Kelopak mata Prisha bergetar pelan saat kesadaran merayap masuk. Di bawah dekapan sutra selimut yang dingin, ia menyadari kerentanan dirinya yang polos tanpa sehelai benang pun, seolah kulitnya tengah b******u langsung dengan udara pagi yang sunyi. Saat ia memalingkan wajah, netranya tertumpu pada sosok Asraf yang baru saja melangkah keluar dari bilik busana. Pria itu berdiri bagaikan pahatan dewa dari zaman kuno yang hidup kembali, sebuah simfoni garis tubuh yang tegas dan maskulin. Meski kini raga nan perkasa itu telah terbungkus rapi oleh setelan jas mewah yang dijahit dengan presisi sempurna, aura kemegahannya tetap memancar, mengancam pertahanannya. Terpaku oleh pesona yang menyesakkan d**a, Prisha segera mengatupkan matanya rapat-rapat. Ia berusaha keras menghalau bayangan esteti

