Bab 14. Trauma

1106 Words

Malam datang dengan kejam. Prisha terbangun dengan jeritan yang tercekik di tenggorokan. Napasnya tersengal, keringat dingin membasahi pelipis dan punggungnya. Matanya liar menatap langit-langit kamar, namun yang ia lihat bukan kamar, melainkan lampu panggung yang menyilaukan, topeng-topeng tanpa wajah, dan suara tawa yang menggema di kepalanya. Tangannya mencengkram seprei, seolah kain itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak tenggelam kembali ke mimpi itu. Napasnya semakin cepat. Udara terasa tak cukup. Dadanya sesak, jantungnya berdegup tak beraturan, seakan hendak meloncat keluar. Prisha mencoba menarik napas panjang, tapi tubuhnya tak mau patuh. Setiap tarikan terasa seperti gagal. Serangan panik itu menyergap tanpa aba-aba. Datang lagi dan menghancurkan perasaan Prisha. Asr

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD