Studio itu dipenuhi aroma cat minyak dan kayu tua. Cahaya matahari jatuh miring dari jendela besar, menerpa kanvas-kanvas yang bersandar sembarangan di dinding. Prisha berdiri sesaat di ambang pintu, menatap ruang yang terasa asing sekaligus akrab, tempat yang dulu hanya hidup dalam bayangannya. Fardan menoleh ketika mendengar langkah kaki. “Kamu datang,” ucapnya pelan, seperti masih tak percaya. Prisha mengangguk. “Aku bilang aku akan datang.” Ia tidak mengatakan apa pun pada Asraf tentang rencananya hari ini. Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu yang salah, melainkan karena ia ingin memastikan dulu, apakah langkah ini benar-benar layak diperjuangkan. Mereka duduk berhadapan, dipisahkan meja kayu yang penuh noda cat. Hening menggantung sebentar sebelum Prisha membuka suara. “Aku

