Bab 2. Aku Mau Poligami

1466 Words
"Atau apa, Ma? Mau meminta anak mama menceraikan aku?" tanya Rosa dengan sorot mata tajam. Ibu Gita terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Rosa. Dia tidak menyangka kalau Rosa berkata seperti itu. Terlebih lagi Ibu Gita melihat Rosa menatapnya dengan tajam berbeda seperti biasanya. "Awas kamu. Aku akan buat anakku menceraikanmu. Tunggu saja. Dasar menantu tidak tahu diri," omel Bu Gita yang pergi karena dirinya tidak diberikan uang. Rosa hanya bisa menahan sakit. Dari dulu dia selalu saja baik dengan keluarga Bayu tapi nyatanya Bayu dan keluarganya hanya menganggap dirinya wanita yang tidak ada harganya. "Hah! Apa aku cerai saja. Percuma aku pertahankan hidup dengan Mas Bayu. Tidak dihargai dan tidak sedikitpun aku dilindungi di rumah ini. Aku hanya dijadikan pembantu gratisan dan dihina terus oleh keluarga besarnya," ucap Rosa mulai berpikir untuk meninggalkan keluarga toxic ini. Rosa sudah tidak tahan lagi menahan gejolak hati yang terlalu sakit dihina dan dianggap rendah oleh mereka. Rosa terus menjalani kehidupan walaupun dirinya lagi-lagi dihina oleh Bayu dan keluarganya. Paginya, Bayu yang bersiap berangkat kerja berjalan ke meja makan. Rasa laparnya hilang melihat menu di meja makan. "Rosa, kenapa sayur kangkung yang selalu kamu berikan padaku. Aku bukan kelinci Rosa yang setiap hari kamu kasih aku kangkung dan ini juga. Selalu tempe sama tahu dan ikan asin. Kamu bisa masak nggak, Rosa?" tanya Bayu membentak Rosa dengan cukup keras. "Dia itu memang seperti ini. Mama minta uang saja dia tidak mau kasih. Makanan yang dia sajikan seperti ini terus lah. Kamu itu harus tahu diri Rosa. Suamimu butuh tenaga untuk kerja bagaimana kalau dia kelaparan dan lemes di kantor. Kamu mau suamimu ini dipecat ? Mau makan apa kamu? Jadi, orang kok nggak pengertian," ketus Bu Gita ke Rosa yang tiba memperkeruh keadaan. "Selama ini juga kalian makan dari uang kerjaku jual makanan. Anakmu tidak kasih uang sedikitpun padaku. Bukan begitu, Mas? Kasih tahu ibumu ini kalau kamu tidak kasih aku uang. Harusnya kalian bersyukur karena aku masih bisa masak untuk kalian. Jangan protes saja," jawab Rosa segera pergi meninggalkan Bayu dan Bu Gita yang terdiam. Mereka tidak mengerti dengan apa yang Rosa katakan. Kerja? Dan Bayu tidak menyangka kalau Rosa yang patuh bisa mengeluarkan perkataan seperti itu. "Lihatkan. Dia memang pantas dipulangkan ke rumah orang tuanya. Dia itu tidak pantas untuk hidup bersama kita, Bay. Kamu juga sih, kenapa tidak kasih mama uang. Kemana kamu simpan uang kamu? Kasih mama uang. Mama mau kirim uang untuk adikmu. Dia butuh uang untuk biaya kuliah dan lainnya. Ayo, berikan cepat," desak Bu Gita ke Bayu. Bayu menghela napas dia pusing dengan dua wanita di rumah ini. Bayu pergi meninggalkan meja makan. Dia tidak selera makan karena masakan yang Rosa sajikan tidak membuat dia bernafsu untuk makan. Setiap hari itu saja yang ada di meja makan akhirnya dia jadi bosan dan enggan menyentuh makanan itu. "Bay, mau kemana kamu?" tanya Bu Gita ke Bayu dengn suara teriakkan. "Keluar. Mama kalau mau uang kerja jangan aku saja yang mama harapkan," jawab Bayu membuat Bu Gita terdiam dengan jawaban Bayu. "Anak kurang ajar, durhaka kamu. Bayu! Aku mau uang," teriak Bu Gita yang lagi-lagi tidak dihiraukan oleh Bayu. Bayu pergi meninggalkan rumah. "Lebih baik aku ke sana. Lebih nyaman dan tidak pusing," jawab Bayu pada dirinya sembari tersenyum. Seminggu hubungan Bayu dan Rosa tidak membaik. Rosa tidak tahu kemana Bayu pergi dan dia juga tidak mau tahu. Rosa lebih memilih bekerja seperti biasanya. Menjual pakaian online bersama sahabatnya dan menjual makanan milik tetangganya. Pulang ke rumah dia langsung tertidur. Sebulan lebih Bayu pergi tanpa kabar dan kehidupan Rosa semakin tenang walaupun mertuanya terus mengomel minta uang, Rosa tidak peduli sama sekali. Hidupnya kini membaik sedikit demi sedikit. "Assalamu'alaikum, Ma ... Ma. Aku pulang. Ayo masuk," ajak Bayu ke seseorang untuk masuk. Bu Gita keluar dari kamar dia terkejut melihat siapa yang datang ke rumahnya. "Loh, kamu bawa siapa Bay? Sebentar, ini anak Mas Bowo kan? Siapa namanya? Aduh bude lupa. Bayu, dia ini sepupu jauh kamu kapan kamu datang nak? Oh, Mama ingat Bay dia ini Wandha. Benar kan kamu Wandha?" tanya Bu Gita. "Iya, Ma eh bude. Aku Wandha, anak Pak Bowo. Kebetulan saya ke sini itu mau cari kerja. Dan Mas Bayu katakan kalau ada pekerjaan di sini. Jadi, saya diajak. Syukur lah mas Bayu masih ingat saya dan ajak saya kerja," jawab Wandha ke Bu Gita. "Oh, iya toh. Bayu kamu ini baik sekali. Ayo masuk, Wandha. Kamu tinggal di sini saja dengan kami. Jangan khawatir semua lengkap," ungkap bu Gita. Wandha mengangguk mengiyakan apa yang Bu Gita katakan. Rosa yang baru pulang kerja mendengar suara tawa dari dalam rumahnya. "Tumben ada suara tawa. Dan itu suara wanita siapa? Dan ada mas Bayu juga. Apa dia sudah pulang? Ingat juga dia pulang. Aku pikir tidak. Tapi, dia kemana saja selama ini?" tanya Rosa melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Dan sesampainya di dalam, Rosa melihat gadis cantik, seksi duduk dengan tawa dan senyum merekah. Wandha yang tertawa mendengar perkataan Bu Gita menghentikan tawanya melihat Rosa masuk. "Mbak, bawakan aku minum. Aku haus," perintah Wandha ke Rosa. "Aku bukan babumu," jawab Rosa yang segera pergi meninggalkan ketiganya yang terdiam. Bayu mengepalkan tangannya mendengar apa yang Rosa katakan. Bu Gita juga sama dengan Bayu juga ikutan geram karena Rosa bersikap dingin dengan keponakannya. Dan jawabannya juga ketus. "Kalian tunggu di sini. Wanita itu perlu dihajar," ucap Bu Gita ke Wandha dan Bayu. "Bude, jangan marah nanti bude sakit. Sudah tidak apa. Aku bisa ambil sendiri," jawab Wandha dengan suara lembut sambil melirik penuh kemenangan ke arah Rosa. Rosa tidak memperdulikan apa yang ketiganya lakukan. Lelah seharian jualan makanan dan diajak live jualan di media sosial membuat Rosa ingin segera merebahkan sejenak tubuhnya di ranjang. "Aku harus kumpulkan uang dan aku cari rumah baru untukku dan menggugat cerai mas Bayu. Aku sudah terlalu lama diinjak harga diriku. Tidak perlu bersama jika itu menyakitkan hati," gumam Rosa yang bersiap membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, Rosa tidak lupa solat dan berdoa. Berharap akan ada jalan keluar. Masih terdengar suara tawa dan akhirnya tidak terdengar lagi. Hanya pintu kamar miliknya terdengar terbuka. "Rosa, kamu sibuk?" tanya Bayu ke Rosa yang baru selesai solat. "Katakan saja ada apa," jawab Rosa dengan suara dingin. Rosa berdiri merapikan mukenah dan meletakkan di tempat biasa. "Aku ini sudah mapan dan aku itu orangnya bertanggung jawab atasmu, Mama dan adikku. Jadi, aku berpikir bagaimana kalau aku poligami. Kamu setuju tidak?" tanya Bayu dengan suara lembut dan langsung mengatakan kalau dia ingin poligami dengan alasan dia sudah tanggung jawab kepada dirinya, ibunya dan adiknya. "Kalau mau poligami tidak ada yang tersakiti. Kalau kamu merasa sudah tanggung jawab padaku mana buktinya. Selama ini kamu sia-siakan aku, menyakiti aku." "Apa itu yang dinamakan tanggung jawab? Belajar tanggung jawab dulu dengan cara bahagiakan istrimu jika tidak bisa jangan mencoba poligami jika tidak kamu akan menjadi pria terjahat di dunia karena menyakiti istri sahmu. Dan satu lagi, jika mau poligami ceraikan aku," jawab Rosa meninggalkan Bayu yang terdiam. Rosa ingin menangis karena ucapan Bayu yang ingin poligami. Perasaan dia hancur karena suaminya sudah mulai berkeinginan poligami. Sah saja tapi balik lagi sudah terpenuhi tidak syarat poligami. Sungguh menyayat hatinya Rosa mendengar pengakuan suaminya ingin poligami. Sebulan pasca permintaan poligami, Bayu makin dingin dengan Rosa dan puncaknya, Rosa murka dengan apa yang sudah Bayu lakukan sore harinya. "Mas! Apa yang kamu lakukan? Ini kamarku, kalian sedang apa?!" pekik Rosa dengan kencang saat dirinya membuka pintu kamar dan melihat kelakuan yang tidak terpuji suaminya dengan wanita yang mengaku sepupu jauh suaminya. "Rosa, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu teriak dan masuk ke kamar mereka?" tanya Bu Gita dengan suara kencang dan menampar Rosa. Rosa yang ditampar terpaku, dirinya tidak percaya sang mertua menamparnya hanya karena dia mengetahui kalau suaminya dan wanita lain ada dikamarnya sedang berbagi keringat. "Mama sudah tahu hubungan mereka?" tanya Rosa ke Bu Gita dengan suara bergetar dan air mata yang mengalir. Dia menangis bukan sakit karena ditampar tapi dia menangis karena hatinya sakit melihat mertuanya mengetahui perselingkuhan anaknya yang notabenenya suaminya dengan wanita yang mengaku sepupu jauhnya. Bu Gita terdiam karena dia salah bersikap. Harusnya dia tidak menampar Rosa saat keluar kamar. Dia harusnya berpura-pura tidak tahu saja. Tapi, dia malah seperti ini. "Rosa, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku dan Wandha tidak ada hubungan apa-apa. Aku dan Wandha khilaf. Percayalah, aku masih mencintaimu Rosa," ucap Bayu turun dari ranjang tanpa busana mendekati Rosa yang air matanya terus mengalir deras melihat suaminya tidur dengan wanita lain di kamarnya sendiri. "Mas, katakan saja yang sebenarnya siapa aku. Kenapa harus kamu katakan kita khilaf. Wanita jelek ini harus tahu aku siapa." Wandha ikut angkat bicara membuat Rosa menatapnya. Rosa memandang Bayu untuk meminta penjelasan dari Bayu. Siapa Wandha. "Siapa dia? Dan sejak kapan kalian selingkuh dibelakangku? Jawab? Siapa dia, Bayu?" tanya Rosa dengan suara melengking.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD