Akibat Lamaran Erfan

1175 Words
Lamaran Erfan semalam bikin gue gelisah, hipertensi, serangan jantung, tekanan batin, bangkit dari kubur, naik haji, taubatan nasuhah, membangkitkan Iron Man. Eh, tunggu, semalam itu bisa disebut lamaran enggak sih? Iya 'kan, doi ngajakin gue nikah. Malah nanya kapan gue siap. Tapi kok enggak seromantis kayak di drama-drama Korea, ya. Ah, sudahlah. Kagak romantis saja bikin gue kepikiran terus, gimana kalau romantis? Bisa menggeliat-geliat kali gue, kayak ulat diolesi Counterpain. Akibat suara sama wajah Erfan terus membal-membal di benak gue. Semalam suntuk gue enggak bisa tidur dongs. Gue ngegabut memandang atap kamar, lemari, jendela, lantai. Berharap ada penampakan mencekam yang bikin gue segera melarikan diri dengan cara tidur. Nyatanya sampai Adzan subuh berkumandang, gue tetep sibuk memikirkan Erfan. Apa gue kena jampi-jampi, ya? Ah, tapi enggak mungkin banget dia rempong-rempong jampiin gue. Orang tanpa jampi pun gue udah terkintil-kintil. Sue! Murahan banget gue jadi cewek! Biar kata tidur jam lima, gue tetep harus bangun sebelum jam sembilan. Soalnya hari ini gue punya janji dengan cellebgram yang gue endorse buat promosikan barang butik. Gue yang syudah syantik jelitah, turun, menuju meja makan. Sarapan itu hukumnya wajib sebelum keluyuran. Soalnya kalau perut gue kosong, otak ikut-ikutan gesrek. "Bambang. Tumben hari minggu elo di rumah?" tegur gue pada adik gue yang lebih dulu menjajahi meja makan. Kayaknya dia juga baru bangun tidur. Mukanya masih b***k dan semrawut. Enggak takut apa ngeliat bayangan sendiri di meja? Kok bisa? Secara, Meja makan keluarga gue tuh mehong. Terbuat dari kayu jati asli berpelitur putih. Dilapisi kaca lima mili di atasnya, bisa buat ngaca. Ya, walaupun enggak jelas-jelas amat sih bayangannya. "Mau tau aja lo, Suketi!" Adik gue menjawab sambil pamerin monyongnya yang seolah minta dikepang. Kami memang enggan memanggil satu sama lain dengan nama sebenarnya. Karena sebenar-benarnya, dia memang lebih cucok dipanggil Bambang daripada Marcello. Anyway, gue dan Bambang selisih tujuh tahun, tapi kalau kami jalan berdua, gue jamin dua ratus persen orang-orang akan mengira kalau gue yang adiknya. Soalnya gue bogel, jadi lebih imut. Hiks. Pembantu gue yang bulet kayak Nyonya Puff di film kartun SpongeBob. Ngambilin piring dan segelas air tanpa gue minta. Satu hal yang gue suka dari Nyonya Puff, eh. Bik Sumi— pembantu yang sudah bekerja dengan keluarga kami selama hampir dua belas tahun—yakni pengertian. Dia cekatan, paham apa yang harus dilakukan dan apa yang enggak boleh dilakukan, tanpa harus kami jelasin, eh. Kan, jelaskan. "Kalau gue nikah sama cowok yang baru gue kenal tiga hari yang lalu, menurut lo gimana?" "Berarti lo dapat hidayah, atau mungkin ... dukun mamah kali ini beneran sakti!" Bambang jawab pertanyaan gue tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel. Gue mulai menyendok plecing kangkung ke piring gue. Sambil terus ngobrolin keresahan hati ke adek semata wayang.  "Gue serius, Bambang! Menurut lo, gue bakal nyesel apa kagak nikah terlalu cepat?" Adik gue berdiri selesai makan. Dia berjalan ke tempat  cuci piring untuk mencuci tangan kanannya. Sementara tangan kiri masih setia menggenggam ponsel. Gitu deh anak muda zaman now, susah jauh dari gadget. "Usia 32 lo bilang terlalu cepat menikah? Eh, Suketi! Elo mau nikah kalau udah umur seribu taon?" Gue yang baru mengunyah sendok terakhir dari plecing kangkung yang sedari tadi gue gado, terpaksa tersedak. "k*****t!" umpat gue sambil melempar sendok nasi berbahan plastik ke arahnya. Gue beneran salah memilih tempat curhat. SALAH BESAR! Bukan dapat solusi atau pencerahan, gue malah menuai bully. Coba si Bambang bukan saudara kandung satu-satunya yang diwariskan almarhum papa, pasti sudah gue geprek jadi sambel ijo tuh anak. "Alma, Ello," bunyi mama gue yang lagi jalan ke arah kami. "Kalian ini pagi-pagi sudah ribut." "Bambang nih, Ma!" "Suketi duluan, Ma!" "Hello! Siapa ya Bambang sama Suketi itu? Perasaan, Mama sama Papa tidak pernah ngasih nama kayak gitu." Oke, gue dan Bambang saling memandang. Kami tahu bahwa urusan akan berbuntut panjang jika ibu suri sudah bangun. Karena itu kami kompakan akur selama di depan mama. "Hehehe, aku tuh cuma bahagia banget akhirnya ada yang ngajakin Kak Alma nikah. Makanya aku godain. Gitu, Ma," elak Bambang yang saat ini memeluk gue dari belakang. Jahanam adik gue satu ini. Modusnya peluk-peluk, padahal tujuan utamanya cuma ngelapin tangannya ke baju gue. Najis! "Tuh, kamu denger 'kan, Al. Adik kamu itu cuma bercanda, jangan sensitiflah." Bisa-bisanya mama belain Bambang. Coba mama tahu apa yang tadi didalilkan adik gue. Mama duduk di kursinya, adik gue juga kembali ke kursinya. "Lagian mau nikah masih aja dilema. Happy dong, Kak!" Gue nggak tanggapin Bambang. Mending lanjut ambil lauk pauk ke atas piring gue. Telor mata sapi, ayam bacem, tahu, tempe. Beginilah gue, kalau pagi cuma makanin sayur dan lauk. Makan nasi cuma siang hari. Bukan diet, bukan pula cacingan! Tapi memang perut gue kurang bersahabat sama nasi di  pagi hari. Sering gue kena gangguan pencernaan kalau sehari makan nasi tiga kali. Mungkin gue lebih cocok jadi anak bule, hehehe perutnya lebih suka makan roti atau makanan lain selain nasi. "Kamu suka Nak Erfan kan, Al?" "Udah jelas, Ma!" Adik gue sabotase menjawab. "Mama nggak nanya kamu, Bambang!" Huahahhaha. Sumpah gue ngakak pas mama ikut-ikut panggil adik gue dengan nama Bambang. Mana muka dia langsung mengkerut gitu, kayak habis maskeran Kalpanax. "Swuka, twapi mwasih rwagu, Mwa." Gue telen dulu ayam yang gue kunyah sebelum lanjut, "Secara Erfan masih cukup muda dan aku akui dia ganteng banget. Apa gitu alasan dia mau dijodohin?" "Bener juga analisis Suketi. Apa alasan cowok itu mau sama cewek blangsak kayak gini?" Komentar adik gue membuat mama geregetan seolah ingin meremas mulut lemesnya. "Mulutmu minta dikruwes, El?" Gue ngakak lagi dongs. Keluarga gue memang bukan keluarga cemara yang utuh dan harmonis. Namun, biar kata ini adalah keluarga beringin, yang kalau siang meneduhkan, kalau malam horor. Gue bahagia jadi bagian dari keluarga ini. Gue lanjut bicara saat adik gue sudah terbirit pergi. "Erfan juga sudah kaya, jadi enggak mungkin dia deketin aku cuma karena harta. Terus kenapa dia ngajak cepet-cepet nikah, aku tuh masih bingung, Ma?" "Bisa aja dia naksir kamu, Al." "Sudah Alma konfirmasi, Ma. Dia itu belum sampai ke tahap cecintaan." "Tapi kalau mengulur waktu lagi, gimana kalau Erfan akhirnya memilih pergi. Rugi di kita dong, kamu nggak jadi nikah," nasihat mama ngeri bet, dah. Bikin gue ketar-ketir. "Iya, Neng. Jalanin saja dulu, jangan lewatkan kesempatan. Saya lihat Den Erfan sopan dan baik, masa orang seperti itu punya niat jahat." Bik Sumi yang kami anggap seperti keluarga sendiri ikut memberi masukan. Gue terima dan hargai nasihatnya. Sama sekali tidak ada pikiran dia lancang atau apalah. Karena bagi gue Bik Sumi juga bagian keluarga ini. Cuman .............. Gue enggak tahu. Gue pengen nikah untuk menyelamatkan harga diri sekaligus mengentaskan gelar jones yang terlalu lama gue sandang. Tapi firasat gue beneran nggak enak, Genks. Enggak tau kenapa? Hasrat ingin menikah dan firasat bahwa pernikahan ini akan berakhir zonk tuh 50:50, gue jadi gegana. Haruskah gue call a friends? Masalahnya gue kagak punya temen. Dasar gue!  *** Ini adalah salah satu bab dari novel saya yang berjudul AKU MAH JONES, bisa kalian baca di Dreame juga. Kisah kocak perawan tua bernama Alma yang akhirnya menikah dengan pria homo, Genks. Cus main ke sana juga, ya.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD