Drama Sebelum Iya

1142 Words
Gue liburan! Ke perpustakaan nasional, Genks.   Keren 'kan?   Hmmm, antara nyentrik atau antik. Serah, deh. Gue ke perpustakaan yang diklaim sebagai perpustakaan dengan gedung tertinggi di dunia ini bukan buat baca buku.   Tapi melarikan diri.   Dandanan gue aduhai wadidaw. Rambut pirang yang hanya gue sisir tangan ini lupa tidak membawa karet rambut. Jadi ya terurai begitu saja, kaya bule stres. Sweater BTS warna baby pink gue kombinasikan dengan celana Yasmine berbahan baby-terry. Wadadaw anehnya, iye pan gue kabur ceritanya. Jadi ganti baju kek gini saja sudah syukur-syukur. Daripada gue pakai baby doll ke mari.   Sumpah ya, gue enggak tahan sama semua orang di sekitar gue. Mereka hanya mendorong gue untuk menikah tanpa memberi gue pencerahan atau solusi dari kegamangan hati ini. Tsahhhh. Sekali lagi ya, kalau sampai ada yang terus menekan gue buat nikahin Erfan, lebih baik gue bunuh diri. Biar arwah gue saja yang menikah sesuai tekanan mereka. Pokoknya, selama gue masih hidup dan bernapas, ogah banget gue nikah berda- sarkan paksaan.   Masalah utama keraguan gue sebenarnya bersumber dari kesempurnaan sosok Erfan. Kalau ganteng itu sebuah dosa, mungkin Erfan sudah di-cyduk dan dijebloskan ke neraka jaha- nam. Aneh aja gitu. Cowok modelan bintang K-Pop dengan wajah baby face nan kinclong, memilih manusia setengah enceng gondok setuwir gue. Mana bacot gue nyablak. Tingkah gue kurang adab. Enggak bisa masak. Sampai-sampai si Bambang muntah darah kalau makan telor ceplok buatan gue.   Katanya, "Enggak bisa lo goreng telor tanpa kulitnya, Suketi?"   Dasar adik durhakim yes. Sudah susah-susah gue gorengin telor, masih saja kurang bersyukur. Nasib baik bukan telor di balik celana die yang gue goreng!   Masih meresahkan masalah yang sama, dari executive lounge lantai 24, gue memandang panorama area Monas. Tampak tinggi dan tegar. Kagak kayak gue, sudah tubuh semampai, ketegaran pun menjuntai. Ah, semakin galau gue.   Ponsel gue bergetar lagi. Gue tengok sedikit, eh si Bambang. Tadinya gue pikir mama atau Erfan lagi yang nganggur teleponin gue. Ternyata adik somplak gue, ck terpaksa deh gue angkat. Bukan apa-apa ya. Gue ini kagak punya sahabat, kalau temen mah banyak. Sejak muda, gue cuma bisa cerita masalah gue ke Bambang. Ya meskipun dia sering ngeselin. Tetapi enggak bisa gue pungkiri kalau Bambang adalah satu-satunya pendengar setia gue. Asas masih butuh ini nih, yang membuat gue tidak bisa mengabaikan Bambang.   "Halo, ada apa, Bam?"   Sebelum suara Bambang tertangkap telinga gue, sempat gue dengar bising keramaian kendaraan.   "Di mana lo, Suketi?"   Malas gue menjawab, "Perpustakaan, kenapa?"   "Perpustakaan mana?"   "Perpustakaan Nasional, lantai 24, executive lounge, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Jelas, Pak?" Gue menjawab selengkap-lengkapnya karena kesal. Enggak salah sih Bam- bang nanya gue di mana. Cuma mood gue memang sedang buruk, jadi bawaannya semprot makhluk-makhluk astral kayak Bambang.   "Oke, lo jangan ke mana-mana ya. Tungguin gue mau ke sana. Ada urusan urgent!" Aneh!   Jam segini bukannya Bambang lagi kuliah? Ada perlu apa tuh anak?   Bodo ah, biarin saja Bambang mau ke mana. Gue bukan emak atau dosennya dia ini. Eh, tapi gue kakaknya, ding. Mana boleh gue biarin adek gue ninggalin jam kuliah demi sesuatu yang enggak jelas. Biar kata gue dulu juga sering TA alias titip absen, tapi gue tidak bisa membiarkan Bambang mengikuti jejak gue. Setidaknya dia harus lebih semangat buat bolos.   Cepet-cepet deh gue kirim pesan ke adik semata Barbie. Bertanya apakah gerangan yang bikin dia repot-repot mau nyamperin gue. Eh k*****t, cuma centang dongs w******p dia.   Bodo amat dia mau ngapain. Mau ke sini, mau ke sana, mau salto. Kebetulan juga gue butuh teman curhat, biar deh Bambang menumbalkan telinga kali ini. Lumayan lah, pucuk dicinta teh hitam tiba, ehehehe. Sekitar dua puluh menit setelah  gue menutup panggilan dari Bambang. Hal ghaib terjadi!   "Alma!"   Suara seseorang yang baru saja memanggil gue, bikin bulu kuduk gue meremang. Dia bukan dedemit atau lelembut penunggu gedung ini, jelas bukan.   "Saya, eh aku." Dia berusaha mengatur napas. "Aku khawatir banget sama kamu."   Khawatir? Emang gue diculik Jin? Mikir-mikir kali itu Jin mau culik gue. Hadehhhh.   "Kenapa tidak angkat telepon dari Mama kamu?" Gue masih mematung, sementara dia menggoyang-goyangkan bahu gue dengan kedua tangannya—yang ternyata kekar.   "Gu-gue cuman ...." Sudahlah, otak gue langsung kosong tatkala retina mata ini terpapar wajah tamvan Erfan. Dia mengenakan kemeja merah jambu, lengkap dengan dasi merah maroon. Apa Erfan kabur dari kantornya, cuman demi gue?   "Kamu juga mengabaikan panggilanku. Kenapa, Alma?" potongnya.   "Oke, lepasin gue dulu, woles, jangan panik. Kita bicarakan baik-baik, ya."   Mungkin Erfan sadar kalau sikapnya bisa dibilang lebay. Kami tidak mau jadi tontonan orang. So, dia akhirnya bersikap lebih santuy.   Kami pun duduk bersisian. Sama-sama memandang ke depan, menikmati ketangguhan Tugu Monas dalam menghadapi sengatan matahari siang ini.   "Kamu tidak mau menikah denganku?" tutur Erfan dengan wajah memelas.   Gue jadi segan sendiri membuat anak orang sampai seputus asa itu ekspresinya. "Gu-gue cuma masih berpikir." Kenapa gue harus tergagap jawabnya, duhhh.   "Apa yang membuat kamu ragu?"   "Ya, gue enggak habis pikir aja. Hubungan kita selempeng ini." Angin yang cukup kencang membuat rambut gue berantakan. Erfan dengan lembut membenarkan poni gue.   Mampussssss! Digituin doang rasanya kayak kesetrum ubur-ubur Ragunan.   "Just do it! Don't think too much," bisiknya terdengar sangat sangat sangat mesra. Apaan sih gue. Hiks.   "Apa yang harus gue lakukan?" "Berkomitmen."   "Tanpa membuka hati?"   "Kamu butuh cinta?"   "Tentu, siapa yang menikah tanpa cinta?"   "Kita!" Wajah yakin Erfan berangsur memudar ketika gue teguh dengan tatapan tajam. "Em, maksudku, kita menikah dulu, lalu belajar saling mencintai."   Gue masih menatap tajam Erfan. "Kenapa lo buru-buru banget mau nikah sama gue? Sebutkan alasan yang bisa gue pahami dan bisa gue terima."   "Harus aku katakan, usiaku tidak lama lagi?" Gue syok denger jawaban dia. Astagaaaaaa.   "Haruskah aku katakan Mama atau Papaku sakit parah dan memohon padaku untuk menikah sebelum mereka meninggal? Atau aku harus mengarang cerita adat, bahwasanya adikku mau nikah tapi tidak bisa menikah karena menunggu aku menikah terlebih dahulu?"   Kampret! Ternyata Erfan sedang berandai-andai. Gue sudah nyaris jantungan ini, Pak. Sueee, Ente mah.   "Aku tidak akan mengarang cerita apapun jika itu akhirnya hanya akan membohongi kamu, Alma. Alasanku ingin segera menikah, karena aku merasa kita akan cocok." Erfan memijit pangkal hidungnya yang tegak. "Terus terang aku lelah dijodohkan dengan beraneka ragam wanita. Aku harus memutuskan untuk mengakhiri."   "Banyak wanita ... hmmm kenapa harus gue? Maksud gue, kenapa lo akhirnya pilih gue?" Alis gue naik satu. Ngepot dikit demi menelanjangi kejujuran dia, Bok.   "Karena kamu tangguh. Eum, maksudnya karena menurut aku, kamu bukan gadis yang manja. Saya melihat kamu sosok yang kuat dan mandiri."   Aing kuat? Hahaha Abang salah kaprah, Bang. Belum lihat gimana gue nangis berok-berok sih. Kalau ada lomba nangis mah, cute girl pasti sudah menang tingkat kelurahan.   Gue mengangguk. Intinya gue tahu ada beberapa sisi dari diri gue yang Erfan demenin. Ya, sudah deh. Gue mau coba saja. Toh menikah memang cita-cita gue.   "Oke, deh. Kita nikah!"   Mata Erfan membulat, sesaat kemudian bibirnya menyuguhkan senyuman lega. Duhhh makin ganteng aja nih orang, dedek jadi semakin lemah iman. Errrrrrr!   "Seriously?"   _-_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD