Pernikahan...
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya Adelia Maheswari dengan Mas kawin Berlian 3,5 krat dibayar tunai" ucap Paman Adelia, Saguna seraya menjabat tangan Abian Wijaya
"Saya terima Nikah dan Kawinnya Adelia Maheswari binti Alm Bapak Simon Maheswari dengan mas kawin tersebut tunai" jawab Abian
"Bagaimana para saksi ,sah.. sah" tanya penghulu kepada para saksi, para saksi pun melirik satu sama lain lalu berucap bersamaan "sah..." mereka pun mengucap "Hamdallah" dan tepuk tangan pun menggema di ruangan ini
Mempelai berdiri di atas pelaminan menyambut para tamu yang ingin memberikan ucapan kepada pengantin
"Wah.. cantik banget si lu kaya gue ye kan" goda Putri sahabat Adelia mereka pun saling berpelukan
"Makasih ya Put" ucapnya dengan penuh rasa bahagia
"Hm.. selamat yaah beb Sakinah Mawadah Warohmah pokok nya cepet kasih gua ponakan yaah" ucap Putri seraya melepas pelukannya dan mengedipkan sebelah matanya menggoda sahabatnya
"Eh bang senyum napeh sayang muka ganteng ditekuk mulu, mubazir!" Goda Putri pada Bian, yang di goda pun hanya mengedikan bahunya acuh
Setelah selesai dengan acara resepsi dua keluarga ini melanjutkan dengan acara makan malam keluarga inti hanya ada kedua mempelai, Pamam dan Tante Adel juga kedua Otang Tua Bian dan adik perempuan Bian.
"Akhirnya, semua berjalan dengan lancar" Ucap Roy Wijaya Ayah Bian kepada Saguna
"Saya pun merasa lega sekali, karena sekarang Adel sudah ada yang menjaganya, semoga Nak Bian bisa menjadi suami yang bisa membimbing Adel lebih baik lagi" harap sang Paman
Perjodohan yang sudah direncanakan oleh Alm Papa Adel dan Papa Bian pun berjalan lancar tanpa hambatan meskipun di awal harus ada perdebatan antar sang Papa dan putranya
Flashback
Disebuah restoran dua pria paruh baya tengah berhadapan dengan wajah yang nampak serius
"Mon!! Kamu harus jujur kepada putri mu. Dia berhak tahu tentang kondisi kamu saat ini"
"Aku tidak ingin membuatnya sedih, Roy" lirih Simon
"Tapi, mau bagaimana pun kondisi kamu, apa yang kamu alami dan kamu rasakan sekarang, dia berhak mengetahuinya. Dengan kamu diam tidak memberitahukan kondisi kamu sekarang justru akan membuatnya semakin bersedih dan terpukul nantinya Mon"
Simon menggelengkan kepalanya, menatap nanar sahabatnya "Aku punya satu permintaan Roy, apa kamu bisa mengabulkannya?" Tanya Simon hati-hati
"Apapun itu akan aku kabulkan!!" Jawab Roy penuh keyakinan
"Aku hanya bisa percayakan putriku padamu dan keluargamu, aku yakin kamu bisa menjaga dan menyayanginya seperti kamu menjaga dan menyayangi Shafa.." ucapan Simon terjeda, pria paruh baya itu menarik nafasnya dalam-dalam
"Apa bisa, putramu Abian menikahi putriku Adel?" Lanjutnya
Tanpa ada rasa ragu sedikit pun, Roy menganggukan kepalanya meng-iyakan permintaan sahabatnya "Aku janji, putraku akan menikahi putrimu. Aku berjanji akan menjaga dan menyayanginya, aku dan Suci sudah menganggap Adel sebagai Putri kami sendiri, jika kamu lupa Mon!" Tegas Roy.
Simon tersenyum lebar menatap sahabatnya "Terimakasih banyak Roy, aku bisa pergi dengan tenang kalau seperti ini" ucapnya lega
"Kamu jangan bicara macam-macam Mon!! Fokus saja pada kesembuhan dan kemoterapi yang sedang kamu jalani saat ini" sahut Roy
Setelahnya Simon pun jatuh pingsan, membuat Roy panik dibuatnya. Dengan segera Roy meminta bantuan orang-orang disana untuk membawa Simon ke dalam mobilnya dan membawanya ke Rumah Sakit. Mobil Roy telah sampai di Rumah Sakit, dengan segera dia memanggil perawat dan memindahkan Simon pada brankar, perawat pun mendorong brankar Simon dengan cepat menuju ruang tindakan. Saat akan diperiksa oleh Dokter, ternyata Simon sudah tidak bisa di selamatkan. Dokter yang memeriksa Simonpun menggelengkan kepalanya kepada perawat yang membantunya, lalu berjalan keluar menghampiri Roy.
"Bagaimana Dok, keadaan sahabat saya?" Tanya Roy panik
Dokter ber-jas putih itu menatap nanar Roy "Mohon maaf Pak, kami sudah melakukan yang terbaik begitupun dengan Pak Simon, Beliau telah berjuang sampai sejauh ini" lirih sang Dokter "Saya turut berduka cita atas kepergian Bapak Simon, saya pamit. Selamat Siang Pak" lanjut Dokter itu lalu sedikit membungkukan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Roy yang terpaku di tempatnya berdiri.
"Mon.." gumamnya merasa kehilangan sahabat dekatnya
Flashback Off
Di atas kursi balkon seorang wanita dengan menggunakan piyama bergambar bunga Teratai tengah terduduk dengan pandangan menatap lurus ke depan dengan tatapan yang kosong. Wanita berhijab itu tengah memikirkan kejadian beberapa hari ini yang telah dia alami, serangkaian kejadian yang sudah dia lewati pun terputar kembali di pikiran nya.
Flashback
Roy pun segera menghubungi istrinya Suci agar dia menjemput Adel dan membawanya ke Rumah Sakit. Sebelumnya Roy sudah memberitahukan perihal Simon kepada Suci. Suci dan Adel sudah tiba di Rumah Sakit dan menghampiri Roy yang duduk dikursi dengan kepala tertunduk didepan ruangan Simon.
"Om, apa yang terjadi sama Papa?" Tanya ada dengan rasa khawatir ,Roy menatap sendu putri dari sahabatnya itu, lalu memeluknya
"O-om Roy, Papa kenapa Om?" Tuntut Adel. Roy meneteskan air matanya, begitupun dengan Suci lantas dia mengelus punggung Adel lembut, Roy melerai pelukannya lalu memengang kedua bahu wanita di depannya dan menatapnya sendu
Tanpa pikir panjang lagi, Adel berjalan cepat menuju ruangan sang Papa, begitu pintu terbuka menampilkan seseorang dengan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya terbaring di atas brankar. Adel merasa dunianya hancur, badannya terasa lemas untuk saat ini, air mata sudah mengalir deras di kedua sudut matanya, dengan sisa tenaganya Adel menghampiri sosok yang tertutup kain putih itu, dengan tangan yang bergemetar Adel membuka kain putih dan menampilkan raut wajah sang Papa yang terlihat tenang.
Adel menutup mulut dengan sebelah tangannya dan tubuhnya pun terjatuh diatas lantai.
Flashback Off
"Ekhem" suara deheman seseorang membuyarkan lamunan Adel
Adel pun mengusap air mata di atas pipinya "Ada apa Mas?" tanya nya begitu melihat Bian berada di ambang pintu.
"Masuk! ada yang ingin saya bicarakan" titah nya dan Adel pun menurut dia segera beranjak dari duduk nya dan menghampiri Bian yang siang tadi sudah sah menjadi suaminya
"Duduk!" Titah Abian dingin
Adel pun duduk dengan rasa yang tak karuan di hatinya "Kenapa Mas?" tanya nya lagi
"Kamu tau akibat perjodohan konyol ini ada hati yang tersakiti. Apa kamu mengetahui nya?" ucap Bian dengan nada dingin yang membuat Adel takut sendiri
Adel pun menggelengkan kepala nya menjawab pertanyaan Bian
"Pasti!! sudah saya duga.. Dengar baik baik meskipun kita sudah menjadi sepasang suami istri tapi saya tidak ada rasa sedikit pun sama kamu dan itu tidak akan pernah terjadi karena sudah ada yang memiliki hati saya dan satu lagi kamu tidur di sofa, kita tidak akan pernah tidur satu ranjang. Paham!!"
"Ta-Tapi Mas kit... " ucapan Adel terpotong
"Saya tidak suka di bantah, kamu paham dan status suami istri kita hanya untuk menyenangkan hati Papa saja jangan pernah mengharapkan lebih dari status kita ini. Mengerti!!" Tegasnya
Adel menelan saliva nya susah payah dengan air mata yang lolos begitu saja dari kedua sudut mata nya
'Aku hanya mengharapkan ibadah dari pernikahan ini, tapi tidak denganmu Mas' batin nya.