahal bila dipikirkan 5 menit saja aku meninggalkan pekerjaan untuk beribadah, bentuk pekerjaanku masih sama. Tidak akan lari ke mana-mana. Tetapi kurang lebih memang seperti itulah manusia. Jika belum kena batunya, semua masih dianggap seperti angin lalu saja. "Fa," panggil ibuku sembari membuka pintu kamar. Kulihat dari ekspresinya dia sedang menilai wajah sembabku. Bagaimana tidak sembab, hampir satu jam aku menangis tanpa henti. Mengurung diriku di kamar sambil mengurangi ketakutanku. Namun ternyata perasaan takutku tak berkurang. Bahkan ringkasan penjelasan dokter tadi semakin berbunyi kencang di telingaku. Seperti sebuah alarm yang menunjukkan tanda bahaya. Meskipun penyakitnya dapat disembuhkan, namun akan tetap sulit untuk mendapatkan keturunan. Cara dokter mengucapkannya memang tenang. Tetapi begitu menusuk di hatiku. Kalimat yang dokter katakan tersebut benar-benar menyakitkan. Memang benar sih, dokter menganjurkan untuk bayi tabung agar bisa membantu dalam proses pembuahan. Tapi, sekali lagi aku tekankan netizen jaman sekarang mulutnya canggih-canggih. Selalu ada saja yang dikomentari. Jika usia telah cukup namun belum menikah-menikah, dibilang terlalu banyak milih. Jika sudah menikah, tetapi belum juga memiliki keturunan pasti akan digosipkan yang buruk-buruk. Contohnya, mandul. Lalu jika sudah menikah, punya anak tapi dengan cara bayi tabung pasti komentar netizen akan sama seperti apa yang kupikirkan kini. Mentang-mentang kaya, proses bayi tabung sama kayak beli kacang di pinggir jalan. Gampang banget. Serba salah bukan. "Kamu udah makan?" tanya Ibuku. "Enggak laper, Bu," jawabku singkat. Karena aku tidak ingin terlalu lama berbicara dengan ibu saat ini. Pikiranku sedang kusut. Takut-takut nantinya malah salah bicara, membuat ibu terluka.  "Tadi Zia telepon ibu loh. Katanya ibu diminta lihatin kamu di kamar. Takutnya kamu nangis. Tapi enggak mungkin lah anak ibu yang paling kuat nangis. Kalau kamu ikutan nangis, malah tambah kacau kan," goda ibuku sambil tersenyum manis. Walaupun beberapa tanda keriput di sekitar area matanya sudah jelas terlihat, namun bagiku ibu tetaplah perempuan yang cantik. Bukan hanya fisiknya yang kupuji, tetapi hatinya juga. Dia bisa menjadi ibu, teman, sahabat, bahkan musuh sekalipun. Kadang dia ikut bersekongkol dengan ayah jika aku dan Zia mulai nakal. "Benarkan kamu enggak nangis? Toh kalau kamu nangis juga enggak merubah apapun. Keadaan ini tetaplah sama. Zia tetap sakit. Dan kamu tetap nakal, sulit sekali disuruh ibadah. Jadi menurut ibu, menangis bukanlah jalan keluar terbaik untuk saat ini." "Bu," "Apa?" tanya ibu cepat. Kami beberapa saat terdiam, sebelum ibu bersuara kembali. "Udahlah semua masalah ini jangan kamu jadikan beban dalam hidup. Bukannya tadi kamu sudah mengantarkan Zia ke dokter. Pasti dokter bilang dia akan sembuhkan? Lalu apa yang perlu ditangisi lagi? Semuanya akan kembali baik-baik saja," ucap ibuku yang kutahu sedang membohongi dirinya sendiri. "Iya, semua akan baik-baik saja," sahutku dengan suara serak. Kepalaku kembali tertunduk. Aku kembali menangis, namun tanpa air mata yang sepertinya telah habis. Di sini aku hanya bisa berdoa semoga semuanya apa yang telah direncanakan dapat berakhir sempurna. Aamiin.   ***   Selama hampir 3 bulan Zia berobat rutin kepada dokter yang menjanjikan bisa menyembuhkannya. Awal-awal kedatangan Zia semua harapan terasa begitu jauh. Beberapa tindakan pengobatan pun sudah Zia lakukan. Namun kondisinya belum dikatakan 100% sembuh. Beberapa kali aku yang menemani Zia untuk berobat. Jika memang pak Firman sedang berada di luar kota. Tetapi tak jarang kami pergi bersama-sama. Aku mengikuti mereka berdua seperti anak kecil yang selalu ingin tahu keadaan. Yah maklum saja, aku ingin selalu ada untuk Zia. Karena memang hanya itulah yang mampu aku lakukan untuknya. Meskipun kehadiranku memang tidak mengubah apapun. Tapi setidaknya Zia tidak pernah sendirian menghadapi cobaannya. Sambil membereskan barang-barangku, aku mencuri pandang ke arah ruangan pak Firman. Pintu kaca itu masih terbuka, menampilkan wajahnya yang begitu serius menatap layar monitor. Malam ini aku berniat akan menginap di rumah mereka. Sebelum besok sabtu, menemani Zia kembali untuk berobat. Serta menentukan kapan proses bayi tabung bisa dilakukan. Sungguh aku bersyukur ketika terakhir kali kami ke dokter untuk melakukan pengobatan, dokter tersebut berkata bila Zia sudah bisa melakukan bayi tabung. Meskipun awalnya pak Firman tidak setuju akan hal itu, tetapi sepertinya Zia berhasil membujuk suaminya untuk bersedia melakukan program tersebut. Lagi pula aku pikir apa salahnya dengan bayi tabung? Sel telur dan spermanya pun dari mereka berdua. Sehingga tidaklah haram untuk dilakukan. Untuk itulah jika besok dokter tersebut telah menentukan tanggal yang tepat, maka Zia dan pak Firman akan melakukan program tersebut di Singapura. Untung saja Zia menikah dengan laki-laki kaya seperti pak Firman. Kaya hingga bisa membiayai segalanya. Bayangkan saja setiap datang untuk kontrol pengobatan, biaya yang dikeluarkan berkisar 3-5 juta. Jika diharuskan melakukan tindakan, pastinya akan lebih besar dari itu. Memang sangat banyak biaya yang dikeluarkan. Namun kupikir akan seimbang jika pada akhirnya membuahkan hasil yang sempurna. Ketika aku melihat pak Firman bergerak keluar dari ruangannya membawa tas hitam yang berisi laptop, buru-buru aku mengejarnya. Beberapa karyawan laki-laki yang kelakuannya lebih-lebih dari seorang perempuan menggoda diriku karena mendekati suami kembaranku sendiri. Loh memangnya ada yang salah atas apa yang kulakukan? Aku hanya ingin menumpang dengannya. Tujuan kami pun sama, pulang ke rumah. Lagi pula sebelumnya aku sudah memberitahu Zia lebih dulu. Bahkan dialah yang memintaku untuk datang bersama suaminya. "Pak, " panggilku kencang. "Iya, Za. Kenapa?" "Hehehe, biasa. Bareng," cengirku lebar. "Mau nginap lagi?" "Yo, jelas dong. Besok kan Zia harus cek up. Sebagai kakak yang baik, aku harus menemani dia." Aku merasa bibirku tersenyum begitu lebar. Apalagi pak Firman membalasnya dengan senyuman juga. Hingga kami terlihat seperti orang gila yang saling melempar senyum. "Ayo," ajaknya. Aku berjalan satu langkah di belakangnya. Tanpa mengganggu dirinya jika tak sengaja bertemu dengan beberapa pegawai lain yang menegurnya. Karena aku pun tahu diri. Rasanya akan terasa aneh berjalan bersisian dengan seorang bos sekaligus suami dari kembaranku sendiri. "Za, terima kasih," ucapnya yang samar-samar aku dengar. "Apa Pak? Terima kasih?" "Iya. Terima kasih selalu melakukan yang terbaik untuk Zia." Aku tertawa geli. "Harus dong Pak. Berbuat baik itu penting. Saya sih melakukan semua ini bukan hanya karena Zia adik kembar saya. Tapi ... saya melakukan ini untuk diri saya sendiri. Karena jika saya diposisi seperti itu, namun harus berjuang sendirian mungkin saya enggak akan sanggup Pak. Jadi karena saya berharap kelak akan selalu ada yang menemani saya, maka saya melakukan semua ini. Itu yang sering ayah saya bilang. Sebelum kamu berharap sesuatu kepada orang lain, berikanlah harapan itu untuk orang lain." Kulihat Pak Firman cuma bisa tersenyum menanggapinya. Sebenarnya dia paham tidak atas apa yang kukatakan? Batinku menggerutu. "Saya yakin kamu enggak akan pernah merasakan sendirian." "Dih, Bapak sok tahu. Kata siapa?" "Kata saya barusan. Karena saya tahu, sejak di dalam rahim, sampai besar, anak kembar pasti akan hidup bersama kembarannya. Kecuali..." "Kecuali apa?" tanyaku semakin penasaran. "Kecuali salah satunya diharuskan pergi lebih dulu," ucap Pak Firman yang membuat bulu kudukku merinding. ----- continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD