Pagi itu datang tanpa mimpi buruk. Bukan berarti Prisha tidur nyenyak, namun untuk pertama kalinya, ia tidak terbangun dengan napas tersengal atau tangan gemetar. Itu saja sudah terasa seperti kemenangan kecil. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai. Prisha duduk di tepi ranjang, menatap lantai cukup lama sebelum akhirnya menjejakkan kaki. Dinginnya ubin masih membuatnya ragu, tapi ia tidak mundur. Di dapur, secangkir teh hangat telah menunggunya. Asraf tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan cangkir itu di meja, lalu mundur dua langkah untuk memberinya ruang, seperti yang Prisha butuhkan. Tidak ada tatapan penuh tanya, tidak ada sentuhan mendadak. Hanya kehadiran yang tenang. Prisha duduk perlahan. Tangannya masih sedikit bergetar saat meraih cangkir, namun ia berhasi

