Dua minggu telah berlalu, kondisi Abel sudah membaik dan tanpa menggunakan Kruk lagi.
Meskipun demikian tidak membuat sang ayah berubah, masih tetap overprotective bagaimanapun juga Abel putri satu-satunya.
Setelah melahirkan Abel 2 tahun kemudian Abel memiliki adik laki-laki, namun karena kesibukan bunda Abel kelelahan dan melahirkan prematur diusia kandungan 7 bulan.
Adik Abel hanya bertahan 2 bulan dan akhirnya meninggal dunia karena memang kondisinya masih premature.
Setelah kepergian sang Adik hingga Abel besar bunda belum hamil, namun ayah dan bunda tidak merasa sedih.
Hari ini Abel ada jam olah raga, pertama kalinya baru bisa mengikuti olah raga setelah kecelakaan. Abel sudah menggunakan kaos olah raga karena ada di jam pertama.
"Abel sudah bisa ikut olah raga tah, jangan maksa yah."
"Iyaa ayah, kan dokter bilang udah sembuh."
"Nanti ayah telp Bagas biar dia jagain kamu."
"Lahh apa hubungannya sama Bagas ayah, kan gurunya bukan Bagas."
"Setidaknya biar dia yang bilang ke gurumu itu, kalau misal kondisimu tiba-tiba gak fit."
"Hemmmbb baiklah"
"Selesaikan dulu makannya baru ngobrol."Potong bunda.
Abel mendengkus mendengar pernyataan bundanya.
"Apaa, coba bunda aja belum ngambil makanan sekarang nyuruh habiskan makan."sahut ayah
Abel melirik ke arah bundanya, tidak biasanya sang bunda mengabaikan saranpan.
"Bunda kenapa, sakit yahh kok pucat." ucap Abel.
"Enggak Bell, gak papa kok, semalam bunda gak bisa tidur nyenyak aja."jawab bunda.
"Kenapa bun, kalau gak enak badan ayah belikan bubur yah."
"Sudah dibikini mbok bubur ayah, tuh masih bikin."
"Hemmb yasudah ayah sama Abel berangkat dulu udah setengah tujuh, kalau ada apa-apa langsung telp ayah."ucap ayah dan mencium kening bunda
"Abel berangkat yah Bun, bunda istirahat aja nanti pulang sekolah Abel yang bantu mbok Yem kerja."pamit Abel dan bundanya pun mengangguk.
"Hati-hati yah, belajar yang pinter."
"Assalamualaikum."salam Abel dan ayah bersama.
°°••
••°°
Keluar dari mobil Abel bergegas masuk kedalam sekolahnya, tepat saat akan memasuki lorong sekolah.
Sreereet..
setttt
Ada yang menarik tangan Abel, tapi begitu mengetahui pelakunya Abel tersenyum dan melanjutkan jalannya menuju kelas.
"Wooooaa gandengan terooss, banyak jembatan penyebrangan soalnya." celetuk Kevin
"Syirik lhoo, sana cari gandengan biar gak cemburu liat orang."balas BG
"Yee si bos, ogah nyari cewek belum sanggup ngatasin bacotannya, tapi kalau kayak si Abel si mahh beda."
"Owww lho kibarkan bendera persaingan ceritanya."
"Enggak lah bos kan kita friend, mana berani niking gue."
"Jangan percaya Gas, orang dia suka stalking IG Abel."sahut Riki
"Owww gitu teman apaan loe, main tusuk dari belakang." jawab BG, sejujurnya dia tau itu hanya gurauan mereka saja BG percaya Kevin bukan orang seperti itu.
"Fitnah itu lebih kejam dari pembenihan lho."ceplos Kevin
"Pembunuhan begok."sahut Wira
"Lhaa Wira mah kasar, gak boleh bilang kata-kata pembunuhan yaa enggak Bell."
Abel mengangguk pada ucapan Kevin, mendengar ocehan para sahabat BG rasanya tidak akan ada kata bosan pada mereka.
Sampai di kelas Abel menemukan para sahabatnya sudah duduk dikursi mereka.
"Perawan disarang penyamun nihhh."ceplos Metta.
"Emang yah omongannya Metta tuhh tajem banget."sahut Kevin
"Kayak elo enggak kucing garong."balas Metta.
"Kalau gue kucing garong elo kambing beranak."
"Eloo punuk onta."
"Elooooo..onta betina."
"Dasar babi ngepet."
"Kenapa murid kebun binatang pada pindah kesini."Potong Dekka
"Adu mulut aja teros loe berdua sampek kakek nenek."celetuk Wira
"Amiiiinnnn.." sahut Abel.
Sontak semua orang menoleh kearah Abel, sedangkan Abel yang ditatap hanya tersenyum saja.
"Kenapa kan Wira bilang adu mulut sampek kakek nenek, siapa yang tau kalau mereka berjodoh, yuk aminin." ucap Abel, kemudian mengarahkan teman-temannya.
Bahkan Wira cengo tidak sadar dengan apa yang diucapkannya justru dianggap Abel suatu harapan.
"Amieeennnnn" ucap mereka kompak selain Metta dan Kevin.
"Dihh ogah berjodoh sama Kevin."
"Emangnya elo berharap berjodoh sama siapa..??"
"Yaa siapa aja asal bukan eloo.."
"Gue juga ogah yahh, punya jodoh sama nenek lampir kayak elo bay." sahut Kevin lalu menuju ke kursinya.
Teman-temannya pada cekikikan geli melihat adu mulut mereka berdua. Lalu mereka menuju ke lapangan saat bel masuk.
*
"Pagi anak-anak, pemanasan dulu yah 1 putaran saja." ucap pak Sam
"Baik pak."jawab mereka bersamaan.
Setelah melakukan pemanasan, BG menghampiri Abel yang sedang meminum air minumnya.
"Kata ayah gak boleh terlalu banyak aktivitas berat."
Abel mendengkus ternyata kata ayahnya tadi pagi tentang menelphon BG bukan lah ancaman semata.
"Enggak apa kok, sudah aman kata dokter kecuali olah raganya berat mungkin aku yang akan bilang pak Sam."
"Hari ini Volly, mungkin penilaian, karena minggu kemarin sudah percobaan."
"Iyaa aman, kalau kerasa nyeri aku minta berhenti."
"Oke, baiklah."
"Nihh minum."ucap Abel sambil mengulurkan botol minumnya.
"Hemm, thanks." BG menerima botolnya.
"Baik kita mulai yah, dimulai dari grup putra dulu."ucap pak Sam.
"Arabella sudah bisa kan kalau praktek."lanjutnya
"Sudah pak." jawab Abel, pak Sam mengangguk paham.
Saat praktek volly tim cowok berlangsung, anak-anak putri menyaksikan mereka dipinggir lapangan menunggu giliran mereka tiba.
Lalu bola volly yang tengah dipakai bermain memantul ke Dekka, refleks Abel menarik sahabatnya itu kearahnya menghindari jatuhnya bola.
"Ahhh,.. untung ajaa, loe gak kenapa-kenapa kan Bell."
"Hemmb i'm okay."
"Sorry ya gaess, untung gak kena." ucap Andika teman sekelas Abel.
Dari kejauhan BG menyaksikan namun saat Abel memberikan kode padanya "it's okay". dia tak jadi menghampiri.
Sampai akhirnya giliran tim putri praktek ke lapangan. Semua berjalan dengan baik, Abel memang tak begitu pandai namun dia sering bermain karena Volly merupakan olah raga favorite keluarga Tentara.
"Baik hari ini cukup, kita bertemu lagi minggu depan kita sparing yah, ketua kelas silahkan bagi kelompoknya." jelas pak Sam, kemudian siswanya membubarkan diri.
Setelah berganti pakaian, Abel kembali ke kelas menunggu sampai jam istirahat, saat hendak duduk Ria teman Abel mengatakan sesuatu padanya.
"Bell kayaknya daritadi Hp loe bunyi deh."
"Apaa iyaa ..?"
"He, embb." jawab Ria lalu Abel mengecheck Hp nya, melihat notif ternyata dari no telp rumahnya. Abel menekan tombol telpnya.
"Hallo, ehh mbok ada apa..??
"Hallo non, ini ibu muntah-muntah terus non, mbok khawatir ada apa-apa."
"Hahh, aduhh gimana yah mbok. sekarang bunda lagi apa.."
"Sekarang dikamar non, katanya tadi pusing. mukanya pucat banget. Trus ini mbok harus gimana."
"Hemmm, yasudah mbok jagain bunda dulu Abel telp ayah jadi biar ayah yang bawa bunda ke dokter, dahh mbok."
"iyaa non, dadah ehh Wa'alaikumsalam."
"Hahhaha si mbok nihh, lucuu."monolog Abel.
"Kenapa Bell."tanya Dekka
"Hemm sebentar,."ucap Abel menghentikannya karena dia tengah menghubungi ayahnya.
Tuuut
tuuuuttt
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam ayah, Abel mau ngabarin tadi si mbok Yem telp. Bunda muntah terus pusing gak kuat berdiri ayah."
"Yasudah biar ayah yang pulang bawa bunda ke dokter."
"Iyaa ayah Wassalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah menelphon ayahnya bertepatan dengan bel istirahat.
"Yuk kantin laper." ajak Abel pada sahabatnya.
Mereka berjalan beriringan menuju kantin, dikelas dia tak menemukan BG dan sahabatnya Abel yakin mereka sudah berada di kantin.
Benar saja Abel menemukan sosok yang dia cari sedang menghabiskan makannya. Dia duduk dikursi tak jauh dari tempat BG.
"Mau pesan apa ciwi-ciwi."tanya Metta
"Aku Siomay ples batagor jus aplukat"
"Gue bakso aja es jeruk Mett"
"Gue samain Dekka aja yahh"
"Hemmm, okay tapi lho gak salah Bell tumbenan makan banyak, yaudah gue pesen dulu."tanya Metta Abel hanya mengangguk.
Tak lama Metta kembali membawa makanannya dibantu Riki. BG dan yang lainnya ngeri melihat Abel yang tidak seperti biasanya.
"Ini beneran dihabiskan."tanya BG menarik kursinya mendekat pada Abel.
"Iyaa nih loe gak sarapan sampek makan sebanyak ini Bell."celetuk Dekka.
"Hemmb, gak tau bawaan laper aja trus kepengen Siomay juga kepengen banget batagor."jawab Abel santai.
"Trus jus alpukat kamu gak suka minum ini sebelumnya." sahut BG.
"Loe kayak orang ngidam aja Bell." ceplos Metta, membuat Riki dan Wira menoleh kearah BG.
"Ngapain lho pada ngelirik gue, gue colok tuh mata."
"Yakali kata Metta bener." sahut Kevin
"Gue bukan cowok brengsekan."
"Apaan sihh, lagian Metta kan cuma asal nyeplos aja mana mungkin si BG berani buka segel Abel, bisa di dor sama babenya."Balas Dekka, Abel diam tak bergeming membiarkan mereka berspekulasi.
"Aaakk."ucap Abel memerintah BG buka mulut.
"Kenyang Bell ahh."
"Tinggal dikit mubazir, aku udah kenyang." lanjutnya menyodorkan sesendok siomay, BG pasrah menerima suapan dari Abel.
Para sahabat keduanya bingung dengan keanehan Abel, dan sekaligus menatap iba melihat BG menjadi sasaran kejailan Abel padahal baru saja BG menghabiskan makannya porsi berat.
Mereka tertawa saat melihat peluh membanjiri keringat BG kapan lagi melihat sang kapten basket kelasnya dikerjai gadisnya.
BG tertunduk lesu merasakan perutnya berat, kekenyangan akibat ulah Abel melihat teman-temannya sibuk menertawainya membuatnya semakin mendengkus kesal. Namun saat melihat Abel tersenyum semangat menyuapi dan sesekali mengusap peluhnya, kesalnya seolah luntur.
°♪♪♪°
Melihatmu Bahagia, melihat mu tertawa sudah cukup bagiku.
Karena disetiap senyummu berkembang disitulah debar jantungku semakin menguat.
Bagaskara.