Kencan Pertama

982 Words
            Gue itu sudah minta Erfan untuk ketemuan di luar. Enggak usah repot-repot jemput gue dan memenuhi semua protokol ibu suri. Toh kita cuma akan makan malam. Enggak berencana pergi ke Bali atau honeymoon ke Bora-Bora. Tapi Efran tetap saja nekat datang ke rumah untuk menjemput gue.   Di ruang tamu gue yang didominasi warna putih-putih melati. Ibu ratu duduk menyilangkan kaki di sofa mehong warna abu di depan gue dan Erfan. Cem ratu beneran lagi ngasih petuah di atas singgasana. Tanpa peduli rakyat di depannya tengah men- derita menahan lapar, hanya bisa menyeruput teh yang sudah tak lagi hangat karena obrolan yang enggak bisa dipotong. Alhasil, sampai lewat jam makan malam, mama gue belum selesai menuturkan wejangannya. Perut gue sudah live show ke- roncong metal, Genks. Maklum sudah hampir pukul 20.45 WIB.   "Mah, aku sama Erfan makan malam di rumah aja deh kalau gini caranya." Akhirnya gue menyela beliau, meskipun wajah Erfan memberi isyarat ke gue untuk tetap tenang dan berpangku tangan.   "Astaga, Mama lupa kalau kalian mau jalan. Habisnya ngobrol sama Nak Erfan ini menyenangkan sekali. Apapun topiknya pasti nyambung."   Hadehhhh, iyalah nyambung. Orang mama nyambung- nyambungin terus apapun yang enggak nyambung.   Mama berdiri, disusul gue dan Erfan. Kami diantar sampai depan pagar, eh enggak ding. Mama gue yang lebay itu tetap berdiri kayak patung pancoran di depan rumah sampai gue masuk mobil. Bahkan sampai mobil Erfan berlalu.   Nganggur nggak tuh?   Oke, lupain mama. Mari kita bahas perjalanan gue yang telat kebangetan ini. Erfan belum berkata apapun sampai jarak kita satu kilometer dari rumah gue. "Jadi kita mau ke mana?" Karena gatel, gue memutuskan membuka obrolan terlebih dahulu.   Masih fokus menyetir, Erfan menjawab, "Kamu tidak keberatan 'kan kalau kita ke restoran cepat saji saja?"   Kruyuk ... Kruyuk ... Kruyuk................   Eh, ada bebunyian. Suara absurd yang datangnya dari perut Erfan, sesaat setelah dia jawab pertanyaan gue. Hehehe, gue enggak bisa menahan tawa. Sementara Erfan hanya mampu meringis malu.   "Santai aja, gue juga sudah kelaparan banget, kok," jawab gue berusaha membuat kami tidak canggung. "So, gue setuju kita ke restoran cepat saji. Kebetulan ada tuh yang deket sini."   Senyum Erfan terbentang bersama hela napas leganya. Uhh, tambah cakep aja nih cowok.   Kami tidak butuh waktu lama untuk tiba di restoran yang terkenal dengan ayam gorengnya itu. JFC, jomlo fried chicken, hiyakkkkks. Di-sleding jomlo nanti gue.   Setelah turun dari mobil, Erfan meminta gue untuk mencari tempat duduk, sedangkan dia pamit untuk memesankan maka- nan. Gue sih setuju saja. Gimana baiknya, deh. Gue memilih meja di sebelah dinding kaca, berisi empat kursi, yang pasti di ruang khusus bebas rokok. Demi AC semriwing, hehehe. Tumben banget restoran ini sepi jam segini.   Padahal ini malam minggu, lho. Apa jangan-jangan stok jones di lingkungan gue lagi menjamur ya. Beneran, kalau dihitung-hitung pasangan yang gue dapati makan di sini kurang dari sepuluh pasang.   Asumsi dan observasi unfaedah gue buyar pas Erfan datang dengan satu nampan makanan. "Melamun?"   "Ah, enggak kok. Gue cuma lagi gabut aja." Garuk-garuk kepala, buat menutupi kegugupan gue. Aneh aja gitu, cuma kepergok melamun gue udah hampir salting. Padahal ngelamun dalam rangka menghitung jumlah stok jones 'kan enggak dosa, yes?   Erfan duduk, membagi sebagian makanan dan minuman yang dia bawa untuk gue. Kemudian dengan sopan dia mempersila 'kan gue makan.   Doi kelihatan berbeda hari ini, semakin unyuk pakai kaos berkerah dengan celana jeans kopi s**u. Penampilan kasual menjadikan Erfan lima tahun lebih muda dari sosok yang gue lihat kemarin siang. Mungkin juga karena kemarin gue bertemu dia dalam busana super rapi. Maklum, katanya kemarin dia diculik pada jam kantor. Sepatu kulit berkualitas tinggi disemir dengan mengkilat, kemeja slim fit biru langit terpasang apik di tubuhnya. Menunjukkan setinggi apa kelas Erfan dalam kasta kehidupan. Tsah. Mama bilang Erfan seorang desainer interior sukses yang juga memiliki perusahaan mebel lumayan gede.   "Sebenarnya saya ingin mengajak kamu ke restoran yang lebih romantis. Tapi apa boleh buat, kita pergi terlalu telat."   Gue tersenyum mendengar penuturannya. "Gue bukan do- sen lo, gue juga bukan Bu Lurah," ujar gue, membuat Erfan berhenti mengunyah burger-nya.   "Maksudnya?" tanya Erfan yang sepertinya bingung.   "Maksud gue, elo nggak perlu pakai 'saya-anda' atau 'saya-kamu' kalau ngomong ke gue. Santai aja, pakai 'aku-kamu' atau 'gue-elo' justru bikin kita bisa lebih deket."   Erfan mengangguk siap. "Baiklah, saya-eh, aku...," cengir Erfan sembari mengoreksi kata gantinya. "Aku akan membiasakan pakai aku-kamu, ke kamu."   Gue tersenyum, lalu lanjut melahap nasi dan ayam goreng gue. Satu lagi poin penting yang gue dapat dari sosok Erfan. Ber- sama dia, gue sama sekali enggak merasa tertekan. Gue bisa jadi diri gue sendiri tanpa harus bersikap jaim atau apalah. Ya, semua itu karena Erfan dari awal terlihat mampu menerima seluruh ke- kurangan gue. Meski dia cakep, dia kayak nggak jijik gitu sama perilaku atau penampilan nyeleneh gue.   Langka 'kan cowok model gini? "Jadi, kapan kamu siap menikah?" Anyink! Gue nyaris keselek tulang ayam, dong. Ini cowok lempeng banget. Baru pertama jalan sudah nanyain kapan siap nikah aja.   "Apa enggak terlalu cepet?"   "Lebih cepet lebih baik. Toh, niat baik memang harus dise- gerakan."   "Tapi kita baru kenal tiga hari, Fan." "Terus kenapa?" "Memangnya elo suka, emmm maksud gue, cinta gitu sama gue?"   Erfan terdiam. Doi tampak mengaitkan jemari tangan kiri ke jemari tangan kanan untuk dijadikan penopang dagu. "Jujur," kata Erfan dengan nada ragu, "Aku belum punya perasaan seperti itu ke kamu." Sudah gue tebak!   "Tapi apa salahnya kita menikah dulu, cinta bisa tumbuh karena terbiasa bersama."   So sweet enggak sih? Apa cuma gue yang merasa dia se- dang membual? Nikah tanpa cinta, hello!?   Entah kenapa, ini satu-satunya pendekatan yang paling mulus yang pernah gue lalui. Semua kayak mimpi dan bikin gue merasa terbang ke awang-awang. Membuat jantung gue khayang, meriang, merangsang, menerawang, sampai goyang Karawang.   Duh, gue jadi bambang, eh bimbang. Enggak tau harus gimana?   Jujur, gue pingin nikah. Kebelet malah. Tapi kok perasaan gue nggak enak ya. Gue takut dapet PHP atau zonk gitu.   "Kalau kamu siap, saya akan meminta orang tua kita mem- persiapkan semuanya."   _-_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD