Bab 7. Dianggap Miskin

1136 Words
“Saya sudah panggil Nyonya Prisha, Bos, tapi Nyonya Prisha tak mau sarapan.” Yana menundukkan kepala. “Apa katanya?” “Katanya nanti. Beliau masih kenyang.” “Ya sudah. Tidak usah dipaksa, nanti bawakan saja makanan ke kamar.” “Iya, Bos.” Yana mengangguk. Yana lalu masuk ke dapur dan meninggalkan Reno yang berdiri di sudut menunggu sampai bosnya selesai makan. “Reno!” “Iya, Bos?” Reno datang dan membungkukkan badannya menghormati bosnya. “Apa yang terjadi kemarin? Kemana saja Prisha? Kenapa dia tahu kalau aku adalah bos mafia?” tanya Asraf. “Karena semalam dia mempertanyakannya.” “Sebenarnya kemarin kami ke mall, Bos, Nyonya Prisha membelikan setelan jas untuk Bos, tapi malah bertemu dengan Nani—sepupunya. Nani lah yang mengatakannya kepadanya dan meminta uang ganti rugi pada Nyonya Prisha untuk biaya operasi plastic.” “Lalu mana setelan jasnya kalau memang dia membelikan setelan jas?” “Kemarin cukup ramai di sana, Nani dan ibunya mengundang keramaian, membuat Nyonya Prisha malu dan pergi tanpa mengambil jasnya. Tapi sudah saya suruh orang untuk ke mall mengambilnya.” “Terus? Prisha tahu dari Nani, kalau aku adalah bos mafia?” “Benar. Nyonya Prisha juga menanyakannya ke saya, namun saya tidak menjawabnya.” “Ya sudah. Sepertinya Prisha marah. Apa kamu ada ide untuk membujuknya?” “Ide?” “Iya. Aku sudah lama membesarkanmu, Reno. Kamu tidak tahu tentang membujuk seorang wanita?” “Saya tidak pernah pacaran apalagi dekat dengan seorang wanita, Bos. Tapi, saya pernah menonton drama. Pria itu mengajak wanitanya dinner, lalu memberikannya bunga dan berlian, wanitanya langsung tersenyum dan bahagia. Lalu mereka berdamai.” “Itu di drama yang kamu tonton?” “Iya, Bos.” “Ya sudah. Kamu atur semuanya. Aku akan melakukannya seperti di drama yang kamu tonton.” “Bos mau makan malam atau makan siang?” “Bagusnya makan malam saja. Karena aku masih harus meeting bersama klien sampai sore hari.” “Baik. Akan saya atur semuanya, Bos. Tenang saja, kali ini akan berkesan untuk Nyonya Prisha.” “Ya sudah. Aku akan berangkat.” “Bos tidak pamit pada Nyonya Prisha?” “Dia sedang marah, aku tidak mau mengganggunya.” Reno menganggukkan kepala, lalu mengantar bosnya sampai ke pintu utama. Dari balik jendela di lantai atas yang menjulang tinggi, Prisha memaku tatapannya pada siluet Asraf yang kian mengecil, membiarkan sekelumit desah napas halus lolos dari celah bibirnya yang bergetar sebelum akhirnya ia berbalik, menyeret langkahnya kembali ke dalam kamar. Prisha menyadari sepenuhnya bahwa setiap tindakan keji yang dilancarkan Asraf terhadap Nani dan Fardan adalah manifestasi dari sebuah pembalasan dendam yang membara demi melindungi dirinya. Namun, sebuah tabir gelap baru saja tersingkap, meninggalkan rasa getir dalam hatinya. Asraf bukanlah sekedar pria biasa, melainkan sang penguasa kegelapan—seorang bos mafia dengan reputasi kekejaman yang telah melegenda di seantero kota. Siapa pun yang menjadi sasaran bidiknya dipastikan akan bertekuk lutut, hancur lebur di bawah telapak kakinya yang tak mengenal ampun. Asraf juga terkenal di kota ini, selain menyandang status pewaris tunggal keluarga Pramulia, Asraf juga menyandang status bos mafia yang ditakuti semua orang. Prisha tahu bahwa ia akan aman di sisi Asraf, namun menerima kenyataan itu sulit juga bagi Prisha. Di dalam pikirannya yang mengajaknya debat, tiba-tiba pecah saat Yana muncul di ambang pintu, segera membungkukkan badan, menghaturkan penghormatan mutlak kepada sang Nyonya di