Pertahanan Rinjani sudah runtuh. Luluh lantak seperti bangunan tua yang ambruk terkena angin kencang. Kini hanya berupa puing-puing yang berkeping. Setelah keluar dari kawasan pulau Serangan Rinjani menepikan motornya. Bachtiar masih berusaha menyusun kata agar anak gadisnya tidak semakin terluka. "Putra." Bisikannya terdengar lirih, Bachtiar mengelus punggung Rinjani. Sesaat kemudian kepala yang tertelungkup pada stang sepeda motor itu terangkat. "Maafkan ayah," bisik Bachtiar. "Ayah yang mengatur semuanya. Ayah yang sengaja mengundang mereka kemari." "Harusnya aku tahu," jawab Rinjani. "Harusnya aku tahu ini semua akan terjadi. Harusnya aku bisa lebih bijak dan dewasa." "Maafkan ayah." Sekali lagi Pria tua itu menghiba maaf dari putrinya. "Rasanya sakit sekali, Ayah. Rinjani tidak

