Pregnan....???

973 Words
Masih di Kantin. Begitu asyiknya Abel menyuapi makanan ke mulut BG, Dekka tersadar harusnya ada yang perlu dijelaskan oleh Abel. "Ehh Bell gue baru ingat, tadi elo dapat telp dari siapa trus ada apa." "Ohhh tadi mbok telp katanya bunda sakit, trus aku telponin ayah biar ayah yang bawa ke dokter."jawab Abel sambil membereskan piring makanannya. Bagas mengernyitkan dahi, bahkan tadi dia merasa perutnya begah begitu mendengar kata Abel dia langsung menegakkan badannya. "Emang bunda sakit apa."Tanya BG "Mungkin lambungnya kambuh, bunda punya korosi lambung akan kambuh kalau makan telat sama banyak pikiran." "Wahh bahaya itu Bell bisa kenak perdarahan kalau enggak diobati, ada saudara gue kayak gitu.."celetuk Riki "Iyaa, tadi makanya aku langsung telp ayah, si mbok juga aku suruh jagain dikamar biar bunda enggak banyak gerak."jawab Abel. "Mau aku antar pulang sekarang, ijin aja."tanya BG. "Itu maunya elo onta, sebentar lagi fisika elo paling bosen sama tu jampel."Seloroh Riki sang BG hanya tergelak. "Hemmb, enggak usah ijin udah ada ayah." Setelah mengisi perut mereka kembali ke kelas karena BG dan para sahabatnya juga akan mengganti seragamnya. Ditempat lain ayah dan bunda segera menuju ke dokter untuk diperiksa, karena mereka merupakan anggota TNI akhirnya bunda dibawa ke RS milik TNI. "Gimana dok istri saya, apa lambungnya kambuh." tanya ayah. "Ini kayaknya bukan lambungnya pak, saya sarankan untuk USG abdomen saja karena saya juga ingin memastikan usus ibu."jelas Dr.Adam spesialis penyakit dalam. "Baik dok bagaimana yang terbaik." "Saya sarankan Rawat inap ya pak, kalau ibu tidak ada asupan makan takut kondisinya semakin lemah." "Baik dokter mana yang terbaik."sahut ayah. "Suster tolong dibantu proses administrasi rawat inap yah, sekalian ini resep untuk ditebus."ucap dr.Adam pada perawat. "Baik dok, Silahkan Bapak ikut saya ibu biar dipasang infus dulu."lanjut perawat Setelah keluar dari ruang dokter ayah menuju administrasi dan apotik untuk menebus obat, lalu kembali kepada perawat menunggu sampai bunda di pindah ke ruang perawatan. Satu jam menunggu akhirnya bubda dipindah ke ruang rawatnya. "Ayah tolong beliin bunda jus mangga dong."ucap bunda "Bunda makan dulu baru minum jus biar gak perih perutnya, ayah telp mbok dulu biar disiapin baju bunda sama ayah."potong ayah, terlihat bunda kecewa. Kemudian ayah menelpon Abel untuk memberitahukan kondisi bunda. "Hallo, ayah.!!" "Bell nanti langsung pulang, bunda rawat inap tolong bawakan baju ganti bunda sudah disiapin sama mbok." "Iya ayah" Ayah memutuskan telp karena sesekali sambil menyuapin bunda. Bunda memang sering keluar masuk rumah sakit, jadi Abel seolah terbiasa paham dengan perintah ayahnya. "Sudah ayah eneg banget, sekarang carikan jus mangga yah."ucap bunda sedikit memelas. Ayah mengernyitkan dahi, dia seolah berfikir keras. Jarang-jarang bunda meminta jus buah kecuali saat-saat tertentu. "Kenapa sih harus jus pengen banget yah, kan lambungnya lagi sakit nanti makannya dimuntahin malahan." "Ayahh, carikan yah." Ayah semakin bingung, kenapa bunda jadi begini. Walau terpaksa akhirnya ayah segera mencarikan permintaan bunda. "Yaudah ayah keluar dulu, sendirian gapapa kan."tanya ayah. "Enggak apa-apa ayah, sekalian kalau ada telur gulung yah." ucap bunda yang semakin membuat ayah ternganga. "Bunda enggak salah kan."tanya ayah kembali cengo dengan permintaan bunda. Bunda mengangguk semangat, ayah pasrah saat ini. Bagaimana mungkin dia bisa mencarikan telur gulung, itu kan jajanan anak sekolah. Ayah keluar dari ruang rawat, namun sebelumnya ayah pamit ke suster karena meninggalkan bubda sendirian. "Bunda kok kayak ngidam sih, dulu waktu hamil ke 2 sukanya makan telor gulung, trus suka minum jus pas hamil Abel. Apa jangan-jangan.???" monolog ayah. Setelah mendapatkan Jus mangga, ayah masih berputar-putar mencarikan telur gulung. Kebetulan depan RS ada sekolahan semoga saja masih ada yang jual, mengingat sekarang jam pulang sekolah. Nihil tidak ada satupun penjual telur gulung. Akhirnya ayah kembali ke ruang perawatan bunda tanpa membawa telur gulung. "Bun telor gulungnya gak dapet, udah jam pulang sekolah soalnya besok pagi ayah carikan yah." "Bunda pengennya sekarang ayah." sahut bunda bahkan matanya sudah berkaca-kaca. "Lhaa kok mau nangis sihh, ayah jadi bingung. sebentar ayah telponkan Abel." jawab ayah akhirnya bunda kembali tersenyum. Sementara itu disekolahan Abel akan bersiap pulang. Bagas menjanjikan akan mengantar pulang. "Langsung pulang yah soalnya aku mau antar baju bunda kerumah sakit." "Hahh, bunda dirawat." tanya BG, Abel mengangguk dan segera memakai helm. Saat diperjalanan HP Abel bergetar segera dia mengangkatnya. "Hallo assalamualaikum." "Wa'alaikumsalam, Bell sudah pulang." "Ini sudah jalan pulang ayah kenapa." "Tolong carikan telor gulung yah Bell, bundamu lagi pengen." "Hahhhh, apa ayahh bunda pengen telur gulung." "iyaa tolong carikan yah nak." "Hemm, okay ayah Wassalamualaikum." "Wa'alaikumsalam warrohmaah." Mendengar permintaan bunda, Abel jadi teringat dengan perkataan Metta tadi dikantin, jika benar mungkin saja yang sedang ngidam adalah bundanya. "Kenapa Bell, kok kayak kaget gitu abis nerima telp." tanya BG. "Ehhm enggak kenapa-kenapa kok, nanti kalau lihat orang jual telor gulung berhenti yah, beli dulu." "Okay." jawab BG singkat. Abel dan BG memutuskan pulang dulu mengambil baju, kemudian membeli telur gulung yang mereka dapatkan disekitar Alun-alun kota. Bagas akhirnya memilih ikut masuk ke ruang perawatan Bunda. "Kamu tau kamarnya bunda..?" Abel menoleh pada BG dan mengangguk. "Bunda selalu ditempatkan di Kamar VIP, di Mawar pink 203, sudah langganan soalnya."jawab Abel "Karena penyakit yang sama." "He,embb." Setibanya di ruang perawatan bunda, bunda tampak sumringah melihat benda yang berada ditangan Abel. "Huwaaah, Alhamdulillah dapet."kata bunda "Dapet dimana ini tadi."tanya ayah. "Di Alun-alun kota ayah."jawab BG. Mereka bertiga larut dalam pemikiran masing-masing melihat begitu lahapnya bunda memakan telor gulung itu layaknya anak kecil yang tengah kelaparan. Abel dan BG saling pandang, namun tak mengeluarkan suara sedikitpun. Abel mengkodenya agar tidak bertanya. Begitupun dengan ayah tak bergeming sedikitpun. Walaupun ada yang dipikirkan tapi ayah seolah tak ingin berspekulasi terlebih dahulu. "Gimana kata dokter Adam ayah." tanya Abel "Besok Usg abdomen, takut ada usus yang luka." "Berarti bukan lambungnya yang kambuh ya..?"lanjut Abel bertanya, ayah menggeleng. "Entahlah masih dugaan dr.Adam, jika tidak ada masalah mungkin akan dikonsulkan ke dokter lainnya." "Emang mau dikonsulkan dokter spesialis apalagi ayah."uca Abel penasaran. Ayahnya menghendikan bahu, sedangkan BG hanya memandang keduanya tak berkomentar. * * Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD