"Tentu saja urusan keluarga saya. Anda jangan ikut campur. Bukannya Anda tidak inginkan anak Anda lagi kan ?" tanya ibu Gita melihat besannya ada di sini.
Bunda Uci yang dari kejauhan melihat anaknya diperlakukan tidak baik oleh mantan mertua anaknya marah. Dirinya segera mendekati Rosa. Sebenarnya, bunda Uci ingin bertemu dengan Rosa di perusahaan tapi saat melewati restoran dia melihat Rosa di depan restoran dan dia diperlakukan tidak baik oleh mantan mertuanya.
Sebagai seorang ibu kandung Bunda Uci tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu. Terlebih lagi dia sudah mengatakan kepada dirinya, apa yang mertuanya lakukan kepada dia selama ini. Begitu juga dengan suaminya Bayu. Hatinya hancur.
Sebagai seorang ibu ia selalu memanjakan anaknya walaupun begitu Rosa sangat mandiri dan tidak sedikit pun bergantung kepada kedua orang tuanya. Tapi, kini anaknya malah disalahkan oleh mantan mertuanya ini.
"Saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti. Kalian sudah tidak ada hubungan apapun dengan anak saya Rosa. Kalian sudah selesai menjalani hubungan kekeluargaan itu karena anak saya mengajukan perceraian."
"Jadi, jangan mengajak anak saya untuk kembali dengan anak Anda. Satu hal lagi, ajari anak Anda untuk tidak bersikap sewenang-wenang dengan istrinya dan satu lagi bukankah anak Anda sudah poligami jadi buat apa anak saya menjadi istrinya."
"Ingat, Anda wanita anak saya juga wanita. Bagaimana kalau anak saya dan Anda bertukar tempat apakah Anda sanggup diperlakukan dengan tidak baik dengan mertua Anda seperti pembantu di rumah?"
" Apa Anda tidak masalah mengurus rumah tangga sendiri? Tentu Anda tidak terima. Beda dengan anak saya, dia tidak sedikit pun diberikan kebebasan dan juga kebahagiaan. Setiap hari Anda minta ini dan itu."
"Dan gaji suaminya Anda rampas dan Anda kasih hanya 50.000. Apa itu cukup untuk seminggu? Cukup tidak? Di mana hati nurani Anda, dimana? Anda harus camkan itu. Ayo, Rosa kita pergi tidak perlu kamu kembali ke rumah neraka itu."
"Biarkan dia dengan menantu barunya. Kamu tidak perlu lagi ikut campur karena kamu sudah selesai." Bunda Uci langsung menarik Rosa untuk pergi dari hadapan ibu Gita.
Ibu Gita mendengar perkataan dari mantan besannya itu hanya bisa terdiam. Dia tidak menyangka kalau saat ini mantan bisanya mengetahui semua yang terjadi kepada Rosa. Padahal, tidak pernah berhubungan. Tapi, dia tahu.
Bu Gita pikir Rosa akan bungkam tapi nyatanya tidak. Dan kini mantan besannya malah mengetahui apa yang dia lakukan kepada Rosa.
"Dasar tidak tahu diri, mertua seperti apa kamu. Masa istri pertama diminta balik untuk dijadikan pembantu. Apa gunanya istri keduanya? Sasar mertua tidak tahu diri. Ish, amit-amit aku dapat mertua seperti dia."
"Jika aku mendapatkannya maka aku akan racuni dia biar mati," ucap salah satu pengunjung yang mencibir ibu Gita hingga membuat semua orang yang ada di sana ikut mencibirnya ibu Gita.
Ibu Gita dipermalukan oleh semua orang yang ada di tempat tersebut. Karena sudah tidak tahan lagi Ibu Gita memilih untuk pergi sambil mengomel dan marah-marah.
"Ahh, dasar tidak tahu diri kamu Rosa. Sudah syukur dia ditampung selama 7 tahun ini tidak. Dia harusnya memberikan bayaran kepada kami bukan hinaan. Lihat saja nanti dia tidak akan dapat harta sedikitpun dari Bayu."
"Aku akan meminta Bayu untuk menolak membagi harta gono gini. Aku tidak akan terima sama sekali tidak akan terima dia dapat." Ibu Gita benar-benar kesal dia ingin segera mengadu kepada Bayu.
Dia tidak ingin anaknya direndahkan dan Bayu harus tahu apa yang sudah Rosa lakukan kepada dirinya. Sedangkan Bunda Uci dan Rosa berjalan menuju perusahaan.
"Kenapa kamu tidak menampar mulutnya?" tanya Bunda Uci.
"Bunda ini kalau marah menyeramkan, ya. Mana mungkin aku menampar orang tua, bukannya Bunda mengajarkanku untuk bersikap baik dengan orang tua tapi kenapa Bunda memintaku untuk menampar mantan mertuaku itu. Harusnya Bunda yang melakukan itu demi aku," ucap Rosa sambil tersenyum dan tertawa kecil.
Bunda Uci menggelengkan kepala dia menarik kuping Rosa yang malah menyuruh dia melakukan hal itu.
"Kamu kekeh bercerai dari Bayu kan, Rosa?" tanya Bunda Uci dengan serius kepada anaknya.
"Tentu saja, Bunda. Rosa sudah bertekad untuk berpisah tidak ada lagi tempat Mas Bayu di hati Rosa. Dia sudah membuat Rosa kecewa. Dan dia sudah berpoligami dan dia juga sudah berbohong."
"Mengajak istrinya ke rumah dan mengaku sebagai sepupu jauh walaupun memang sepupu jauh atau sepupu dekat tetap intinya dia sudah berbohong dan yang lebih menyakitkan mereka berhubungan intim di kamarku."
"Kamar yang sudah 7 tahun aku tempati dengan mas Bayu. Aku tidak ingin masuk ke kamar itu lagi. Karena bayangan kelam membuat hatiku sakit, Bunda," ucap Rosa dengan mata berkaca-kaca.
Bunda Uci melihat air mata Rosa tertahan dan terlihat kekecewaan yang mendalam di hati Rosa. Dan dia sebagai ibu tidak akan mau menyerahkan anaknya lagi kepada pria yang sudah menyakitinya.
"Rosa, ya sudah tegarkan hatimu. Karma itu ada. Hari ini mereka menyakitimu besok lusa mereka juga akan mendapatkan balasannya. Kamu tenangkan diri dan nikmati semua yang sudah terlewatkan selama 7 tahun yang lalu."
"Yakinlah, akan ada pria lain yang mencintai kamu dengan tulus dan penuh cinta itu doa Bunda untuk kamu." Bunda Uci memeluk Rosa.
Dia menguatkan anaknya agar tidak rapuh dan selalu berada di garda di depan untuk melindungi anaknya dari mantan keluarga suaminya.
Rosa beruntung ibunya berada di sisinya mungkin kalau ibunya masih marah dengan dirinya dia akan sendirian di dunia ini.
Keduanya berjalan menuju lobby kantor namun langkah kaki Rosa terhenti karena ada yang memanggilnya.
"Rosa ... Rosa. Tunggu. Oh, ya Tuhan kenapa dengan dia. Rosa," teriak seseorang dari belakang.
Rosa menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang sudah memanggilnya, termasuk Bunda Uci memicingkan matanya melihat ke arah seseorang yang berjalan mendekati Rosa.
Bunda Uci tersenyum mengetahui siapa yang memanggil anaknya.
"Rosa, apa kabar. Lama tidak bertemu aku menunggu kabar darimu. Bagaimana temanmu itu setuju atau tidak?" tanya orang tersebut yang tidak lain adalah Abimana.
Bunda Uci menoleh ke arah Rosa. Dia ingin tahu siapa pria muda yang menyapa Rosa dengan sangat akrab dan sikapnya juga sangat baik.
"Kami tidak jadi live lagi karena temanku sudah kembali ke rumahnya untuk menjaga orang tuanya yang sakit. Maaf kalau saya tidak bisa menghubungimu karena saya terlalu sibuk," jawab Rosa.
"Oh, begitu ya. Tidak apa santai saja lain kali kalau kalian butuh aku kabari saja. Kamu kenapa ada di sini ?" tanya Abimana.
"Aku kerja di sini dan kantor ini punya ayahku," jawab Rosa membuat Abimana terkejut.
"Benarkah ini kantor ayahmu? Ya Tuhan, kebetulan sekali aku ingin ketemu dengan pak Rudi. Ini istrinya kan ibu Uci. Apa kabar, senang berkenalan dengan Ibu," jawab Abimana dengan sopan dan dia mengulurkan tangan ke arah Bunda Uci.
Begitu juga dengan ibu Uci menyambut tangan dari Abimana. Ia tersenyum melihat pria muda yang menyapanya sangat sopan.
"Kabar saya baik. Bagaimana kabarmu ?" tanya Bunda Uci kepada Abimana.
"Saya baik sekali. Malah lebih baik dari yang kemarin," jawab Abimana dengan senyuman.
Bunda Uci menganggukkan kepala, dia melirik ke arah Rosa yang terlihat biasa saja dan wajahnya seperti tidak menyukai kehadiran dari Abimana. Padahal terlihat sekali Abimana menyukai Rosa.
Tapi semua itu hanya perasaan seorang ibu saja, dia tidak tahu apakah Rosa menyukai juga atau tidak. Dan Bunda Uci paham sikap dari Rosa itu pasti masih trauma terhadap pria terlebih lagi dia masih belum menyandang status yang sah.
Kemungkinan Rosa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan nantinya dan akan timbul fitnah. "ya sudah silahkan ketemu dengan ayah saya. Saya mau kembali ke ruangan saya. Bunda mau ke ruangan ayah atau ikut denganku?" tanya Rosa.
"Mau keruangan ayah saja, nanti Bunda menunggu di ruangan lain," jawab Bunda Uci.
Rosa mengganggukan kepala dan dia mengiyakan perkataan dari ibunya. Ketiganya segera naik lift tidak ada yang berbicara. Abimana melirik ke arah Rosa. Dia lagi-lagi terpesona melihat Rosa. Entah kenapa pesona Rosa sedari dulu semakin hari semakin mengagumkan.
Wajah keibuan terlihat jelas. Akan tetapi Abimana melihat Rosa menjauhi darinya. Rosa yang merasa dipandang menoleh ke arah Abimana. Keduanya saling memandang satu sama lain.
Rosa menaikkan alisnya. "kenapa kamu memandangku? Apa ada yang salah?" tanya Rosa.
"Ada. Apa kamu tahu salah kamu apa ke saya?" tanya Abimana lagi.