Pagi hari, Resha merasa seperti ada beban berat yang menindih tubuhnya. Perlahan Resha membuka matanya dan benar, kaki Agha menindihnya dan tangannya masih setia memeluk Resha.
Pelan, Resha melepaskan pelukan Agha namun Agha semakin mengeratkan pelukannya. Resha tau jika Agha sengaja menggodanya. Tak hilang akal, Resha menggelitiki Agha. Sungguh Agha tak bisa menahan rasa gelinya hingga ia pun melepaskan pelukannya.
Tak mau kalah, Agha pun membalas Resha dan mereka saling mengelitikin satu sama lain. "Ampun mas, geli" kata Resha yang sudah tidak tahan karena geli. Tak ingin melepas, Agha malah menggoda Resha dengan terus mengelitikinya.
Resha, yang mulai dan Resha pula yang kena imbasnya. "Mas Abi ampun, nanti Resha ngompol" sungguh, Agha pengen tertawa terbahak mendengar ucapan polos istrinya.
Agha menghentikan aktivitasnya lalu ikut tiduran kembali di samping Resha. "Re?"
"Iya" jawab Resha sembari mengatur nafasnya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Agha.
"Mas Abi mau tanya apa?"
Agha merubah posisinya untuk bisa menghadap Resha. "Kenapa kamu mau di jodohkan?"
Deg, pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Agha. Resha terdiam sejenak. "Resha, hanya ingin menjadi anak yang berbakti mas. Resha tidak ingin mengecewakan ayah sama ibu" jawab Resha sembari tersenyum menoleh ke arah Agha.
"Apa jangan-jangan kamu mau menerima perjodohan ini karena kamu tau mau dijodohkan sama aku?" sungguh Agha sangat senang jika menggoda istrinya.
"Ich mas Abi kepedean. tapi Resha tidak menyangka lho mas kalau laki-laki yang dijodohkan sama Resha itu mas Abi"
"Sama. Aku juga tidak menyangka kalau aku bisa nikahin kamu"
"Berarti mas Abi memang berharap ya bisa nikahin Resha?" goda Resha sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah Agha.
Agha tersenyum tidak jelas. Hanya menggoda seperti itu, membuat Agha salah tingkah. Agha berdiri dari posisinya, di ikuti Resha yang juga berdiri. "Aku mau mandi keramas dulu, keburu habis waktu Subuhnya" ujar Agha mengalihkan pembicaraan.
"Hayo.. mas Abi mimpi apa semalam subuh-subuh sudah mau mandi keramas?"
"Mimpiin kamu gak pakai baju" bisik Agha yang membuat pipi Resha merah merona. Niat hati ingin menggoda Agha tapi selalu Resha yang terjebak godaannya sendiri.
"Mas Abi porno"
"Biarin, wlek" balas Agha sembari menjulurkan lidahnya. "Mau mandi bareng?" goda Agha sekali lagi. Resha, menggeleng dan berlari duluan masuk ke dalam kamar mandi. Agha tersenyum melihat tingkah istrinya.
Tak lama Resha keluar dari kamar mandi, sudah dengan baju muslimnya dan juga jilbabnya. 'Kapan kamu melepas jilbabmu Re' batin Agha. Tak munafik, ia ingin menikmati keindahan istrinya, tapi ia sudah berjanji tak akan memaksa Resha sampai gadis itu benar-benar siap.
"Mas?" panggil Resha.
"Eh.. iya, ada apa?"
"Tidak jadi mandi?" Agha melihat jam di dindingnya. Masih bisa.
"Iya, ini mau mandi" jawab Agha. Tak lama Agha selesai mandi dan mereka sholat subuh bersama. Selesai sholat subuh Resha turun ke bawah untuk membantu mama masak karena si mbok lagi cuti pulang kampung.
Beres membantu mama masak dan menghidangkan sarapan, Resha kembali ke atas untuk memanggil Agha juga sekalian ganti baju. Hari ini, Resha akan kembali kuliah setelah satu Minggu meliburkan diri.
Agha dan Resha turun bersama. Papa dan mama tersenyum bahagia melihat Agha dan Resha akur. Terlebih, Agha yang dengan mudah bisa menerima kehadiran Resha di hidupnya.
Sudah ada mama, papa, kak Fanya dan Ferdy di meja makan. "Kita tidak salah pilih menantu" ujar papa pada mama.
"Iya pa" jawab mama
"Agha, kamu sudah mau ngantor?" tanya papa yang melihat Agha sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Iya pa" jawab Agha singkat.
"Kamu gak ambil cuti dulu sayang?" tanya mama
"Enggak ma" jawab Agha.
"Ini, Resha juga mau kemana sudah rapi begini?" tanya mama.
"Resha, mau kuliah ma soalnya kemarin cuma ijin satu Minggu" jawab Resha.
Mama menghela nafas berat. "Kalau Agha sibuk kerja, Resha kuliah, bagaimana cucu mama cepat jadinya?" ujar mama kecewa.
Resha dan Agha saling melirik. Ada rasa bersalah dalam benak Resha, karena sampai saat ini, Resha masih belum siap dengan semua itu. "Ma, Agha sama Resha sudah sepakat untuk menunda memiliki momongan" balas Agha yang mendapat tatapan penuh pertanyaan dari mama.
"Resha masih kuliah, ma" jawab Agha beralasan.
"Lalu kenapa? tidak masalah bukan?"
"Mereka masih ingin pacaran ma, bukan begitu Agha? Resha?" papa yang bicara.
Agha dan Resha mengangguk bersamaan. "Lagian sebentar lagi kita kan juga bakal punya cucu dari Fanya" tambah papa yang membuat senyum mama kembali merekah.
"Loe hamil kak?" tanya Agha kaget namun bahagia.
"Iya" jawab Fanya sembari memainkan alisnya naik turun.
"Hebat juga loe kak, selain rajin lembur kerja rajin juga loe lembur bikin anak" goda Agha pada Ferdy yang mendapat lemparan jeruk dari Kak Fanya karena ucapan fulgarnya.
Selesai sarapan, Agha mengantar Resha ke kampus terlebih dulu sebelum ia ke kantor. "Mas?" panggil Resha.
"Iya" jawab Agha yang masih fokus menatap jalan.
"Enggak jadi" Resha kembali menatap ke samping pintu mobil. Diam, memperhatikan jalanan dari samping mobil. Dia masih kepikiran ucapan mama mertua namun ia tak berani untuk membicarakannya pada Agha.
Agha menatap Resha sebentar. Terlihat raut sedih di wajah ayu istrinya itu.
"Re?" Resha menoleh ke arah Agha. "Soal omongan mama tadi, tidak usah kamu pikirkan ya?" kata Agha mencoba menenangkan Resha. Ia tau Resha pasti kepikiran soal ucapan mamanya tadi pagi. "Benar yang di bilang papa tadi, lebih baik kita pacaran saja dulu" usul Agha.
"Tapi kita kan sudah menikah mas?"
"Ya gak papa, pacaran setelah halal akan lebih enakkan?" kata Agha sembari menengok sebentar kearah Resha lalu kembali fokus menyetir.
"Dimana coba enaknya?" tanya Resha entah tak mengerti atau hanya pura-pura tak mengerti.
"Ya misal kita pegangan tangan, tidak berdosa. terus kalau kita mau ciuman juga tidak apa-apa bahkan dapat pahala, bahkan lebih pun juga tidak masalah" Agha mulai suka memancing Resha, tapi sayang yang di pancing sepertinya tidak engngeh.
"Berarti mas Abi dulu waktu pacaran suka pegang-pegangan tangan ya??? suka ciuman juga ya?"
Agha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Agha tersenyum salah tingkah. "Kok kamu tau?"
"Kelihatan kali"
"Cuma pegangan tangan sama ciuman dong kok"
"Yakin tu bang cuma ciuman doang tangan gak kemana-mana?"
Lagi-lagi Agha di buat mati kutu. "Raba-raba sedikit saja re. Tapi kalau yang lebihnya enggak" terang Agha segera. "Kalau itu nanti saja sama kamu ya?" tak ingin terpojokkan, Agha selalu ada cara untuk menggoda Resha.
"Maunya" Agha hanya tertawa mendengar balasan Resha. Tak lama mereka sampai di kampus, Resha. Resha, segera turun dari mobil Agha tapi sebelumnya, tak lupa ia menyalami tangan Agha sebagai tanda hormatnya seorang istri pada suami. Agha yang mendapat perlakuan seperti itu, hanya bisa tersenyum sendiri di dalam mobilnya. Ia tak menyangka jika menikah dengan Resha akan memberi warna tersendiri dalam hari-harinya.
Resha, masuk dengan senyum yang sumringah. Bagaimana tidak? menikah dengan Agha di luar ekspektasinya. Pria itu terkadang dewasa, terkadang juga seperti anak kecil jika sudah bertemu kak Fanya. Asyik, seru dan sering fulgar jika berbicara. Jauh dari Agha yang Resha kenal sebelumnya. Agha dari dulu memang dewasa, asyik seru jika di ajak ngobrol tapi tak sefulgar sekarang.
"Cie pengantin baru gue perhatiin dari tadi senyum-senyum sendiri?" goda Ayu lalu ikut duduk di sebelah Resha.
"Gimana Re rasanya?" tanya Salsa kepo.
" Gimana apanya?" Ayu yang bertanya.
"Malam pertama?"
"Jangan loe jawab dulu re, gue juga mau denger" selah Edo yang baru datang dan langsung ikut bergabung yang berhasil mendapat tabokan buku dari Salsa.
"Ngapain sih loe selalu ikut nimbrung perempuan?" ujar Salsa kesal.
"Ya kan kalau nanti gue nikah gue bisa praktekin" bela Edo.
"Gaya loe do, bukannya loe seniornya dalam bercinta" balas Ayu. Edo hanya tersenyum, apa yang di bilang Ayu memang benar. Edo memang sering gonta-ganti pasangan hanya sekedar untuk menemaninya semalam. Memuaskan hasratnya.
"Re, berarti loe udah gak perawan dong?" semua menatap Resha, bahkan mahasiswa yang lewat pun juga ikut menatap Resha ilfil. Sungguh Resha dibuat malu dengan ucapan ceroboh Edo.
Plak... satu pukulan dengan dua tumpuk buku melayang di kepala Edo. "Sakit Resha" pekik Edo sembari mengelus kepalanya yang memang sakit.
"Makanya bacot di jaga" ucap Resha. Resha memang bobrok jika sudah berkumpul bersama teman-temannya.
Sedang di sana di perusahaan keluarga Gadendra. Agha datang dengan senyum sumringahnya. Tak sedikit karyawannya yang mengucapkan selamat padanya dan dia hanya membalasnya dengan ucapan 'terimakasih' tak lupa senyum ia selipkan. Agha yakin, ini pasti ulah Ferdy. Karena orang kantor tidak ada yang tau, selain dirinya, Ferdy dan asisten Gion.
Banyak karyawannya yang turut bahagia dengan pernikahannya tapi tak sedikit juga karyawannya yang patah hati.
Agha, duduk di kursi kebesarannya setelah satu Minggu tak ia duduki. Pekerjaan sudah menantinya, dengan cermat dan penuh semangat, Agha memulai pekerjaannya. Pria itu sangat begitu serius. Tidak seperti biasanya yang suka ogah-ogahan.
*****
Tiga Minggu berlalu, kegiatan Agha masih sama. Mengantar Resha ke kampus jika Resha ada kelas pagi lalu ke kantor dan bekerja. Kini Agha juga jarang ambil lembur hingga larut. Sebelum magrib ia sudah sampai di rumah dan makan malam bersama keluarganya dan semenjak menikah, ia juga tak pernah lagi nongkrong dengan teman-temannya. Agha lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.
Seperti biasa, selesai makan malam, keluarga Gadendra selalu meluangkan waktu untuk berkumpul di ruang tengah, lebih tepatnya ruang keluarga. Hanya sekedar untuk mengobrol.
"Agha, besok kamu terbang ke kota P untuk memantau proyek di sana?" inilah sifat papa Gadendra yang sangat tidak di sukai Agha. Selalu mendadak jika menginginkan sesuatu.
"Pa, itukan proyek kak Ferdy? kenapa harus Agha yang ke sana?"
"Kakakmu besok mau ke kota M" balas papa.
Agha menghela nafasnya berat setelahnya menoleh ke arah Resha. "Loe ajak Resha, sekalian kalian bulan madu?" usul Ferdy.
"Mama setuju" kata mama menimpali dengan semangat. "Bagaimana sayang?" tanya mama pada Resha.
"Maaf ma, tapi Resha tidak bisa ikut mas Abi soalnya besok Resha ada ujian" jawab Resha.
"Resha, mas mu pasti lama di sana. Papa sama Mama juga mau ke negeri J besok lusa. Kamu gak papa di rumah sendiri? " ujar papa.
Resha, tersenyum. "Gak papa kok pa, Resha sudah biasa sendiri" jawab Resha. Tak lama Agha dan Resha pamit kembali ke kamar. Resha, ke kamar mandi terlebih dulu untuk menggosok gigi dan mengganti pakaiannya dengan piyama.
"Re?" panggil Agha ketika Resha baru keluar dari kamar mandi.
"Kenapa mas?" balas Resha yang ikut duduk di tepi ranjang bersama Agha.
"Kamu yakin gak papa aku tinggal sendiri?" tanya Agha yang belum puas dengan jawaban Resha tadi.
"Iya mas aku gak papa" jawab Resha. "Oh ya, mas Abi berapa lama di sana?" tanya Resha.
"Sepuluh hari" jawab Agha. Resha, berdiri dari duduknya, berjalan ke arah lemari untuk menyiapkan pakaian Agha untuk di bawa besok.
Sebelum berangkat ke kota P, Agha lebih dulu mengantar Resha. Ini kali pertamanya ia meninggalkan Resha sendiri. Berat bagi Agha. Namun, ia tak bisa menolaknya.
"Kamu hati-hati ya di rumah sendiri? kalau ada apa-apa cepat panggil pak si mbok atau pak satpam?" pesan Agha yang di balas senyum manis Resha.
"Iya, mas Agha juga hati-hati ya di sana. Maaf Resha tidak bisa antar ke bandara" ucap Resha penuh sesal.
"Iya gak papa" balas Agha sembari mengelus pelan pucuk kepala Resha. Seperti biasa, sebelum turun Resha selalu mencium lengan tangan Agha. "Cepat pulang, Resha akan sangat merindukan mas" ujar Resha yang langsung keluar mobil tanpa menunggu jawaban Agha.
Dalam hati, Resha ingin ikut bersama Agha, namun apa boleh buat, takdir berkata lain.
*****
Hampir satu Minggu di tinggal Agha, empat hari pula Resha tak bisa tidur. Entahlah, ada yang hilang dari dirinya. Walau Agha rutin memberinya kabar namun entahlah, Resha juga tak mengerti dengan dirinya.
Resha, membanting dirinya di kasur. Dia membuang nafasnya kasar. "Mas Abi, kapan mas Abi pulang? Resha sudah rindu" ujarnya pada diri sendiri.