Chapter 1
Selimut putih tebal yang sudah tak berbentuk menjadi saksi bisu tampilan tidur sang gadis. Dengan mulut sedikit terbuka dan juga rambut berantakan melengkapi penampilan wanita yang hampir berusia 30 tahun itu, ah tidak lebih tepatnya 28 tahun.
"Mira !!!" Teriak Ibunya dari luar kamar. Suaranya yang sudah pasti berasal dari dapur itu menggema hampir di seluruh ruangan rumah yang tak terlalu besar itu. Sudah beberapa kali Ibunya berteriak, tapi gadis itu masih saja tak berkutik dari tempat tidurnya. Mungkin malah jatuh semakin dalam di dunia mimpinya. Ibunya mulai jengah dan beranjak pergi ke kamar anak gadisnya itu.
Dengan satu gerakan yang lumayan kasar, pintu kamar terbuka dan sang Ibu kembali meneriakkan nama anak perempuan satu-satunya di keluarga itu. "Mira!!! Bangun sudah jam berapa ini hah? Kerjaan mu itu malah tidur saja sih!" Ibunya mulai membuang selimut putih tebal itu dengan asal.
Tubuh mungil wanita itu mulai menggeliat perlahan, berusaha membuka matanya yang terasa berat seperti di tempel oleh perekat. "Ibu, semalam aku begadang mengurus order beberapa desain kaos. Aku tidur sebentar lagi ya." Jawab wanita itu dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Ini masih pagi ! Nanti rejeki mu di patok ayam baru tahu rasa. Sudah cepat bangun, cuci piring sana!" Tukas Ibunya tak mau mendengar alasan anak gadisnya itu dan memilih kembali ke dapur untuk menuntaskan masakannya.
Wanita itu mulai bangun perlahan, kepalanya terasa sangat pusing dan berat karena kurang tidur. Perlahan ia bangun dari tempat tidurnya dengan keadaan masih setengah sadar. Mungkin lebih tepatnya separuh jiwanya masih tertinggal di alam mimpi. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Selesai mencuci muka, ia pergi ke dapur untuk mencuci piring sesuai dengan perintah Ibunya tadi.
"Kapan kamu mau bekerja lagi? Memang tidak bosan di rumah terus? Katanya kamu mau ke Jepang?" Ibunya terus meneror dengan berbagai macam pertanyaan sambil sibuk dengan masakannya. Gadis itu mengerucutkan bibirnya malas mendengar pertanyaan Ibunya yang sudah tak terhitung berapa kali di tanyakan itu. "Aku nggak mau kerja di luar rumah, aku mau kerja dari rumah saja." Ucap Mira sambil tetap fokus dengan kegiatan cuci piringnya. Mira sengaja menjawab dengan kata-kata seperti itu berharap agar Ibu atau Ayahnya tidak terus-terusan menanyakan hal yang sama berulang kali.
Ibunya sudah tak tahu harus bagaimana lagi menyikapi anak perempuan semata wayang nya itu. Tentu saja sang Ibu tidak ingin menuntut anaknya harus bekerja dan membiayai keluarga, tetapi dia ingin anaknya bisa melakukan suatu kegiatan yang menghasilkan paling tidak untuk dirinya sendiri.
Bukan hanya alasan klasik itu saja, tapi sang Ibu ingin anaknya bisa segera bertemu jodohnya dengan banyak berinteraksi di dunia luar. Salah satunya melalui lingkungan pekerjaan. Mengingat anak gadisnya itu sudah berusia matang dan siap untuk menikah, sudah tak lagi muda. Lagi, gadis ini tak mau di jodohkan dan lebih suka mencari pasangan sendiri.
Namun di sisi lain, bukan berarti Mira hanya berdiam diri. Dia bahkan sudah mengirim lamaran pekerjaan ke banyak perusahaan. Dia ingin murni masuk ke sebuah perusahaan karena usahanya sendiri dan tidak ingin menggunakan orang dalam yang notabene nya hal itu sedikit mustahil dalam pandangan banyak orang.
Seringkali ia lihat seseorang bisa masuk ke sebuah perusahaan karena campur tangan bos atau memang memiliki relasi dekat dengan petinggi perusahaan. Juga tak hanya itu, persaingan antar sumber daya manusia di dunia kerja saat ini sudah pun semakin ketat dan sulit.
Bukan Mira bodoh, ia bahkan selalu menduduki peringkat satu di kelasnya, ia juga lulusan dari universitas negeri ternama dengan nilai memuaskan. Namun tetap saja, nilai-nilai tinggi dan semua prestasi yang pernah ia raih itu rasanya tidak berguna sama sekali saat ini. Selepas berhenti dari pekerjaan lamanya karena sudah tak nyaman dengan lingkungan kerja yang monoton, ia harus menjadi pengangguran hampir satu tahun lebih karena tak kunjung mendapat pekerjaan juga. Lagi-lagi itu hanya soal peruntungan dan rejeki masing-masing.
Mira memang cuek, mungkin Ayah Ibunya menyangka anak gadisnya itu terlihat baik-baik saja. Seringkali dari luar terdengar anak gadisnya tertawa cekikan karena menonton acara favoritnya melalui ponsel pintar di dalam kamarnya.
Setiap hari kerjanya hanya di dalam kamar memainkan ponsel sembari mengerjakan beberapa proyek kecil lalu selebihnya membantu pekerjaan rumah Ibunya. Tapi di balik itu semua, ia juga menyimpan ketakutan tersendiri —hampir putus asa. Bagaikan seonggok sampah yang tak berguna, pikirnya. Masih muda, tak bekerja dan keinginan menggebu untuk segera menikah tetap tak terlaksana karena tak memiliki calon pendamping hidup.
Jangan kan calon, dirinya saja bahkan tak pernah memiliki teman lelaki yang dekat semenjak lulus kuliah, belum lagi saat ini ia jarang keluar rumah hanya untuk sekedar berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Mungkin bisa di katakan kehidupan Mira berwarna suram saat ini. Ruang lingkup hidupnya semakin sempit. Pikirnya setelah berusaha, selebihnya hanya bisa pasrah pada Tuhan yang mengatur kehidupannya itu. Karena ia juga tak bisa mengubah takdir seenak jidatnya. Ia tak dapat berbuat apapun kalau bukan karena pertolongan dari Tuhannya.
Selagi ia mengirim lamaran pekerjaan ke banyak perusahaan dan menunggu panggilan kerja, Mira mengisi waktu luangnya itu dengan melakukan beberapa pekerjaan online. Meski hasilnya tak sebanyak saat ia masih bekerja dulu, tapi pendapatan dari pekerjaan itu bisa ia gunakan untuk sekedar membeli kebutuhan pulsa bulanannya. Selebihnya, kebutuhan hidup Mira kembali menjadi tanggungan orangtuanya. Sungguh Mira pun tak mau seperti itu, ia sangat menyayangkan mengapa dari sekian banyak orang kenapa ia lah yang harus masuk dalam kategori pengangguran itu. Malang sekali nasib orangtuanya, pikir Mira.
Mira tentu tak ingin jadi beban terus menerus untuk orangtuanya, meski faktanya ia memang masih jadi tanggungan kedua orangtuanya. Ia ingin sekali membalas budi kedua orangtuanya dengan memberikan sedikit dari penghasilan yang ia miliki, meski kita tahu bahwa kita takkan pernah benar-benar bisa membalas budi kedua orangtua kita sendiri. Nyatanya jasa mereka untuk hidup kita takkan pernah bisa tergantikan oleh apapun, meski ditukar dengan berlian yang paling mahal di dunia sekalipun.
"Mira, tolong belikan Ibu kopi satu dus ya."
"Banyak sekali Bu, memang ada acara apa mau beli kopi sebanyak itu?"
"Besok ada pengajian Bapak-Bapak di masjid, sekalian lebihnya mau di simpan untuk stok di rumah."
"Oh ya sudah. Uangnya taruh dimana Bu?"
"Kamu ambil saja di kotak biasa."
Mira bergegas menuju kamar Ibunya dan mengambil sejumlah uang dari kotak cokelat yang biasa di pakai untuk menaruh uang. Setelah itu ia langsung mengambil kunci motor dan melesat ke minimarket.
Mira menjalankan motor birunya dengan santai. Tak sampai 10 menit ia sampai di tempat tujuan. Ia mulai mencari rak khusus kebutuhan minuman. Matanya mulai menjalar ke berbagai merk kopi yang ada. Setelah berhasil menemukan merk kopi yang di inginkan, Mira membawa satu dus kopi itu ke kasir dan membayarnya. Dengan gaya bak kuli bangunan, Mira membawa dus itu sendiri ke motornya.
Sampai di rumah, ia membawa dus kopi itu ke dapur. Ibunya menyuruh Mira untuk langsung membuka dan mengambil beberapa bungkus kopi dan menaruhnya di dapur. Saat membuka dus itu, Mira melihat selembar brosur undian berhadiah di dalam dus kopi tersebut dan membacanya sekilas.
"Bu, ini kopinya sudah aku pisahkan ya sebagian." Ucap Mira sambil menaruh beberapa bungkus kopi di dapur. Ibunya hanya mengiyakan dari ruang tamu.
Entah kenapa rasa penasaran pada brosur tersebut belum juga hilang, akhirnya Mira memutuskan membaca brosur itu kembali di kamarnya. "Wah ke Jepang ya? Ah tapi kan undian berhadiah seperti ini kemungkinan menangnya sangat kecil. Hmm... tapi aku coba deh buat kirim." Gumam Mira yang sedang berada di tempat tidurnya.
Selesai membaca brosur itu, ia kembali beranjak ke dapur untuk menyeduh kopi yang sebelumnya ia taruh. Ia hendak memakai bungkus kopi kosong tersebut untuk dikirimkan ke undian berhadiah itu.
Ia menyobek bungkusan itu dengan perlahan lalu menaruh isinya ke dalam cangkir kecil berwarna putih gading. Setelah itu ia mulai menuang air panas dari termos ke dalam cangkir lalu mengaduknya. Tak lupa ia memasukkan bungkusan kosong kopi tadi ke dalam kantung baju tidurnya.
Langkah Mira sempat terhenti saat Ibunya mendapati ia sedang membawa secangkir kopi.
"Ada angin apa kamu bikin kopi nak? Tumben sekali."
"Sedang ingin saja Bu. Hehe..."
Ucap Mira sambil memperlihatkan deret giginya yang rapi itu lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Mira segera menaruh cangkir kopi tadi di atas nakas. Ia pun melanjutkan tontonan nya di laptop yang ia taruh di tempat tidurnya. Sesekali sambil menonton, ia menyesap kopi yang ia buat.
Setelah acara favoritnya selesai di tayangkan, kini fokusnya beralih pada bungkusan kopi yang ada di kantong bajunya. Ia mulai memasukkan bungkus kosong kopi tersebut bersama biodata diri yang ia tulis di selembar kertas ke dalam amplop putih, menutupnya dengan perekat yang ada lalu tak lupa ia menuliskan alamat rumahnya di badan amplop.
"Bu, aku mau keluar sebentar ya."
"Mau kemana?"
"Aku mau jajan sekalian beli makanan kucing."
"Oh ya sudah hati-hati ya."
Dengan penuh semangat Mira menancap gas motor menuju minimarket. Ia melihat kotak undian putih berukuran sedang dengan merk kopi yang sama ada di dekat pintu masuk. Mira pun segera memasukkan amplop yang ia bawa ke dalam kotak undian tersebut. Setelah itu, Mira pun pergi ke toko makanan hewan yang tak jauh dari minimarket itu.