Bab 19

1162 Words

Terkadang bodohnya kita adalah ketidak tahuan kita tentang orang-orang yang tulus mencintai kita. Karena mereka hanya diam dan tidak ingin ikut campur dalam keputusan yang akan kita ambil. Namun ketika menyesal atas keputusan tersebut, mereka adalah orang-orang terdepan yang akan merangkul kita dalam kesusahan.    Langkah kaki terasa melayang karena pikiran ini entah pergi ke mana. Kata-kata Zia sudah begitu melekat di otakku. Kupikir saat malam itu, hanyalah sebuah ketakutan aku saja yang tidak beralasan. Tapi tadi semua terasa jelas. Zia memang ingin sekali membunuhku. Menjerumuskanku ke dalam lubang masalah yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana akhirnya. Untung saja tadi ibu cepat-cepat memisahkan tubuhku dari Zia. Entah kalau sedikit saja ibu terlambat. Mungkin Zia sudah kuce

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD