Si Kecil tak Berdosa
Suara gelak tawa sekelompok anak kecil yang sedang asyik main di sungai.
"Hei gantian naik perahunya", teriak gadis cantik berambut ikal melambaikan tangan pada temannya.
"Sebentar masih asyik" ucap ketiga temannya berbarengan.
"Ze, dicariin ibu kamu orangnya kayaknya marah marah ayo cepat pulang" ucap salah satu temannya dan berlari menuju jalan pulang di sertai Zea.
Zea mempercepat jalannya menuju rumah, takut bila sang ibu marah kepadanya. Sesuai dugaan ibunya sudah membawa sebuah batang kayu dan bersiap memukul Zea.
"Anak gak tau diri, dikasih tau jangan suka main kamu itu harus beresin rumah", ibu Zea berbicara dan memukuli Zea menggunakan batang pohon.
"Maaf bu maaf" ucap Zea merasa kesakitan atas tindakan ibunya itu.
"Kamu itu anak gak tau diuntung, masih untung ibu mau ngurus kamu, kamu seharusnya ikut bapakmu saja yang gak pernah ngerti kebutuhan kita, ibu menyesal mempunyai anak kayak kamu bandel gak bisa di atur", ibu Zea masih terus melakukan tindakannya tanpa berhenti.
Salah siapa ini, apa salah seorang anak yang tidak tau akan dilahirkan oleh seorang ibu yang seperti apa? dan juga tidak bisa memilih keluarga yang seperti apa?
Kehidupan yang akan ditempuh tidak dapat dipilih oleh zat yang diciptakan oleh Tuhan. Semua harus di pasrahkan dengan takdir yang ada.
Setelah puas dengan menghukum Zea, ibunya menyuruh membereskan beberapa pekerjaan rumah. Sebenarnya Zea bukan satu satunya anak ibu Ine, melainkan ada dua saudara lagi yaitu satu kakak perempuan dan satu adik laki laki. Kakak Zea memilih tinggal bersama budenya, sedangkan adik Zea masih balita berumur lima tahun lebih muda dari Zea.
Zea selalu merasa tertekan, dia merasa menjadi orang lain di dalam rumahnya. Ibunya selalu memanjakan adik serta kakaknya meskipun tidak serumah. Kehadiran Zea dirumah itu hanya seperti sebuah Benalu.
Kini Zea bersekolah ditingkat dasar, dia sudah harus bisa melakukan beberapa pekerjaan rumah. Zea tumbuh menjadi seorang anak yang nakal, dia sering mengambil uang sang ibu untuk kesenangannya. Dia merasa iri karena sang kakak selalu mendapatkan apa yang di inginkan sedang apa yang di inginkan Zea ialah hal yang mustahil yang akan di wujudkan oleh sang ibu. Memang perbuatan itu adalah hal yang sangat tidak baik, namun sebenarnya dulu saat masih tinggal bersama dengan ayahnya. Zea selalu di suruh ibunya untuk mengambil uang di dompet milik ayahnya, yang nantinya di berikan pada sang ibu. Itu dilakukan karena ayah Zea tidak pernah menafkahi keluarga meskipun memiliki penghasilan yang lumayan. Ayah Zea adalah seorang TKW, jadi beliau jarang pulang kerumah.
Mungkin karena itu, Zea terbawa melakukan perbuatan yang tidak baik itu, untuk mencari kesenangannya sendiri.
Dirumah Zea tidak pernah berbincang dengan ibu dan adiknya. Dia selalu menyendiri. Hari hari Zea di lalui dengan bermain bersama teman teman, meluangkan waktu untuk bermain di rumah teman.
Zea merasa rumahnya bukanlah tempat yang nyaman dan tidak bisa membuat merasa bahagia.
Dulu waktu ayah masih ada di sisinya, dia selalu bermanja pada sang ayah. Selalu diajak bermain, keluar bersama meskipun hanya Zea dan ayahnya. Zea adalah anak kesayangan sang ayah.
Semua itu berubah tidak ada senyum tawa di wajah Zea, setelah perpisahan orang tuanya. Ayahnya memilih keluar dari rumah dan pergi kerumah nenek Zea. Sedangkan ibu memilih tetap tinggal dirumah karena berada di lingkup keluarga ibu Zea.
Setelah dua tahun perpisahan, ibu Zea memilih tinggal di rumah orang tuanya. Dan rumah yang dulu, dikontrakkan untuk menambah penghasilan untuk kebutuhan sehari hari.
Zea tinggal bersama kakak serta adiknya dalam satu rumah karena rumah bude bersebelahan dengan rumah kakek nenek Zea. Hari hari berlalu dengan hal yang biasa, entah ada apa dengan ibu Zea. Hampir setiap hari Zea mendapatkan hukuman, meski Zea merasa tidak melakukan kesalahan.
Seperti tiada hari tanpa bekas memar di tubuh Zea. Sampai suatu hari Zea merasa bukan anak kandung dari sang ibu. Karena sikap yang ibu yang sangat berbeda antara dia dengan kedua saudaranya.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Kehidupan Zea berjalan sesuai takdir yang ditentukan Tuhan. Hingga suatu hari Zea ketahuan oleh sang ibu, telah mencuri uang milik ibu. Zea dipukul habis habisan tanpa ampun, itulah titik balik kehidupan Zea berhenti melakukan hal itu.
Namun kini Zea masih merasa beruntung, masih ada sang nenek yang selalu menghiburnya. Beliau tau kelakuan Zea salah, tapi nenek Zea selalu berusaha menasihati Zea dengan baik baik. Dan selalu memperlakukan Zea dengan lembut. Zea menjadi anak penurut, selama tinggal bersama sang nenek.
Bahagia ada seseorang yang memberi perhatian dan kasih sayang pada dirinya. Yang tak pernah diberikan oleh sang ibu.
Hingga suatu hari, nenek Zea sakit parah dan harus tutup usia. Kehilangan sosok yang menyayanginya dengan tulus, membuat Zea merasa sendiri tidak ada yang dapat di ajak bicara, tidak ada tempat untuk bermanja.
Zea sudah masuk ke sekolah tingkat pertama, dimana awal kehancuran kehidupannya di mulai. Meski sekolah di sekolah tsanawiyah tidak menjamin pergaulan di sana baik.
Zea memiliki teman yang suka mabuk, berpacaran hingga free seks itu sudah wajar. Zea termasuk salah satu murid yang terkenal di sekolah, bukan karena prestasinya melaikan sifat yang urakan.
Meskipun demikian Zea termasuk siswa yang pandai dan selalu masuk di kelas favorit di sekolahnya.
Ikut serta dalam kegiatan OSIS, dan selalu ikut dalam seminar yang dilaksanakan pihak sekolah tidak membuat Zea menjadi pribadi yang baik. Awal mula bersekolah Zea masih menjadi siswa yang wajar selayaknya siswa lainnya. Saat masuk ke kelas 2, Zea mengenal beberapa teman laki laki dari sekolah yang berbeda.
Dia mulai mengenal cinta monyet, namun karena pergaulan yang sudah begitu bebas. Berciuman, bergandengan itu sudah hal biasa yang dilakukan saat berpacaran.
Pernah suatu hari, kakak sepupu Zea menasihati dirinya.
"Ze, kamu kalau sekolah yang niat jangan kayak gitu pacaran aja disekolah", ucap sepupu Zea.
Namun tak ada tanggapan dari Zea. Menurut Zea, dia ingin melepas semua beban yang ia rasakan selama di rumah. Yang selalu menjadi pelampisan emosi ibunya, tak pernah dianggap oleh adik dan kakaknya.
Pukulan berarti bagi Zea adalah saat bertemu sang kakak yang memang satu sekolah dengan Zea. Dia mencoba menegur sang kakak namun tidak di tanggapi ataupun direspon. Memang kakak Zea memiliki paras yang cantik dan juga siswa unggulan di sekolah itu.
Yang membuat Zea, benci setengah mati saat ujian telah usai dimana di bagikannya hasil ujian atau penerimaan raport. Ibu Zea selalu membanggakan kakaknya dan selalu menyalahkan Zea yang tidak sepintar kakaknya. Apa yang salah, IQ orang kan perbeda beda. Maka seharusnya tidak ada yang perlu di bandingkan, dan raport hanya sebuah nilai seharusnya yang di pentingkan Zea masih bisa mendapatkan yang lebih baik dari rata rata.
Zea benci sesosok orang yang bernama ibu, dia bukan malaikat ataupun bidadari dalam kehidupannya. Tidak ada kasih sayang, tidak ada simpati, tidak ada perhatian ataupun pengertian.
Zea bertekad untuk mencari kebahagiaanya sendiri di luar meskipun akan merusak semua masa depannya.
bersambung....