Bab 24. Mendadak Dilamar

1003 Words

Mereka bangkit hampir bersamaan. Prisha mengusap sisa air mata dipipinya, lalu menunduk sekali lagi ke arah pusara, seolah mengucapkan salam perpisahan yang tak terucap. Asraf berdiri di sisinya, menunggu dengan sabar tanpa tergesa. Langkah mereka menyusuri jalan setapak makam terasa pelan dan tertata. Para bodyguard segera merapat, kembali membentuk barisan pengaman. Reno berjalan sedikit lebih dekat kali ini, matanya tetap awas, namun ekspresinya melunak ketika melihat Prisha tampak lebih tenang. Saat melewati gerbang makam, Prisha menoleh sekali lagi. Ada kelegaan yang tipis, bercampur rindu yang belum sepenuhnya padam. Asraf menyadari itu, namun ia tak berkata apa-apa, hanya menyesuaikan langkahnya agar sejajar dengan Prisha. “Kita pulang,” ucap Asraf singkat. Prisha mengangguk. Ti

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD