"Erfan!" desis gue bercampur syok. Dari sudut bingkai jendela kaca salah satu kamar rumah sakit elit di Singapura. Gue melihat lelaki yang gue cintai sedang meringkuk di lantai. Sekelilingnya berantakan, seolah ada seseorang yang baru saja mengobrak-abrik tempat itu. Tatapan Erfan kosong tapi penuh kecemasan. Dia mengigil dan gemetar. "Apa yang terjadi pada Erfan?" Gue bertanya sambil mengguncang lengan Reno. Pemuda yang patut gue cemburui itu menundukkan wajahnya. "Dia jadi seperti ini karena terjadi stres berat di tengah proses pengobatan." Reno mengangkat kembali wajahnya untuk memandang Erfan, "Kata dokter depresinya merupakan mekanisme pertahanan diri." "Gu-gue belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Tolong jelaskan dari awal, Ren." "Lo yakin mau denger dari

