Asraf terbangun dari tidurnya, ia membuka pejaman matanya dan menoleh ke sampingnya, kehangatan yang tertinggal hanyalah hantu, tak ada Prisha di sampingnya.
Prisha telah kembali melenyapkan diri ke dalam pelariannya yang tak berujung.
Helaan napas Asraf mengalun berat, sarat akan beban melankoli yang menyesakkan d**a, menyadari bahwa ia harus kembali menelusuri jejak-jejak sunyi dan memetik serpihan rindu demi menemukan Prisha yang gemar bermain petak umpet dengannya.
“Reno!”
Reno lalu masuk ke kamar dan menghampiri Asraf dengan kepala ia tundukkan.
“Iya, Bos?”
“Cari Prisha sampai dapat. Dan, jangan sakiti dia.”
“Baik, Bos.” Reno lalu keluar dari kamar.
Asraf melepaskan sebuah desah napas yang menderu, sebelum akhirnya ia bangkit dari singgasana keheningannya dengan gestur yang penuh dengan otoritas gelap. Jemarinya yang dingin merengkuh leher botol berisi cairan ambar yang memabukkan, membiarkan aliran api cair itu membakar kerongkongannya, seolah ingin memadamkan bara amarah yang kian berkobar di dalam jiwa karena Prisha, wanita yang ia inginkan kabur entah kemana.
“Kamu benar-benar membuatku marah, Prisha. Kamu mau lari kemanapun, akan selalu ku temukan.” Asraf menatap wajahnya didepan cermin, ia menyeringai mengerikan membuat siapa pun yang melihatnya akan ngeri. Namun, di balik aura mencekam yang memancar kuat, paras elok nan rupawan itu tetap bertahta dalam kesempurnaan mutlak, sebuah ketampanan surgawi yang tak mampu ditandingi oleh siapapun.
***
Sementara itu, Prisha kabur ke apartemen Fardan, ia tak membawa kopor di tangannya, namun ia membawa satu buku tabungan berisi uang 2 milliar yang ditinggalkan orangtuanya untuknya.
Prisha percaya bahwa dengan uang 2 milliar itu, ia dan Fardan bisa kabur dari kota ini dan memulai hidup baru, mereka akan membuka usaha baru, membeli toko dan menjual apa pun untuk bertahan hidup.
Prisha sudah memimpikan hal itu sejak perjalanan kemari, Fardan pasti bisa membuatnya jauh dari Asraf.
Prisha terus gelisah karena takut keberadaannya ditemukan oleh Asraf, jadi ia harus cepat-cepat bertemu dengan Fardan, namun lift tak juga kunjung terbuka, Prisha akhirnya memilih menaiki tangga darurat dan tetap waspada, ia rela naik ke lantai 9 dengan tangga darurat daripada harus menunggu dan ditemukan Asraf.
“Fardan, tunggu aku, kita harus bahagia,” lirih Prisha dengan napas yang memburu.
“Ahh.” Suara desahan terdengar membuat langkah Prisha terhenti, sepertinya seseorang sedang bercinta.
“Sayang, kamu benar-benar hebat.”
Karena ke kepoan Prisha, ia pun mengintip dan membulatkan mata ketika melihat Fardan yang sedang berciuman mesra dengan Nani—sepupunya Prisha. Bahkan tangan Fardan terus meremas dua gundukan Nani bergantian.
“Sayang, aku dengar kamu menerima perasaan Prisha. Kamu ini kenapa sih?” Nani memukul d**a Fardan. “Kamu sayang aku atau nggak sih?”
“Tentu saja aku lebih sayang kamu. Kamu kan lebih seksi dari Prisha.” Fardan mengecup pipi Nani.
“Terus kenapa kamu menerima perasaan Prisha? Bahkan didepan banyak orang.”
“Tenang saja, Sayang. Aku tidak benar-benar menerima perasaannya. Aku hanya mengincar sesuatu darinya.”
“Mengincar sesuatu? Apa itu?”
“Prisha pernah memberitahuku, katanya kedua orangtuanya meninggalkan uang 2 milliar untuknya. Jadi, kalau Prisha percaya kepadaku, aku pasti akan mendapatkan uang 2 milliar itu dan kita akan hidup bahagia.”
“Apa? 2 milliar?”
“Iya. Mama kamu tahu tentang uang itu?”
“Tidak. Mama tidak tahu.”
“Nah bagus. Uang itu bisa untuk kita berdua. Kita bisa beli apa saja dengan uang itu. Karena itu kamu bantu aku berakting, agar Prisha percaya kepadaku.”
“Tentu saja demi uang 2 milliar itu. Kasihan banget ya Prisha, dia sudah kehilangan orangtuanya, sudah dibuang keluargaku, bahkan dikhianati orang yang paling dia cintai, ah bahagianya aku.”
Mereka tertawa terbahak-bahak diatas penderitaan Prisha. Hati Prisha begitu terluka, pria yang dia percayai ternyata hanya mengincar 2 milliar darinya.
Prisha menutup mulutnya dan hendak berbalik meninggalkan pemandangan tak senonoh itu, namun langkahnya terdengar oleh Fardan dan Nani.
Prisha berlari menuruni tangga, dan akhirnya Fardan berhasil menghentikan Prisha.
“Prisha? Kamu kenapa di sini?” tanya Fardan memberi kode kepada Nani agar tidak mendekat.
“Aku mau pulang dulu ya? Kalian lanjut saja dulu.”
Fardan lalu mengeratkan genggamannya di lengan mungil Prisha, membuat Prisha kesakitan.
“Auww, sakit, Dan. Kamu kenapa sih? Lepaskan aku.”
“Kamu dengar semuanya?” tanya Fardan.
“Ya. Aku dengar semuanya. Terus kenapa?”
“Kamu tanya kenapa? Apa kamu mau bertanya?”
“Dan, jangan ganggu aku. Aku mau pulang.”
“Kalau kamu sudah dengar semuanya, berikan uang 2 milliar itu.”
“Aww. Sakit,” lirih Prisha.
“Berikan uang itu!”
Prisha menggelengkan kepala. “Kamu kenapa mau uangku? 2 milliar itu milikku. Uang peninggalan orangtuaku. Kamu mau mengambilnya? Apa hakmu?”
“Berikan uang itu, atau kamu akan merasakan akibatnya,” ancam Fardan masih menggenggam kuat Prisha.
“Prisha, kamu berikan saja uang itu, kamu nggak takut sama Fardan?” Nani menimpali.
“Kalian berdua jahat, selama ini aku terlalu percaya sama kamu, Dan.”
“Kamu harus tetap percaya sama aku, aku akan tetap menerima perasaanmu.”
“Tapi cintamu bukan untukku.”
Plak.
Nani menampar Prisha dan membuat Prisha terduduk dilantai, Prisha berusaha menggenggam kuat buku Tabungan yang ada ditangannya, untungnya ATMnya ia sembunyikan dibelakang ponselnya. Jadi, apa pun yang terjadi Fardan dan Nani tidak punya akses walau buku Tabungan ada di tangan mereka.
Fardan menarik buku Tabungan itu, sementara Nani mencekik leher Zura, membuat Prisha hampir tak bernapas, ujung bibir Prisha sudah lebam.
“Jadi, kamu membawa ini kemari?” tanya Fardan.
Nani melepaskan tangannya dan tertawa melihat wajah Prisha lebam.
“Tadinya aku mau mengajakmu meninggalkan kota ini dengan uang yang ku punya, tapi sepertinya sebelum aku memberitahumu tentang ini, Tuhan sudah memperlihatkan watak aslimu.”
Plak.
Nani kembali menampar Prisha, membuat ujung bibir Prisha mengeluarkan setitik darah.
“Kamu berharap apa pada Fardan? Fardan tak pernah mencintai kamu. Kamu hanya mainan bagi Fardan untuk mendapatkan uang 2 milliar ini.” Nani tertawa.
“Sayang, kita antar Prisha ke bank. Kita Tarik semua uang ini.” Fardan menatap Nani.
“Apa? Mau membawaku ke bank? Aku tidak akan pernah mau.”
Nani kembali menampar Prisha dan berkata, “Kamu harus mau. Atau kamu mau mati ditangan kami.”
Nani bangkit dari duduknya dan menginjak-nginjak wajah Prisha, membuat Prisha kesakitan, sementara Fardan teralih oleh buku Tabungan ditangannya.
“Kamu masih mau menolak?”
“HENTIKAN!” pintu tangga darurat terbuka, memperlihatkan Asraf dan anak buahnya datang.
Asraf mendorong tubuh Nani agar menjauh dan ia langsung menolong Prisha.
Prisha seketika menangis didepan Asraf layaknya anak kecil.
“Hei, siapa kalian?” tanya Nani.
Fardan terlihat ketakutan dan melangkah mundur.
Asraf menggendong Prisha ala bridal style dan bangkit.
“Reno!”
“Iya, Bos?”
“Tangan, kaki, dan apa pun yang sudah menyentuh Prisha, patahkan.”
“Baik, Bos.”
Asraf lalu membawa Prisha bersamanya. Sementara itu Reno mendekati Fardan dan Nani, merebut paksa buku Tabungan milik Prisha dari tangan Fardan. Dan memerintahkan kepada anak buahnya untuk mematahkan kaki dan tangan Fardan juga Nani.