Rencana Anton

1011 Words

2 Bulan Kemudian Sebuah koper kabin berwarna kuning terang sudah terisi dengan beberapa lembar pakaian yang akan Putra bawa ke Bali. Kakinya masih sakit, tetapi lelaki itu sudah bisa berjalan dengan bantuan Kruk. “Jam berapa Anton jemput?” tanya Anis seraya menyerahkan sepiring melon yang sudah dipotong-potong. “Dua puluh menit lagi katanya, palingan mereka lagi di jalan.” Putra menjawab kurang antusias. Perjalanan yang Anton rencanakan benar-benar membuat dia kesal. “Jangan lupa daster yang ibu pesan, ya,” pesan Anis membuat Putra mencebik lagi. Pasalnya sejak semalam mereka berdebat, Putra malu jika harus membeli daster. “Kalo aku gak lupa, ya, Bu,” ucapnya malas. Sejak kecelakaan itu, Putra tidak pernah meninggalkan rumah. Inilah kali pertama lelaki itu meninggalkan rumah, itu pun

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD