Bab 9. Ikut Aku Pulang, Rosa

1302 Words
Bayu terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya. Bayu langsung pergi karena merasa bersalah sudah membentak ibunya demi Wandha. Selama ini dia tidak pernah melakukan itu kalaupun ibunya bertengkar dengan Rosa pasti Rosa yang akan dibentak dan membela ibunya. Tapi, kali ini kebalik. Dia malah membentak ibunya demi Wandha. Melihat Bayu pergi, Wandha tertawa. Dia bertepuk tangan tepat di depan Ibu mertuanya. "Lihatlah, anakmu. Berubah sekali. Tahu kenapa? Karena dia mencintaiku. Jadi, jangan coba-coba untuk meminta ini dan itu serta menyuruhku membuat pekerjaan di rumah ini lagi. Karena aku tidak akan mau." "Kamu kerjakan saja sendiri. Bukankah selama ini kamu sudah selesai beristirahat dan juga jangan menuntut aku seperti menantumu yang gembel itu. Rosa bisa kamu bodohi aku tidak. Camkan itu," jawab Wandha yang segera pergi meninggalkan ibu Gita dengan raut wajah penuh amarah. Ibu Gita menggepalkan tangannya dengan cukup erat dirinya menahan amarah kepada sang menantu kedua. Dia tidak menyangka kalau Wandha sangat licik. Dan dia berani membuat anaknya bersikap seperti itu kepada dirinya. Padahal selama ini Bayu tidak pernah melakukan hal seperti itu. Tapi demi Wandha dia melakukannya. "Awas kamu, Wandha. Aku akan buat kamu menderita. Tidak akan aku biarkan kamu kuasai anakku. Aku tidak akan melepaskanmu dan aku tidak akan membiarkanmu menginjakku." "Tunggu saja, aku akan bawa balik Rosa dan setelah itu aku akan mendepakmu,".ucap ibu Gita yang berjanji akan membawa Rosa kembali menjadi istri dari Bayu. Dengan hadirnya Rosa Wandha akan tersingkir dari sini. Dia juga akan menghasut Bayu untuk menceraikan Wandha saja dengan begitu dia bisa berkuasa lagi seperti dulu. Rosa tidak akan pernah membangkang kepada dirinya apapun yang dia katakan akan dia kerjakan. Rosa yang sudah bertemu dengan ayahnya serta ibunya akhirnya memilih untuk tinggal dengan kedua orang tuanya. Sambil memasukkan surat perceraian ke pengadilan agama. Semua berkas-berkas sudah selesai rumah dari sahabatnya itu dijual. Karena Ibu dari sahabatnya sakit keras dan membutuhkan uang. Akhirnya pekerjaan pun harus selesai tidak diteruskan lagi. "Kamu sudah bisa bekerja hari ini Rosa. Surat-surat perceraianmu akan diurus oleh pengacara. Kamu tidak perlu memusingkan apapun surat panggilan untuk Bayu akan segera diantar oleh pengadilan." "Kamu tidak mau datang juga tidak apa-apa, intinya semuanya sudah Ayah perintahkan untuk selesai tanpa ada drama," jawab Pak Rudi kepada Rosa. "Terima kasih banyak ayah. Karena sudah membantuku. Aku merasa bersalah atas semua yang sudah kulakukan masa lalu. Aku tidak mendengarkan ucapanmu. Aku benar-benar bersalah," ucap Rosa yang merasa bersalah karena sudah mengecewakan ayahnya dan tidak mendengarkan perkataan dari ayahnya. "Sudah jangan diulang-ulang lagi. Kita tutup buku lama. Yang lalu biarlah berlalu dan menjadi perjalanan hidupmu. Dan menjadi pelajaran yang berguna untukmu. Agar kelak jangan salah pilih lagi dan jangan bodoh dalam mencintai seseorang." "Karena kalau kamu terlalu mencintai seseorang nanti kamu akan dimanfaatkan oleh cintamu sendiri. Boleh kita mencintai tapi sekedarnya. Apa kamu paham dengan apa yang ayah katakan?" tanya Pak Rudi kepada Rosa. Pak Rudi menasehati anaknya agar tidak terlalu mencintai pria nantinya jika dia bertemu dengan pasangan hidupnya. Tidak masalah mencintai pria atau pasangan. Asalkan kita bisa menempatkan cinta dan sayang itu pada porsinya. Asalkan satu saja adanya kejujuran. Tidak ada kebohongan, saling berkomunikasi menghargai itu yang paling penting. Rosa pun mulai melanjutkan kehidupannya sambil menunggu panggilan dari pihak pengadilan. Rosa bekerja di kantor ayahnya. Rosa termasuk orang yang berada. Dia meninggalkan semua kekayaannya demi Bayu dan dia mengaku kepada Bayu kalau dia itu orang yang sangat sederhana dan saat ingin menikah dengan Bayu dia ingin mengakui siapa dirinya. Akan tetapi semuanya sudah sia-sia dia malah dikhianati. Rosa mulai berpenampilan sangat rapi berbeda seperti waktu dirinya berada di rumah Bayu. Saat makan siang bersama dengan rekan kerja Rosa tidak sengaja bertemu dengan ibu Gita. "Rosa berhenti. Aku katakan berhenti. Wah ... wah ...wah. Lihatlah, Ppenampilanmu sekarang. Apa seperti ini istri solehah? Memakai pakaian tetapi memperlihatkan bentuk tubuhmu dan lihatlah. Buat apa kamu merias wajahmu itu." "Hapus wajahmu. Siapa yang mau kamu perlihatkan, hah?" tanya ibu Gita dengan cukup kencang sambil menghapus make up Rosa dengan kasar. Rosa yang wajahnya dihapus tisu basah dengan kasar oleh mantan mertuanya marah. Rosa mendorong Ibu mertuanya agar menjauh dari dirinya. Teman-teman Rosa yang melihat kejadian tersebut saling memandang satu sama lain. Mereka tidak ingin ikut campur terlebih lagi. Rosa langsung buka suara atas sikap mantan mertuanya ini. "Apa-apaan ini? Kenapa kamu menghapus make up ku ? Apa urusan denganmu ?" tanya Rosa dengan cukup kencang. Dia benar-benar marah dan murka. Dari dulu tidak ada sedikitpun kebaikan di hati ibu mertuanya ini. Segala macam cara dia sudah lakukan menarik perhatian ibu mertuanya tapi tetap saja tidak ada sedikitpun yang mertuanya ini berikan kepada dirinya. Sekarang, malah kasar dengan dia. Mendengar Rosa marah dan mendorong dia, Ibu Gita murka. "Berani-beraninya kamu membentakku dan mendorong aku. Ingat, kamu itu masih istri Bayu. Cepat pulang ke rumah. Jangan membantahku jadilah menantu penurut terima saja pernikahan Bayu dengan Wandha." "Terima saja kalau kamu di poligami. Anakku bertanggung jawab juga denganmu. Apa kurangnya coba. Banyak orang di luar sana di poligami tidak seperti kamu. Kalau kamu banyak drama. Tidak perlu sok suci, Rosa," jawab Ibu Gita yang suaranya tak kalah besar. Terlihat nafas ibu Gita naik turun. Dia tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Rosa. "Apa? Balik ke rumah neraka itu. Maaf Ibu Gita, saya tidak bisa. Karena saya sudah tidak lagi menjadi menantu Anda dan untuk masalah poligami biarkan orang-orang yang sanggup melakukannya." "Sedangkan saya tidak. Saya bukan wanita yang bisa membagi cinta dengan wanita lain. Jadi jangan berharap saya mau kembali karena saya tidak akan kembali camkan itu." "Dan satu hal lagi. Tunggu saja surat perceraian untuk anakmu itu." Rosa segera pergi dari hadapan mantan mertuanya itu. Tapi ditahan oleh ibu Gita. Ibu Gita menarik Rosa dengan cukup kencang hingga Rosa terhuyung dan jatuh. Telapak tangan Rosa membentur aspal hingga telapak tangannya memerah. Rekan kerja Rosa yang melihatnya langsung menolong Rosa. "Rosa, kamu tidak apa-apa? Ayo bangun. Bu, tolong ya yang sopan. Kenapa Ibu melakukan ini kepada teman saya. Apa hak Ibu memperlakukannya seperti itu? Kalau dia tidak mau pulang ya sudah jangan memaksanya," ucap Nara yang membela Rosa. Mendengar Rosa dibela, ibu Gita tertawa dan dia bertepuk tangan. Tidak menyangka kalau menantunya ini ada yang membela. "Hei, dengar ya dia ini menantuku dan dia harus pulang. Dia harus masak, dia harus nyuci dan dia harus membersihkan rumah. Sebagai istri yang baik dia harus menurut apa kata mertuanya dan kamu masih muda jangan ikut campur," ucap ibu Gita lagi. "Oh, ya jadi para istri harus membersihkan semua rumah dan melakukan apa yang dikatakan oleh mertua begitu maksudnya? Dengar baik-baik ya, mertua itu harusnya baik dengan menantu. Jika ingin dihargai." "Tapi, jika tidak ingin dihargai maka menantu wajib memberontak seperti teman saya ini. Jika dia katakan tidak ya tidak. Bukankah aaya dengar dia sudah mengajukan perceraian jadi buat apalagi balik. Dan dia juga sudah tidak ingin merajut hubungan rumah tangga dengan anak Anda karena dia sudah berpoligami." "Jadi, buat apa teman saya ini bertahan di sana. Apa anda mau jadikan teman saya ini babu yang tidak digaji?" tanya Nara lagi. Dan yang diucapkan oleh Nara membuat ibu Gita terdiam. Semua orang yang berada di sekitar mulai membicarakan ibu Gita. Mereka tidak suka dengan sikap dari ibu Gita. "Sekarang ini mertua banyak yang zalim kepada menantunya dan mereka tidak tahu bagaimana penderitaan menantunya. Padahal sudah jelas menantunya itu adalah anak perempuan dari ibu kandungnya jika diperlakukan tidak baik maka ibu kandungnya pasti akan sedih." "Bagaimana kalau anaknya sendiri diperlakukan tidak baik pasti dia akan marah. Tobat Bu, tobat. Jangan terlalu kejam. Nanti kena karma," ucap ibu-ibu yang tidak terima dengan perlakuan ibu Gita kepada Rosa. "Diam kalian. Ini urusan saya dengan menantu saya. Kalian tidak perlu ikut campur," ucap ibu Gita yang tidak terima diomelin dan dikatakan kejam. "Urusan seperti apa yang Anda katakan. Saya mau tahu apa itu," ucap seseorang dari belakang yang membuat Rosa dan semua orang menoleh ke arahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD