Asraf merebahkan raga Prisha yang lunglai ke atas sofa buludru di dalam kamar mereka—sebuah ruang yang kini terasa seperti kuil kesunyian. Sejak perjalanan tadi, Prisha hanya membisu, membiarkan lidahnya kelu di bawah tekanan nestapa yang merajam sukma.
Fondasi kepercayaan yang selama ini ia bangun dengan butir-butir harapan kini runtuh berkeping-keping. Pria yang ia dambakan sebagai pelabuhan terakhir dan rumah bagi jiwanya, nyatanya telah mengobarkan api pengkhianatan bersama Nani, sepupu Prisha sendiri.
Asraf melangkah perlahan menuju meja kecil tempat kotak P3K tersimpan, sebuah kotak yang berisi penawar bagi luka fisik. Dengan jemari yang masih menyimpan sisa-sisa ketegangan, ia meraih kotak tersebut, lalu kembali mendekati Prisha demi membasuh luka-luka yang disebabkan oleh Fardan dan Nani, meski ia tahu bahwa luka di relung hati Prisha mungkin tak akan pernah menemukan penawarnya.
Asraf meraih salep dan memberikan salep itu pada bibir Prisha tipis-tipis, Prisha meringis pelan ketika merasakan perih. Setelah itu mengoleskan salep ke tangan dan wajah Prisha yang juga lebam.
“Kenapa kamu selalu saja kabur dari sini? Apa aku semenakutkan itu untuk kamu? Kenapa kamu tak pernah mendengarkanku?” omel Asraf masih terus mengobati luka Prisha.
Prisha menitihkan airmata, lalu menutup wajahnya disela lututnya, Prisha menangis dengan suara nyaring didepan Asraf.
Asraf lalu memeluk Prisha, membuat Prisha begitu nyaman berada dipelukan pria yang terobsesi dengannya. Prisha tak perduli lagi, ia meredam ketakutannya dan memilih tetap di pelukan Asraf. Saat ini, Prisha membutuhkan seseorang di sisinya.
Akhirnya Prisha tertidur di pahanya, mungkin hari ini sangat melelahkan baginya.
Asraf menggendongnya dan membawanya ke ranjang, Asraf membantu Prisha mengganti pakaian tidur, ia sudah terbiasa melakukannya, apalagi setiap inti tubuh Prisha sudah Asraf lihat.
Asraf duduk di tepi ranjang, ,menatap wajah cantik Prisha. Asraf membayangkan hari bahagia bersama gadis itu. Asraf tersenyum dan mengelus pipi Prisha dengan tangannya.
Setelah Prisha nyenyak, Asraf bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ruang kerjanya, Asraf menunggu kabar dari Reno tentang Nani dan Fardan yang sudah menyakiti Prisha dan memberikan bekas luka diwajah cantik Prisha.
“Bos.” Reno datang dan membungkukkan badannya.
“Sudah kamu patahkan tangan dan kaki mereka?”
“Sudah, Bos. Saya juga mengurung mereka di ruang bawah tanah.”
“Bagus. Jangan berikan makan dan minum selama dua hari, setelah dua hari keluarkan mereka dari sini.”
“Baik, Bos.”
“Aku akan temui mereka.” Asraf lalu melangkahkan kakinya menuju ruang bawah tanah, dimana Fardan dan Nani di kurung di sana.
Asraf melangkah menghampiri keduanya, keduanya membulatkan mata.
Asraf berdiri dihadapan keduanya.
“Siapa kamu? Kenapa kamu melakukan ini pada kami?” tanya Nani menatap Asraf.
Nani memang tidak tahu siapa Asraf dan pengetahuannya memang masih dangkal.
Asraf merengkuh sebatang tembakau dari jemari Reno. Sang asisten, dengan ketundukan mutlak, segera menyulutkan api pemantik yang menari-nari lincah, menghidupkan bara di ujung lintasan kertas putih tersebut.
“Kalian tidak penasaran ini dimana?” tanya Asraf.
“Bos, lepaskan kami. Kami minta maaf, kami tidak punya urusan dengan Anda.” Fardan memohon kepada Asraf.
“Kalian memiliki urusan dengan Prisha, artinya urusan Prisha menjadi urusanku.”
“Tapi, Prisha—”
“Dia milikku. Dia adalah gadis yang tidak boleh kalian sentuh. Kalau kalian sentuh tangan dan kaki kalian akan patah seperti saat ini. Dan, ruangan ini bau darah, banyak mayat yang sudah kami bunuh di sini. Dan, mungkin saja kalian berdua adalah target selanjutnya.” Asraf menyeringai mengerikan seraya mengisap rokoknya dengan ketampanan yang tiada bandingannya.
“Prisha adalah sepupuku. Aku berhak atas dia,” kata Nani.
“Nani, diam,” geleng Fardan.
“Kamu kenapa takut dengannya? Setelah keluar dari sini, kita laporkan ke polisi.”
“NANI!” bentak Fardan.
Nani memilih diam dan belum tahu siapa pria yang kini duduk dengan santai didepan mereka, siapa pria yang sudah mematahkan kaki dan tangan mereka, untungnya mereka masih hidup.
“Bos, kami tidak akan melakukannya lagi, kami tidak akan mengganggu Prisha lagi, kami janji,” lirih Fardan memohon didepan Asraf,
“Dia siapa, Dan?” tanya Nani menoleh menatap Fardan.
“Jika kamu tidak mau mati, jangan katakan apa pun. Mohon ampun saja pada Bos Asraf.” Fardan menjawab.
Asraf mengisap rokoknya, ia mendesah napas halus dan membuang sisa rokoknya.
“Keluarga Hartawan. Bukankah keluargamu?” tanya Asraf pada Nani yang saat ini diam saja dan malah menoleh melihat Fardan yang kini memberinya kode.
“Iya. Memangnya kenapa? Ada masalah?”
“Keluarga Hartawan sedang memulai bisnis baru.”
“Kamu tahu darimana?”
“Nani, kamu tidak tahu dia siapa?” tanya Fardan.
“Siapa? Sejak tadi aku sudah bertanya sama kamu.”
“Dia adalah Bos Asraf Zayed, bos Mafia dan dari keluarga Pramulia.”
“Apa?” Nani membulatkan mata, pantas saja Asraf berbicara sombong ternyata dia berasal dari keluarga Pramulia.
“Keluarga Pramulia yang menguasai kota ini?”
“Iya. Kamu jangan membuatnya tersinggung. Kita minta ampun saja agar selamat, tangan dan kaki kita yang patah masih bagus, daripada harus mati di sini.”
“Maafkan saya, Bos, saya tidak tahu kalau Anda adalah Bos Asraf. Saya tidak akan menyinggung Anda. Jangan sentuh keluarga saya. Tolong, saya mohon sama Anda.” Nani akhirnya minta maaf didepan Asraf.
“Keluargamu sudah membuang Prisha. Artinya keluarga itu tidak tahu terima kasih, berdirinya keluarga Hartawan karena usaha dari orangtua Prisha. Namun, ayah dan ibumu malah mengusir Prisha dan tidak lagi menganggapnya keluarga.”
“Apa yang akan kau lakukan.”
“Reno, lakukan seperti biasa!” titah Asraf.
“Baik, Bos,” jawab Reno lalu melangkahkan kaki meninggalkan Asraf dan dua orang yang sedang di sekap.
Asraf bangkit dari duduknya. Dan berkata, “Bertahan hiduplah dua hari, jika kalian masih hidup dua hari ini tanpa makan dan minum, kalian bisa bebas dari sini.”
“Apa maksudnya? Lepaskan kami!” pintah Fardan.
“Oh iya, lapor polisi? Dengan melapor polisi tidak akan membuat keluarga Pramulia tersentuh. Sepertinya kalian sudah tahu.” Asraf lalu pergi meninggalkan Fardan dan Nani yang berteriak meminta pertolongan, namun sayangnya ruang bawah tanah adalah ruangan yang paling sepi, apa pun yang terjadi tak akan terdengar apa pun di luar sana.
Asraf melangkahkan kakinya kembali ke kamar, lalu melihat Prisha masih tertidur dengan tangan terikat rantai besi, karena takut jika Prisha kabur, Asraf selalu mengikat satu tangan Prisha dengan rantai yang sudah ia siapkan di kamar.
Prisha bergerak gelisah, lalu membuka pejaman matanya, dan menarik tangannya, tetap saja walau sudah terlihat tak berdaya didepan Asraf, Asraf tetap mengikat tangannya.
“Kenapa terbangun?” tanya Asraf duduk di tepi ranjang dan membelai rambut Prisha.
“Kamu darimana?”
“Aku keluar sebentar cari udara segar,” jawab Asraf.
Prisha mengangguk.
“Prisha, bisa tidak dengarkan aku? Jangan pernah melakukan apa pun yang membahayakan dirimu.”
“Karena aku milikmu, bukan?” tanya Prisha masih berbaring.
Asraf menurunkan pandangannya dan mendesah napas halus, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Prisha.
Malam sudah begitu larut, karena mimpi buruk, Prisha terbangun dan menemukan Asraf belum tidur dan masih mengawasinya.
Asraf lalu mengecup bibir Prisha, kecupan itu berubah menjadi sebuah ciuman liar yang menuntut balasan. Prisha tahu bahwa dengan melawan Asraf tak akan pernah membuatnya menang, jadi ia memilih menerima sentuhan Asraf tanpa mengamuk saat ini.
Tangan nakal Asraf menyentuh dua gundukan Prisha dan meremasnya, membuat Prisha merasakan kenikmatan sudah berada di ubun-ubunnya.
“Jangan malam ini,” lirih Prisha menghentikan Asraf.
“Karena kamu mau kabur?” tanya Asraf.
“Tidak. Aku—”
“Prisha, jangan berusaha kabur. Mau kemanapun kamu, Kamu tetap milikku. Ingat itu!”
“Heem. Aku milikmu. Aku tidak akan kabur. Aku janji.”
“Kamu selalu mengatakan itu tapi tetap saja kamu lakukan.”
“Kali ini aku serius, kamu pasti sudah menyembunyikan kunci dari ikatan rantai ini, ‘kan? Aku tidak akan bisa pergi dari sini. Aku tidak punya siapa pun lagi selain kamu.”
Tangan Asraf mencekik Prisha, ia menyakiti Prisha lagi karena ketakutannya. Asraf begitu terobsesi hingga obsesinya menyakiti wanita yang paling ia cintai di dunia ini.
“Ya. Cekik aku, aku tidak apa-apa mati di tanganmu. Lagian aku sudah tidak punya tujuan hidup lagi.” Prisha berbicara seolah putus asa akan hidup ini.
“Hanya seorang pria jelek, kamu rela mati di tanganku? Sebenci itu kamu padaku?” Mata Asraf berbinar menatap Prisha.