Prisha tersentak dari lembah tidurnya ketika keheningan malam terkoyak oleh hantaman bingkai jendela yang saling beradu, seolah-olah alam sedang meneriakkan peringatan yang tak tertangkap oleh nalar. Angin dari luar menerobos masuk, membawa hembusan napas musim dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di tengah cakrawala malam yang buta ini, kesunyian tidak lagi menjadi ketenangan, melainkan menjelma menjadi jeritan bisu yang menyayat sukma.
Tiba-tiba, sebuah dentuman logam yang asing—suara tembakan yang samar namun mematikan—membelah udara, menggetarkan sanubari Prisha yang kian rapuh. Dengan jantung yang berdegup kencang bak genderang perang, ia menoleh ke sisi ranjang, mencari sandaran jiwanya. Namun, yang ia temukan hanyalah hamparan seprai yang dingin dan kosong. Asraf tak disampingnya. Membuat Prisha takut akan sepi saat ini.
Prisha memaku pandangannya ke arah hamparan taman belakang yang kini telah ditelan oleh kepekatan malam. Di sana, di ambang batas antara peradaban dan keliaran, ia menangkap sekelibat bayangan misterius—sesosok manusia yang dibalut jubah kegelapan serba hitam, bergerak lincah bagaikan hantu yang membelah sunyi, sebelum akhirnya melenyapkan diri ke dalam dekapan hutan yang rimbun.
Dengan keraguan yang menggantung di udara dan alis yang bertaut membentuk simpul kecemasan, ia menarik diri dari pemandangan mencekam itu. Diraihnya bingkai jendela, lalu menutupnya rapat-rapat, seolah ingin mengunci segala kengerian dunia luar.
Didorong oleh keresahan yang kian membuncah, Prisha akhirnya memberanikan diri melintasi ambang pintu, membiarkan jemarinya meraba dinginnya dinding saat ia melangkah keluar dari zona perlindungannya. Ia menyusuri lorong panjang yang seolah menjelma menjadi labirin tak berujung, di mana kegelapan tidak sekedar hadir, melainkan terasa seperti makhluk hidup yang merayap perlahan di setiap sudut ruangan, siap menelan setiap sisa cahaya yang tertinggal.
Setiap derit kayu menjadi rentetan langkah kaki Prisha, berusaha mencari seseorang yang bisa ia tanyai. Rasa dingin merayap di tulang, bukan karena suhu, tapi karena ketakutan.
Entah apa yang membawa Prisha ke ruangan belakang loteng, mungkin gelap yang menghantarkannya di sini, Prisha melihat sebuah cahaya minim di sebuah pintu yang ada dibawah loteng.
Prisha hendak masuk ke pintu itu, namun terkejut dan membulatkan mata ketika melihat jejak darah, Prisha langsung menutup mulut karena darah itu masih cukup segar dan baunya belum terlalu menyengat, apa ada hubungannya dengan suara tembakan yang ia dengar dengan samar?
Jantung Prisha seperti mau copot rasanya, ia hendak masuk ke ruangan dengan pintu terbuka sedikit yang sejak tadi sudah mengalihkannya. Namun, sebuah tangan memegang pundaknya dan Prisha berteriak sejadi-jadinya, secara bersamaan semua lampu di rumah besar ini menyala.
“Nyonya, ini saya. Nyonya!”
“Ada darah, darah. Darah. Jangan ganggu aku.”
“NYONYA!”
Prisha berhenti berteriak dan berbalik melihat Jafar dan Yani berdiri dibelakangnya.
“Kalian mengejutkanku,” lirih Prisha.
“Maaf, Nyonya. Apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Jafar.
“Aku mau cari Asraf. Paman Jafar dan Bibi Yani tahu dimana dia?”
“Bos Asraf sepertinya di ruang kerjanya,” jawab Yani.
“Benarkah? Ruang kerjanya dimana?” tanya Prisha lagi.
“Di lantai atas, tepat di ruangan ujung, tak jauh dari kamar Nyonya.”
“Benarkah? Ya sudah. Aku akan ke sana.”
Jafar dan Yani menganggukkan kepala.
“Oh iya, ada darah, darah. Kalian bersihkan darah itu.” Prisha menggeleng tak percaya.
“Ini bukan darah, Nyonya. Anda salah.”
“Lalu ini apa?” tanya Prisha.
“Ini adalah sebuah cat yang akan digunakan di Gudang.” Jafar berbohong.
“Benarkah? Ah aku tidak percaya. Warnanya mirip darah, aku akan membuktikannya,” kata Prisha hendak menyolek darah itu, namun dengan cepat Yani me-lap semuanya.
“Maaf, Nyonya, ini cukup kotor,” kata Yani menundukkan kepala.
“Kok kamu lap sih? Aku kan mau mencium aromanya. Tidak ada aroma cat di sini.”
“Tapi ini tetap kotor, tangan Anda bisa kotor.”
Prisha tak mungkin marah pada Yani, ia membiarkannya saja kali ini.
Prisha menganggukkan kepala. “Ya sudah. Kalian bersihkan ini.”
“Baik, akan kami bersihkan.”
“Oh iya. Aku mau tanya lagi,” kata Prisha membuat Jafar dan Yani semakin takut menjawab pertanyaan Prisha.
“Ada apa, Nyonya?” tanya Jafar.
“Kalian ada dengar suara tembakan tidak? Suaranya cukup kuat, walau aku dengarnya dengan samar, terus aku melihat seseorang berlari masuk ke hutan, pakaiannya serba hitam. Kalian mendengarnya? Kalian tahu siapa?” tanya Prisha.
Jafar dan Yani saling melemparkan tatapan yang sarat akan kebimbangan, sebuah dialog tanpa kata yang menggantung di antara mereka seperti kabut tebal yang menyelimuti rahasia. Lidah mereka seolah terkelu oleh rantai kesetiaan dan rasa takut, menyadari sepenuhnya bahwa yang dicari Prisha berada di luar cakrawala otoritas mereka—sebuah ranah terlarang yang hanya boleh disingkap oleh sang penguasa sendiri.
“Kalian tidak mau menjawabnya?” tanya Prisha.
“Kami tidak mendengar suara atau melihat orang yang Nyonya maksud.” Jafar menjawab.
“Kalian kan sejak tadi di sini, masa tidak mendengarnya.”
“Benar, Nyonya. Kami tidak mendengarnya. Maaf kalau kami tidak mendengar dan tidak melihat orang yang berlari masuk ke hutan itu.” Yani menimpali.
Jafar menggerakkan jemarinya untuk merapatkan daun pintu yang sedari tadi menjadi rasa penasaran Prisha—sebuah portal kayu yang seolah menyimpan ribuan rahasia kelam di baliknya. Suara derit pintu yang tertutup itu bergema bagaikan sebuah titik pamungkas yang memutus jembatan antara keingintahuan Prisha dan kebenaran yang tersembunyi dalam bayang-bayang.
“Kalian jangan bohong ya sama aku,” kata Prisha.
“Kami tidak mungkin ada keberanian berbohong pada Nyonya.”
“Siapatahu saja orang yang Nyonya lihat berlari masuk ke hutan adalah salah satu penjaga di rumah ini, mungkin sedang mengejar maling,” sambung Jafar berusaha mengalihkan.
“Maling? Benar juga.” Prisha berpikir sejenak. “Lalu kalian kenapa belum tidur? Apa yang kalian lakukan di luar kamar jam begini? Kalian jangan-jangan—”
“Kami—”
“Prisha!”
Prisha memutar badan dan seketika itu pula netranya bertabrakan dengan sosok Asraf yang telah berdiri mematung di balik punggungnya, laksana bayang-bayang yang tercipta dari kepekatan malam.
Tanpa sepatah kata pun, Asraf melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma maskulin yang dominan mengepung indra penciuman Prisha. Dengan gerakan yang posesif namun sarat akan keanggunan, jemari kokoh Asraf merengkuh pinggang ramping Prisha, mengunci wanita itu dalam sebuah dekapan yang mendominasi ruang dan waktu. Biasanya Prisha bergidik ngeri, namun kali ini Prisha seolah sudah terbiasa dengan sentuhan Asraf.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu tidak tidur?” tanya Asraf memandang Prisha.