hadapannya. “Nyonya, ini ada sarapan yang saya bawa. Ada sup penambah nutrisi juga.” Yana menaruhnya diatas meja sofa. “Bibi Yana merepotkan diri saja.” “Tidak apa-apa, Nyonya. Jangan katakan itu, saya bekerja di sini, jadi saya sudah terbiasa melayani majikan.” “Aku bukan siapa-siapa, Bi, aku juga bukan Nyonya rumah ini.” “Nyonya Prisha tidak boleh mengatakan itu, Anda sudah menjadi Nyonya rumah ini.” “Ya sudah. Terserah Bibi Yana saja. Tadi, Asraf sarapan apa, Bi?” “Bos Asraf hanya mencicipi satu lembar roti gandum tanpa toping, juga kopi espresso, hanya saja kopinya tidak habis. Beliau tidak makan makanan berat.” “Padahal biasanya Asraf makan makanan berat.” “Mungkin kepikiran karena Nyonya Prisha marah pada beliau.” “Asraf mengatakan bahwa aku marah?” tanya Prisha menatap Yana. “Iya. Beliau mengatakan ke semua orang di rumah ini untuk tidak mengganggu Nyonya Prisha yang sedang marah.” Prisha tertawa kecil dan menggelengkan kepala. *** Prisha masuk ke sebuah hotel bintang 7 yang ada di kota ini, Prisha pernah kemari sesekali ketika staycation dengan kedua orangtuanya, Prisha mendesah napas halus karena kenangan di hotel ini kembali membuatnya sedih, namun Prisha sudah berjanji pada orangtuanya akan menjalani hidup bahagia. Prisha kemari karena Reno mengatakan Asraf mau makan malam di sini, jadi Prisha harus menemani. Reno juga tak menemaninya ke hotel karena Reno masih harus mengurus hadiah untuk Prisha, karena titah dari bosnya. Prisha lalu melangkah menuju bagian resto, ketika hendak memasuki resto, Prisha bertabrakan dengan seorang pegawai resto yang membawa kue yang ada ditroli juga satu botol wine. Pegawai resto itu murka dan berkata, “Awas kamu. Kamu gembel tidak akan mampu membeli kue ini.” Pegawai resto itu mendorong Prisha dan membuat Prisha terbentur di tembok, membuat puncak kepalanya berdarah. Prisha membulatkan mata dan menoleh melihat pegawai itu. “Kamu!” “Apa? Kamu mau melawan saya? Kamu sendiri yang datang menabrak saya. Dan, lihat kue ini, posisinya saja sudah tidak simetris. Semua ini gara-gara kamu.” “Tapi apa harus kamu mendorong saya?” “Ya saya harus melawan kamu karena ini adalah kue untuk seseorang yang penting.” “Tapi kamu—” Pegawai resto itu kembali mendorong Prisha dan membuat Prisha jatuh ke lantai, Prisha semakin marah dan berusaha menahan diri, semua orang yang ada didekatnya mulai menjadikannya tontonan. “Kamu kasar sekali,” kata Prisha. “Kue ini untuk calon istri dari Tuan Muda Pramulia. Kamu tidak akan mampu membelinya,” kata pegawai itu. “Acara ini sangat penting, tapi kamu merusak kuenya.” “Apa? Tuan Muda Pramulia?” “Ya. Kamu mengenalnya bukan? Beliau adalah orang terkaya di kota ini. Memegang kendali di kota ini. Dan, siapa pun yang berurusan dengan beliau, akan mati. Apalagi kamu dengan beraninya membuat kuenya tidak simetris lagi.” “Tapi kuenya baik-baik saja, kenapa kamu mendorong saya.” “Kamu sudah membuat saya marah,” kata pegawai itu kembali mendorong Prisha. “Kamu—” “Apa? Security!” teriak pegawai hotel itu. Dua security langsung datang. “Kalian tahan dia, saya akan suruh dia bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Ini untuk tamu penting kita, jadi jangan biarkan dia pergi.” “Lepaskan saya!” Dua security itu memegang kedua tangan Prisha, membekuk Prisha seperti seorang pencuri, Prisha melihat disekitar namun tak ada siapapun yang dia kenal, Prisha harusnya datang bersama Reno, namun Reno masih ada urusan, jadinya Prisha harus mengalami ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD