I'm gonna be The best Person,
Forgiveness and always says Sorry if got a mistake.
Arabella.
°°°°••••
••••°°°°
Dua hari tidak masuk sekolah setelah kejadian 3 hari yang lalu, pagi ini Abel bersiap untuk berangkat sekolah.
Berkaca dari pengalaman kemarin akhirnya ayah Abel berjanji jika akan berusaha untuk menghindari kejadian sebelumnya.
Kejadian-kejadian yang bisa berbahaya untuk anak semata wayangnya.
"Sudah sekolah gak mau istirahat aja dulu Bell." tanya ayah
"Abel udah sehat yahh, tinggal luka-luka kecil ini, lagian bentar lagi ujian semester."
"Yasudah yuk sarapan." potong bunda
Setelah sarapan Abel berangkat ke sekolah, semalam dia kabari BG dan sahabatnya jika dia akan masuk hari ini.
"Nanti kalau mendadak pusing bilang sama Dekka lohh Bell, nanti ma2 jemput pulang."lanjut bunda
"Ckk, Bundaa Abel udah sehat beneran kan obat nyerinya masih ada kalau pusing tinggal minum obat aja."
"Iyaa tau Abel kuat, tapi kadang gampangin hal kecil."
Abel menghela nafas, kalau bundanya sudah mengomel khawatir berlebihan obatnya cuma 1 diam dan dengerin.
"Enggeh kanjeng mami."
"Heemmmm, jewer yah kalau bandel."
Abel menjulurkan lidah dan melanjutkan sarapannya, ayahnya melihat kelakuan dua perempuan tersayangnya berdebat itu hanya menggelengkan kepala.
*
*
Setiba di sekolah ayahnya memaksa untuk mengantarkan ke kelasnya, bahkan mengancam akan menggendong paksa jika Abel menolaknya.
"Cuma sampai pintu gerbang aja ayah nanti ada teman-teman kok, kemarin Abel sudah chat mereka."
"Abel ini kata dokter gak boleh banyak gerak lho nanti. Jadi ayah gendong ke dalam mau yah."
"Ishhh ayah nih, enggak apa2 kan ada Dekka dan lainnya."
"Yasudah terserah Abel aja, pokoknya ingat kalau banyak gerak ayah telp itu si Bagas."Ancam ayah
"Okay deal gak akan gerak-gerak."
Akhirnya ayah Abel pasrah tak ingin memaksakan putrinya lagi. Jika terlalu berdebat berdampak buruk untuk kondisinya juga.
Terlihat didepan pintu gerbang sudah ada Dekka dan Cindy, namun dari kejauhan nampak BG sedang memarkirkan motornya.
"Ahhh, Abel akhirnya masuk sekolah lagi." ceplos Cindy.
"heeeh, huss teriak-teriak lho kira ini hutan." sela Dekka
"Anak-anak titip Abel yah, kalau bandel jewer aja dan ingat jangan boleh banyak gerak, mengerti."ucap ayah
"Siap laksanakan." teriak keduanya kompak
"Bagas mana kok gak kelihatan."tanya ayah
"Tuhh ayah masih diparkiran, dah sana ayah berangkat entar macet." sahut Abel
"Iyaa yasudah titip ya nak."
Dekka dan Cindy mengangguk dan tersenyum pada ayah Abel, ayah langsung bergerak menuju kendaraan dan berlalu dari tempat mereka.
"Lhoo Bell ini kok pake ada kruk segala, perasaan kemarin gak kenapa-kenapa kan."Tanya Dekka
Saat melihat ayah Abel menjauh, sebenarnya dia sudah tertarik untuk bertanya ketika melihat Abel turun dari mobil.
"Ehmm iyaa, kaki aku ada yang retak jadi harus diperban biar gak ada pergerakan." jelas Abel.
"Berarti kamu memang gak boleh banyak gerak." lanjut Dekka.
"Pantes ayah bilang jangan sampai Abel banyak gerak tadi."sahut Cindy
Sreeeeettt....
"Yasudah sini aku gendong." ucap seseorang yang sudah membopong Abel dalam dekapannya.
"Ehh..ehh astaga kaget aku." ucap Abel sambil memukul lengan BG.
"Dicariin ayahnya tuh tadi loe."ceplos Dekka, mereka berjalan beriringan menuju kelas.
Banyak para murid melihatnya seperti meremehkan bahkan penasaran namun setelah melihat Dekka membawa kruk semua pasti tahu itu alat bantu jalan.
"Abeeell ya ampun sampek begini ya lord." teriak Yandi melihat Abel di gendongan BG.
"Heyy kadal, loe kira ini hutan teriak-teriak."celetuk Metta sambil menjitak Yandi.
"Ya ampun kalau enggak Kevin yah Yandi tuh musuh Metta."Ceplos Dekka melihat kelakuan Metta
"Nahh tinggal milih kan mana yang cocok buat dia."sahut Cindy.
Setelah mendudukan Abel dikursinya, BG menginterogasinya.
"Kenapa gak bilang kalau ada yang retak tulangnya, padahal tiap malem aku telp lho."
"Hehehhe, biar gak pada khawatir entar pada langsung nyerbu kerumah. Lusa kontrol dokter kok, karena masa pertumbuhan jadi proses pemulihan lebih cepat. Dikasin vitamin tulang terbaik juga sama dokter di rumah sakit kantor ayah." jawab Abel.
BG dan teman-teman sekelasnya mendengarkan penjelasan Abel dan mengangguk, kemudian mereka kembali ke kursi masing-masing dan mengikuti pelajaran.
Tett
tett
Jam istirahat berbunyi, sudah banyak siswa yang berhamburan.
"Mett lho sama Cindy ke kantin yah belikan makanan." ucap Dekka
"Ehh biar gue aja Dekk, kalian mau makan apa gue bawain sekalian, Abel mau apa.??" potong BG
"Gado-gado aja."
"kita samain aja gas."lanjut Metta
"Hemm okay."Jawab BG kemudian berlalu menuju kantin.
15 belas menit berikutnya BG datang bersama para sahabatnya.
"Nihh, langsung dimakan trus minum obatnya."
"Hemm, makasih yahh maaf ngerepotin terus jadinya."
"Enggak ada yah bilang-bilang gitu."
"Iyee-iye tolong yahh disini para jomblo kalau loe pada lupa yah."ceplos Kevin
"Lhaa pada makan disini semua jadinya."celetuk Dekka.
"Iyaa lah biar kompak."jawab Riki
°°°♪•••
Saat tengah menikmati makannya semua terdiam sesaat melihat kedatangan seseorang di ujung pintu kelas.
BG berdiri ke arah Abel begitu pun dengan Metta sudah menghentikan makannya menanti kedatangan Karina menujunya.
"Bell, gue boleh ngomong sebentar." ucapnya
"Ngomong aja kak, maaf aku gak bisa kemana-mana."
Kemudian Karina terkejut sambil menyisir sekitar Abel ternyata ada alat bantu jalan.
"Ngomong disini aja, Abel gak boleh banyak gerak."potong BG
"Lagian bahaya juga kalau sampai Abel pergi sama loe." Lanjut Metta.
Karina yang merasa Abel tengah dikelilingi teman-teman yang bahkan melindungi terkesan takut dia lukai.
"Gue cuma mau minta maaf." ucap Karina sambil mengulurkan tangannya.
"Maaf karena sudah menyakitimu, maaf sudah berfikiran buruk selama ini, dan maaf sudah hampir mencelakaimu kemarin.
Gue salah sangka selama ini nuduh elo sembarangan, elo mau kan maafin gue." lanjutnya bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku sudah memaafkan kakak jauh sebelum kakak minta maaf. Karena aku yakin kakak hanya di liputi emosi tanpa kakak sadari."jawab Abel sambil meraih tangan Karina.
"Makasih yah Bell elo orang baik, gue sadar gue jahat banget selama ini."
"Sudah lah kak, yang lalu biar berlalu. anggap seperti Debu yang bahkan kita tidak akan pernah bisa menemukannya lagi saat berlalu."
"Iyaa, thanks yah Bell." ucap Karina lalu ia keluar dari kelas Abel.
BG dan para sahabatnya Abel merasa lega kini Abel tidak akan mempunyai masalah lagi dengan kakak kelasnya itu.
"Gak nyangka gue kalau Karina mau minta maaf, dilihat dari penampilannya kayaknya dia tertekan banget." seloroh Dekka.
"Iyaa secara selama ini dia selalu menyalahkan Abel, dan dia terkesan enggak mau disalahkan dan dikalahkan." sahut Metta.
"Habiskan makannya semua sudah damai kan."
"Ini pelajaran buat kita, selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian, dan kita gak boleh buruk sangka ke orang dulu." ucap Abel
"Gue kira dia mau ngapain elo Bell, sedia payung sebelum hujan iyaa kan." jawab Metta
"Iyaaa, lain kali jangan kentara gitu dong, kamu juga ihh." balas Abel dan dia bahkan mendaratkan pukulan dilengan BG.
Sang BG hanya tersenyum sedangkan mereka para sahabatnya sudah tertawa terbahak-bahak.
Mereka menyadari kebaikan Abel memang patut diacungi jempol, selain tidak mudah berburuk sangka bahkan dia mau memaafkan dan tidak memiliki dendam.
Dari segi manapun Abel tidak memiliki kekurangan, hanya sedikit kelemahan yaitu dia mudah disakiti namun tidak mudah menyerah. Dia berkeyakinan selagi masih bisa berusaha untuk apa menyerah, karena usaha tidak akan menghianati hasil.