“Aku tadi mendengar sesuatu,” jawab Prisha.
“Kamu mendengar suara tembakan?” tanya Asraf lagi.
“Nah iya. Aku mendengar suara tembakan.” Prisha mengangguk semangat, karena Asraf tahu apa yang mengganggu pikirannya.
“Itu hanya kuman kecil. Semuanya sudah beres.”
“Kamu yang berlari masuk ke hutan?”
“Aku? Tidak mungkin. Apa yang ku lakukan di hutan?”
“Aku tadi melihat orang berlari masuk ke hutan.”
“Aku sudah katakan, ada kuman kecil, jadi harus di tembak.”
“Maksud dari kuman kecil apa?” tanya Prisha masih penasaran, ia jadinya mengulang pertanyaan yang ia lemparkan pada pasangan suami istri itu.
“Prisha, ada maling, jadi kamu tidur lagi.”
“Tapi—”
“Kamu tidak bisa tidur?” tanya Asraf.
Prisha mengangguk. “Aku takut.”
Dengan gerakan yang penuh ketampanan laksana seorang pangeran dari dunia kegelapan, ia menyusupkan lengannya di bawah raga Prisha, mengangkatnya dalam dekapan bridal style seolah wanita itu adalah pusaka paling berharga di jagat raya. Mereka mulai meniti anak tangga satu demi satu, mendaki menuju puncak peraduan.
Dalam jarak yang nyaris tanpa batas, Prisha memaku pandangannya pada rupa Asraf yang bertahta dalam kesempurnaan mutlak. Ia menyesap setiap detail garis wajah pria itu—rahang yang tegas sekeras karang dan netra yang menghanyutkan—yang kini berada begitu dekat, hingga napas mereka berpadu dalam simfoni yang sama. Seolah digerakkan oleh naluri yang tak lagi mampu ditolak, Prisha melingkarkan kedua tangannya di leher Asraf.
Jantung Prisha berdebar, ia tidak mengerti mengapa jantung dan hatinya tiba-tiba berdebar, biasanya ia tidak punya perasaan apa pun pada Asraf. Perasaan yang Prisha simpan untuk Asraf hanya rasa takut, tapi sekarang ia sudah tidak takut lagi.
Asraf lalu menurunkan Prisha ke atas ranjang, Asraf menyelimuti Prisha.
Asraf mengecup puncak kepala Prisha dan berkata, “Tidur lah. Aku masih ada pekerjaan.” Asraf hendak pergi, namun Prisha menarik tangannya dan membuatnya duduk di tepi ranjang.
Asraf membulatkan mata dan berusaha mengatur napasnya, baru kali ini Prisha seolah menatapnya penuh perasaan.
“Ada apa?” tanya Asraf.
Prisha bangun dari pembaringannya dan duduk dihadapan Asraf.
Prisha mengangkat tangan kanannya dan menyentuh wajah Asraf yang tampan, Prisha tersenyum, sementara tatapan mata Asraf berbinar-binar.
Prisha mengelus pipi Asraf, membuat Asraf menunduk.
“Ada apa?” tanya Prisha. “Kenapa matamu berkaca-kaca?”
Asraf mengangkat wajah dan berkata, “Prisha, aku senang. Baru kali ini kamu menyentuh wajahku dan mengelusnya. Ini pertama kali. Aku bahagia, karena itu mataku berkaca-kaca.”
Sebuah lengkungan kurva yang manis terlukis di bibir Prisha, mengawali sebuah keberanian yang tak terduga kala ia mendaratkan kecupan lembut nan menggoda di atas bibir Asraf.
Sentuhan yang sekilas namun mematikan itu seketika menyulut sumbu hasrat di dalam raga Asraf, membangkitkan gairah yang bergejolak dahsyat hingga memuncaki ubun-ubunnya.
Asraf membulatkan mata. Rupa Prisha bertahta dalam balutan aura sensual yang begitu indah, dengan kulit seputih pualam yang seolah memancarkan cahaya surgawi di tengah remang malam. Terlebih lagi, pemandangan pada belahan dadanya yang indah terus-menerus merampas sisa-sisa fokus Asraf.