Dua Minggu setelah sore itu, Agha dan Resha tak pernah bertemu kembali. Sekedar menanyakan kabar pun juga tidak. Agha yang akhir-akhir ini sibuk dengan bisnisnya dan Resha, yang memang sengaja menghindar dari Agha. Bukan hanya Agha, dia menghindari semua laki-laki yang sedang mendekatinya. Dia tak ingin memberi harapan.
Aku tak tau apa yang aku harus lakukan, ingin ku menolak namun apalah dayaku. Aku hanya seorang anak yang tak bisa menentang keinginan orangtua. Aku hanyalah seorang anak yang selalu ingin berbakti pada orangtua, karena aku tau, restu orangtua adalah restu mu dan ridho orangtua adalah ridho mu. Ku pasrahkan semuanya padamu Tuhan. Rencana mu lebih indah dari anganku. Tulisnya di salah satu akun media sosial miliknya.
Jujur dari lubuk hatinya, Resha tak ingin berada di posisi seperti ini. Dia ingin berontak namun tidak, dia tak ingin mengecewakan orangtuanya. Apapun akan dia lakukan untuk orangtuanya termasuk mengorbankan kebahagiaannya.
Air matanya kembali mengalir tanpa permisi. Resha, segera menyekanya lalu tersenyum semanis mungkin. Dia selalu menguatkan dirinya sendiri walau hatinya rapuh.
"Resha, yakin ini jalan yang terbaik dan dibalik ke sedihan akan ada kebahagiaan" ujarnya, meyakinkan dirinya.
======
Agha, menuruni anak tangga dengan terburu-buru karna Arif, sudah menunggunya di depan.
"Agha, mau kemana kamu, nak?" tanya mama menghentikan langkah Agha.
"Mau keluar sebentar, ma" jawab Agha singkat.
"Agha, sebentar lagi kamu akan menikah tolong rubah kebiasaan kamu yang suka nongkrong tidak jelas itu" ucap papa
"Agha, sudah menuruti keinginan papa untuk menikahi perempuan yang Agha sama sekali tak mengenalnya jadi tolong, tolong kali ini saja biarkan Agha menikmati masa bujang, Agha" ujar Agha yang langsung meninggalkan orangtuanya. Agha, ngedumel sepanjang keluar dari rumah.
"Kenapa loe, gha? udah kayak perempuan aja loe ngedumel?" tanya Arif setelah Agha berada di dalam mobilnya.
Perlahan mobil Arif meninggalkan halaman rumah Agha. Mobil Arif melaju dengan mulus setelah keluar dari area perumahan, Agha.
"Gue mau nikah bulan depan" sssttttt, Arif rem mendadak. "Loe bisa nyetir gak sih, Rif?" omel Agha dengan tekanan.
"Apa loe bilang tadi, loe mau nikah?" tanya Arif meyakinkan setelah mobilnya kembali berjalan normal.
"Iya, gue mau nikah bulan depan" Arif menatap Agha tak percaya lalu fokus kembali ke jalan. "Bokap gue jodohin gue sama anak temannya" lanjutnya, tak di sangka Arif tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Agha.
"Udah gak mampu loe cari istri sampai di jodohin segala atau loe udah gak laku" ledek Arif
"Sialan loe, Rif harusnya loe bantu gue bukan malah ledek gue"
"Apa yang harus gue lakuin, apa gue harus bawa loe kabur?" Arif, memarkirkan mobilnya di sebuah cafe outdoor. Sudah ada yang lain di sana.
"Loe jangan bilang anak-anak kalau gue mau nikah, awas aja sampai bocor" ancam Agha sebelum mereka masuk. Tak ada jawaban dari Arif, mereka langsung masuk dan menghampiri Ical dan Danu yang sudah menunggu dari tadi.
"Loe macam ajak perawan aja Rif, lama" canda Ical
"Lebih gampang ijin ama bokapnya anak perawan daripada ama bokapnya, Agha" timpal Danu
"Sialan kalian" ujar Agha kesal. Ya tuan Gadendra, sering melarang Agha jika hanya untuk nongkrong tidak jelas, beliau juga tak segan mengingatkan teman Agha untuk mengurangi membuang waktu yang tidak penting. Beliau tak ingin mereka salah pergaulan.
Malam ini, ada band lokal yang jadi bintang tamu di cafe itu. Agha, dan teman-temannya sangat menikmati lagu yang sedang dibawakan.
Tak hanya Agha, ada Resha dan teman-temannya juga di cafe itu. Entah kebetulan atau bagaiman, tapi mereka selalu bertemu tanpa disengaja.
Resha, sangat menikmati lagunya bahkan gadis itu ikut bernyanyi pelan. Senyum manis selalu merekah di wajah ayunya. Seperti tak ada beban hidup dalam dirinya.
Begitulah Resha, dia selalu bisa menutupi kesedihannya. Dia selalu terlihat bahagia. Dia selalu terlihat tegar, walau hatinya sesungguhnya rapuh.
"Itu cewek yang pakai Hoodie kuning, yang berhijab. senyumnya, sungguh bikin hati gue adem" ucap Danu, sembari memperhatikan meja Resha dan teman-temannya.
Agha, menoleh kearah meja yang Danu, perhatikan dari tadi. Resha. Tak sadar, bibir Agha melengkung membentuk senyuman. Sudah hampir dua Minggu ia tak bertemu Resha, dan malam tanpa kesengajaan, Tuhan mempertemukan mereka.
Tanpa Agha sadari, dia merindukan senyuman manis itu. Senyum yang mampu membuat hatinya sejuk. Senyum yang mampu membuatnya nyaman. Pria itu terus memperhatikan Resha.
"Resha, kita dekat tapi kenapa jauh" batin Agha. Mata Agha tak lepas dari pandangan, Resha.
"Masih ada kesempatan, keluar dan temui dia, gue tau loe rindu sama dia" bisik Arif.
"Tidak Rif, gue gak mau bikin dia sedih. Resha, sudah bahagia, gue gak mau kembali masuk dalam kehidupannya jika akhirnya nanti gue tinggalin dia" ucapnya pelan. Dia tak melepaskan pandangannya dari, Resha.
Resha, masih asyik menikmati lagunya sambil sesekali ngobrol sama temannya. Edo, membisikkannya sesuatu. Baru Resha, sadar jika sedari tadi ada seseorang yang memperhatikannya.
Resha, menatap kearahnya. Hanya senyum manis yang Resha, suguhkan untuk Agha. Agha, membalas senyum manis, Resha. Namun hatinya semakin sakit.
"Resha, maafkan aku jika aku pernah masuk dalam kehidupanmu lalu hanya untuk meninggalkanmu, mungkin saling jauh seperti ini adalah jalan terbaik" batinnya.
"Mas Abi, makasih sudah pernah masuk ke kehidupan Resha dan menghibur Resha di saat Resha jatuh, maaf mungkin hubungan pertemanan kita sampai di sini. Semoga mas Abi bahagia bersama kekasih mas Abi" batinnya.
Saling menjauh, bukanlah keinginan mereka. Mereka masih ingin menjalin pertemanan yang lebih dekat namun keadaan memaksa mereka menjauh.
Resha, kembali fokus ke teman-temannya. Gadis itu mengabaikan pandangan, Agha begitu saja. Ini jalan yang dia pilih. Menghindar dan tak memperdulikannya lagi.
"Loe mau kemana, dan?" Danu, beranjak dari tempat duduknya. Tak memperdulikan pertanyaan Arif, dia berlalu begitu saja.
Tak ada yang menyangka, Danu menghampiri meja Resha dan temannya dan Resha sendiri yang mempersilahkannya gabung. Agha, yang melihatnya tak percaya.
Dengan sengaja, Danu mendekati Resha, namun ada Edo disana yang siap menjaga Resha. Edo selalu menghalangi Danu untuk mendekati sahabatnya karna dia tau, Resha sangat tidak nyaman dengan kehadiran Danu dan tak lama Resha pamit untuk pulang.
"Biar aku yang antar kamu pulang?" tawar Danu
"Terimakasih kakak, tapi saya bisa pulang sendiri" tolak Resha. "Oh.. ya teman-teman kakak sudah nungguin kakak, alangkah baiknya kalau kakak kembali ke meja kakak" usir Resha, dengan halus dan gadis itu berlalu begitu saja.
"Gue pinjem mobil loe" pria itu langsung pergi begitu saja setelah menyabet kunci mobil, Arif. Sepertinya hati dan keinginannya bertentangan. Dia ingin menghindari Resha, namun hatinya berontak. Ya Agha, mengejar Resha keluar.
"Resha" mendengar ada yang memanggilnya, Resha menghentikan langkahnya. Dia mengenali suara itu.
"Mas Abi" sapanya setelah Agha berada di dekatnya.
"Mau pulang?" tanyanya basa-basi.
"Iya" jawab Resha singkat.
"Biar aku antar"
"Tidak usah mas, Resha naik taksi saja"
"Yakin?" gadis itu hanya menganggukkan kepala. "Tapi aku tidak suka ditolak, jadi kamu harus tetap ikut bersamaku" Agha menarik tangan Resha, dengan pelan membawanya ke mobil, Arif. Tak ada obrolan, gadis itu hanya diam tak seperti biasa.
"Mas, ini bukan jalan ke kontrakan aku" ujar Resha, pada akhirnya setelah Agha memutar arah mobilnya.
"Ya aku tau" dia menoleh ke Resha lalu tersenyum padanya kemudian fokus lagi ke depan.
"Mas Abi, ingin menculik Resha ya" ujar Resha polos namun mampu membuat Agha tertawa geli.
"Emang tampang aku ada tampang pencuri" Resha tersenyum. Lagi, senyuman manis itu membuat Agha gagal fokus.