Lampu temaram menyelimuti ruangan dengan cahaya lembut, memantulkan bayangan Asraf dan Prisha yang berdiri saling berhadapan, masih canggung oleh status baru yang kini mereka terima. Asraf mendekat perlahan, seakan memberi waktu pada Prisha untuk bernapas. Ia mengangkat tangan, menyentuh punggung jemari Prisha dengan lembut, sentuhan yang bertanya, bukan menuntut. Prisha mengangguk kecil, matanya menatap Asraf dengan campuran gugup dan percaya. “Kalau kamu capek, kita berhenti,” ucap Asraf lirih. Prisha tersenyum tipis. “Aku mau … sama kamu.” Asraf menarik Prisha ke dalam pelukan yang tenang. Dahi bertemu dahi, napas menyatu, seolah mereka sedang menenangkan dunia di sekitar. Ciuman datang perlahan hangat, penuh rasa, tanpa buru-buru. Semua luka, ketakutan, dan pertanyaan yang pernah

