Entah apa alasannya, ketika dia yang hadir tak mampu membuatmu luluh. Namun kau malah memilih untuk berjuang ditengah luka yang tak berdarah untuk sosok lainnya. Setelah bertukar pikiran dengan Jek, aku bukan menjadi semakin tenang. Melainkan semakin dibuat pusing. Kadang aku ingin nekad untuk pura-pura buta dan tidak ikut campur lebih dalam. Mengikuti kata ayah dan ibu bila apapun yang dikatakan Zia hanyalah sebuah kekecewaan akan penyakitnya kini. Namun disisi lain, kadang aku juga ingin sekali membantunya. Menjadi sosok yang tetap setia disisinya. Memberikan apapun yang bisa membuatnya bahagia, meskipun aku tahu pastinya akulah yang terluka. Tetapi tak mengapa. Bukankah memang seperti itu arti perjuangan seorang kakak. Dulu, ketika aku masih kecil. Beberapa orang temanku yang mem

