Gugatan cerai yang diam-diam gue layangkan melalui kuasa hukum, membuat keluarga besar gempar. Mama Erna ke rumah dengan berderai air mata, memohon agar gue mencabut berkas gugatan tersebut. Sementara ibu suri yang baru mengetahui putrinya ini telah menggugat cerai menantunya, langsung mencak-mencak kalap. "Kamu itu gegabah, Alma. Bisa-bisanya main layangkan gugatan tanpa konsultasi ke Mama?" teriaknya murka. "Apa Mama kamu sudah almarhum? Kamu langkahi begitu saja, tanpa menghiraukan keberadaan Mama." "Sudahlah, Ma. Kita hargai keputusan Kak Alma. Dia sudah dewasa." Bambang berusaha menenangkan ibu suri dengan mengelus punggungnya. Kali ini satu-satunya manusia yang mengerti penderitaan gue hanyalah Bambang. Semua orang berpikir kalau gue menceraikan Erfan karena tidak tahan mend

