Prisha melihat pegawai resto itu sedang mengatur meja dan alat makan, Prisha tahu bahwa meja itu untuknya dan untuk Asraf, namun jika mengatakannya bahwa dia adalah tamu yang ditunggu, pegawai hotel itu tidak akan percaya.
Prisha seperti ingin menangis rasanya, berada ditengah kerumunan, ia seperti seorang pencuri yang merugikan hotel, bahkan dibekuk.
“Meja Tuan Muda Pramulia sudah selesai, dan kamu ikut saya.”
“Saya adalah calon istri Tuan Muda Pramulia. Kamu berani sama saya?”
“Apa?” Pegawai resto itu membulatkan mata namun tertawa setelahnya. “Calon istri Tuan Muda Pramulia? Dengan penampilan seperti ini?”
“Lepaskan saya, kamu akan menyesal setelah melakukan ini pada saya.”
“Apa? Menyesal? Saya akan mendapatkan promosi jabatan jika menangani kuman kecil sepertimu. Suruh dia berlutut!”
Kedua security itu memaksa Prisha berlutut didepan pegawai resto itu, semua yang melihat miris, karena tidak tahu apa yang terjadi, tapi banyak yang beranggapan Prisha mencuri sesuatu.
“Lepaskan tangan kotormu!” teriak seseorang yang saat ini masuk ke kerumunan.
Semua orang menoleh dan membulatkan mata, ketika mereka melihat pria tampan yang mendekati Prisha.
Pria itu adalah Asraf Zayed—sebuah nama yang senantiasa diucapkan dengan nada pemujaan sekaligus gemetar ketakutan. Ia berdiri sebagai, seorang penguasa yang kekayaannya mampu membeli dunia, namun sekaligus menyandang reputasi sebagai sang pembawa kegelapan yang namanya saja cukup untuk membekukan detak jantung siapa pun.
Di bawah sorot lampu yang memuja lekuk wajahnya yang tegas, Asraf bukan sekadar hadir, ia mendominasi atmosfer, menegaskan bahwa selain dikagumi bak dewa, ia adalah sosok predator puncak yang eksistensinya ditakuti oleh setiap jiwa yang bernapas di kota itu.
Asraf lalu memberi kode kepada anak buahnya untuk memukuli dua security yang saat ini membekuk kedua tangan Prisha.
“Tuan Muda, saya sudah siapkan meja untuk Anda. Silahkan. Tapi calon istri Anda belum datang,” kata pegawai resto itu.
Asraf melihat wajah Prisha yang terlihat berantakan, bahkan ada darah mengalir dari jidatnya, membuat Asraf mengepal kedua tangannya dan berbalik melihat pegawai resto itu.
“Kamu tidak tahu dia siapa?”
“Dia hampir membuat kue untuk calon istri Anda berantakan, Tuan Muda.”
“Apa? Hampir membuat kue berantakan? Lalu kamu melakukan ini kepadanya?”
“Iya. Saya tidak mau hari bahagia Tuan Muda jadi berantakan karena kesalahan.”
“Dia adalah calon istriku.”
Manik mata sang pelayan restoran membelalak lebar, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di sekitarnya tersedot habis oleh kehadiran sang penguasa yang mencekam. Tanpa sisa harga diri yang tertinggal, ia segera menjatuhkan raga ke lantai yang dingin, membiarkan lututnya menghantam ubin dalam sebuah gestur ketundukan di hadapan Prisha dan Asraf.
Dengan jemari yang gemetar hebat, ia menangkupkan kedua tangannya di udara—sebuah permohonan yang begitu nestapa dan mengharu biru. Ia bersimpuh bagaikan seorang pendosa yang tengah menantikan vonis dari dewa kematian.
“Maafkan saya, Tuan Muda, Nona Muda, maafkan saya, saya tidak tahu kalau Nona Muda adalah calon istri Tuan Muda Pramulia. Saya mohon, maafkan saya, saya benar-benar tidak tahu.”
“Reno!”
“Iya, Bos?”
“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan pada pegawai rendahan ini.”
“Iya, Bos. Tentu saja. Saya akan membuat pegawai rendahan ini tahu posisinya.”
“Ayo, Sayang, kita pergi dari sini.”
“Tuan muda, saya minta maaf, saya mohon maaf, saya tidak tahu kalau Nona Muda adalah gadis ini, saya minta maaf. JANGAN PERGI!” teriak pegawai resto itu.
“Tamat sudah riwayatmu.” Reno menyunggingkan senyum.
***
Setibanya di rumah, Prisha dan Asraf duduk di ruang tengah. Prisha sejak tadi diam saja, darah di kepalanya juga masih terlihat jelas, membuat Asraf marah besar, namun berusaha ia tahan didepan Prisha.
“Paman Jafar!”
“Iya, Bos?”
“Ambilkan kotak P3K.”
“Baik.”
Tak lama kemudian Jafar datang dan membawa kotak P3K. Lalu memberikannya kepada Asraf.
Asraf lalu mengobati luka Prisha, lalu menempelkan plester kecil di jidatnya.
Prisha lalu menyadari satu hal, tanpa Asraf hidupnya memang tak akan mudah, semua akan serba sulit, hari ini ia dipermalukan seperti seorang pencuri, jika bukan karena Asraf ia pasti masih dipermalukan.
“Aku sudah menghukum Reno, karena dia yang sudah membuat kamu seperti ini,” kata Asraf.
“Kenapa kamu menyalakan Reno?”
“Ya karena dia tidak becus menjagamu.”
“Kenapa kamu suruh orang lain menjagaku?”
“Aku punya banyak pekerjaan, jadi aku harus memberikan tugas pada Reno untuk menjagamu.” Asraf menjawab membuat Prisha memalingkan wajah. “Tapi, setelah kejadian ini, aku janji, aku akan terus menjagamu. Tak akan ku biarkan siapa pun menyentuhmu.”
Isak tangis yang tertahan akhirnya pecah, Prisha menangis sesenggukan, mengalun membelah keheningan ruangan dan merambat masuk ke dalam relung sukma Asraf. Setiap tetesan air mata yang jatuh bagaikan belati kristal yang menghujam tepat di jantung sang penguasa, meluluhlantakkan dinding keangkuhan yang selama ini ia bangun.
Siapa pun yang membuat Prisha marah dan sedih, Asraf pasti akan membalaskannya. Asraf tak akan diam saja, ia akan membuat siapa pun yang membuat Prisha sedih, membayar perbuatannya.
Asraf merengkuh tubuh mungil Prisha ke dalam dekapan dadanya yang bidang, seolah ingin memenjarakan Prisha dalam benteng perlindungan yang tak tertembus oleh marabahaya mana pun. Di satu sisi, ia membiarkan Prisha menemukan ketenangan dalam detak jantungnya, namun di sisi lain, tangan kokohnya mengepal dengan kekuatan yang sanggup meremukkan karang.
Asraf akan memastikan bahwa tiap tetes air mata Prisha akan ditukar dengan jerit kesakitan yang memilukan, memaksa para pendosa itu bertekuk lutut di bawah kaki otoritasnya hingga mereka memohon agar maut segera menjemput sebagai satu-satunya pengampunan.
***
Asraf masuk ke ruang bawah tanah, ia melihat pegawai resto itu sedang menangis dengan wajah berantakan. Sementara Reno masih melanjutkan hukumannya untuk pegawai itu.
“Bos, maafkan saya, saya benar-benar tidak tahu beliau adalah Nyonya. Saya mohon lepaskan saya, walaupun saya tidak punya siapa pun di dunia ini tapi saya masih ingin hidup.”
Asraf duduk di kursi kebesarannya, tepat dihadapan pegawai yang kedua tangannya diikat dengan rantai besi.
“Bos, aku mohon maaf, aku janji tidak akan melakukan itu lagi. Aku mohon.”
Sekeras apa pun pegawai itu memohon, namun tetap saja permohonannya ditolak. Asraf tidak rendah hati.
“Orang sepertimu hanya akan meresahkan. Jadi, percuma hidup.” Asraf meraih rokok dari bungkusnya, lalu Reno menyalakan korek api dan membakar ujung rokok itu.
“Bos, jangan bunuh saya, saya mohon, saya tidak tahu kalau beliau adalah Nyonya. Bos, saya akan melakukan apa pun selain mati. Saya mohon,” lirih pegawai itu dengan kedua tangan ia tengadahkan pada Asraf.
“Bagaimana selanjutnya, Bos?” tanya Reno.
“Sekarang … kamu lempar dia sejauh mungkin, biarkan dia hidup, tapi dia tidak boleh ada di kota ini.”
“Membiarkanmu hidup sudah sangat baik bagimu setelah menyakiti Nyonya. Kamu sudah membuat kepalanya berdarah dan membuat beliau terlihat seperti pencuri.” Reno kembali mencambuk pegawai itu membuat pegawai itu menangis merintih.
“Bos, saya punya kekasih di kota ini, saya tidak bisa hidup tanpanya.”
“Kalau kamu tidak bisa hidup tanpanya, kamu bisa mati. Dan, tadi kamu mengatakan kamu tidak punya siapa pun? Bagus. Itu lebih baik, dan tidak akan ada yang mencarimu.”
“Bos,” lirih pegawai itu masih berusaha memohon.