"Saya terima nikah dan kawinnya Alma Makaila Syifa binti Nurhan dengan maskawin seperangkat alat shalat dan seperangkat perhiasan dibayar tunai." Erfan menyelesaikan akad dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana saksi, sah?" tanya penghulu kepada seluruh hadirin yang menyaksikan pernikahan kami.
Sah ... Sah ... Sah....
Suara para tamu undangan bersahutan. Isak tangis menguar dari mama gue dan kedua orang tua suami gue, Erfan Julian. Akad sederhana yang hanya didatangi keluarga terdekat dan petugas KUA ini terasa begitu khidmat.
Satu langkah penting dalam hidup gue sudah gue lewati. Gue akhirnya tobat jadi anggota sekte pengabdi jomblo. Hehehe, sesekali biarlah kebahagiaan gue ngegas dikit. Namanya juga anak perawan—nyaris kadaluarsa—akhirnya nikah.
Gue mencium punggung tangan Erfan, selepas dia me masangkan cincin kawin kami ke jari manis gue. Kemudian dengan hangat dia mengecup kening gue. Awwwwww. Kita sudah seperti pasangan bahagia yang menikah karena saling cinta. Padahal, beberapa saat sebelum pernikahan ini terlaksana. Sempat ada drama kecil yang bikin gonjang-ganjing keluarga gue dan keluarga Erfan.
Hehehe, gue sempat menolak, memberontak, dan melarikan diri ke perpustakaan nasional.
Kenapa perpustakaan? Jangan nanya, soalnya gue sendiri kagak tahu jawabannya. Asal kabur aja gue mah, gegara semua orang desak gue buat kawin. Berhari-hari gue diwejangi nasihat tentang pamali menolak jodoh. Enggak keluarga gue, enggak keluarga Erfan, mereka terus merongrong gue.
Duh, gue berasa nista banget kalau kawin dengan dasar desakan keluarga, Genks. Secara menikah itu urusan berbagi hati, ideologi, body, dan gono-gini. Gue harus punya setidaknya satu pegangan untuk mempercayakan hidup gue ke Erfan.
Jadi, akibat drama kecil, akhirnya gue tahu bahwa Erfan memilih gue karena gue watang; wanita tangguh. Merasa setidaknya punya satu poin, membuat gue cukup yakin untuk melang- kah ke pelaminan. Setelah gue fix setuju nikah dengan Erfan, kedua keluarga besar pun rempong. Mama gue yang berkecimpung di bidang perbutikkan, mengambil tugas menyediakan gaun pengantin dan seragam untuk para keluarga. Sementara keluarga Erfan mendapat jatah mengurus tempat resepsi, dekorasi, termasuk catering-nya.
Acara akad dilaksanakan di masjid dekat rumah gue. Sedangkan resepsi dengan tema garden party kami adakan di Segarra kawasan Ancol.
Khusus resepsi, mama gue memesankan baju pengantin spesial ke salah seorang desainer kondang yang biasa bikinin baju para artis. Biar bagus dan cucok sama tempat resepsi yang mewah. Sebab buat kami mah harga enggak masalah, yang penting murah! Ehehe.
Sementara untuk akad, gue cuma pakai kebaya putih hasil nyewa di salon. Bukan enggak kuat beli kebaya, cuma sayang saja membeli sesuatu yang tidak akan gue pakai lagi nantinya.
Maklum, keluarga gue baru sampai level tajir doang. Bukan yang tajir melintir kayak artis atau pejabat gitu. Bagi kami menggelar pesta mewah memang penting, tapi jauh lebih penting adalah memperhitungkan. Apakah budget pesta akan balik modal sama amplop hadirin?
Jangan syok ya. Orang kaya memang patut perhitungan. Biar kekayaan kita tahan lama dan kekal abadi, huahahahaha.
Sebelum menikah, Erfan meminta gue untuk setuju tinggal di rumah yang sudah dibelinya. Mama Erna, ibu mertua gue juga bilang kalau rumah itu sudah siap pakai. Gue tinggal bawa baju doang. Soalnya mama sudah melengkapi perabotan rumah tangga di sana.
Nah, yang jadi masalah, rumah Erfan itu di Depok. Sementara butik gue di Mall Taman Anggrek. Biasanya gue berangkat dari rumah mama yang letaknya di Kemanggisan Utama ke Taman Anggrek cuma butuh waktu 10-15 menit. Kalau gue tinggal di Depok? Bayangin doang gue sudah ogah PP Depok-Taman Anggrek setiap hari. Itu sih masalah yang sampai detik ini masih belum gue mufakatin sama Erfan.
"Kamu cantik sekali, Alma."
Erfan memasuki kamar dengan setelah kemeja putihnya. Ganteng bener suami Nyai. Errrrrr, gue makin grogi nih.
Gimana fantastisnya malam pertama kami nanti ya?
Waras Alma, waras! Gue tabok akal sehat gue, biar segera kembali ke tempatnya. Sempat berpikir m***m ke suami sendiri kagak ada dosa-dosanya memang. Tapi gue harus mencegah diri ini berekspektasi lebih. Apalagi gue dan Erfan belum saling cinta, masa iye saling sosor, emang kite bebek?
Perias wajah gue menyambut Erfan dengan senyum ramahnya. Sementara gue yang masih dirias hanya bisa memberi jawaban, "Lo sudah siap?"
Erfan mengangguk. "Kamu masih lama?"
"Tinggal menata rambut, Mas." Si Mbak yang lagi nyatok rambut gue yang jawab.
"Oh, kalau gitu aku nungguin di sini saja ya," izin Erfan sambil menuju sofa di samping meja rias.
"Oh iya. Lo lihat Bambang, enggak?" "Bambang?!"
"Adik gue." "Marcello?"
Gue menghela napas. Erfan yang kelihatan pinter ternyata paok juga ya. "Adik gue siapa lagi sih, Fan? Ya cuma Ello alias Bambang. Gitu masih aja nanya."
Sesembak yang dandanin gue terlihat menahan tawa. Sedangkan Erfan hanya geleng-geleng sambil nyengir untuk tanggapin kekesalan gue. "Ello masih belum datang, kejebak macet katanya. Kamu ada perlu penting sama dia?" tanya Erfan sambil merogoh ponsel di saku celana.
"Penting enggak penting, sih." "Soal?"
Duhhh, gue jujur enggak ya. Masa iya gue bilang mau nyuruh Bambang beliin gue obat pencahar karena gue lagi sembelit. Gengsi, dongs. Tapi perut gue begah banget. Belum pup selama dua hari, nih. Kebiasaan kalau stres berat gue susah buang air besar. Mana kalau sembelit kentut gue bau Bantar Gebang. Ishhhh najis tralala-trilili. Bahaya siaga satu nih. Bisa pingsan semi sakaratul mauts kalau Erfan sampai gue kentutin. Pokoknya gue harus buang hajat sebelum acara resepsi dan malam per- tama kami. Tapi cuma Bambang yang bisa bantu gue saat ini. Gimana dongs?!
"Kamu baik-baik saja kan, Al?" tanya Erfan dengan wajah lumayan khawatir.
"Gu-gue "
Duh jujur enggak, ya?
_-_