Siang hari selesai kuliah Resha ingin segera pulang, hari ini dia rasa sangat lelah sekali. Sesampainya di kontrakannya Resha langsung merebahkan badannya.
"Kenikmatan yang hakiki" ujarnya yang masih merebahkan badannya. Resha baru ingin memejamkan matanya namun tiba tiba ponselnya bunyi.
"Assalamualaikum" setelah panggilannya tersambung
"Walaikumsallam" jawab seseorang di seberang sana.
"Ada apa yah, tumben ayah telpon siang siang begini?" tanya Resha
"Ada yang ingin ayah bicarakan padamu Resha" ujar ayah
"Bicara apa yah, sepertinya serius?"
"Begini kak, ayah ingin minta tolong padamu" Resha semakin di buat tak mengerti dengan ucapan ayahnya.
"Yah, apa yang terjadi? ayah kenapa?" Resha sudah mulai khawatir, takut terjadi sesuatu dengan keluarganya. "Ibu tidak apa apa kan yah? tidak terjadi apa apa kan sama adek yah?" tanya Resha semakin khawatir
"Tidak sayang, kami semua sehat semua" Resha sedikit lega "Resha?" panggil ayah di sebrang sana dengan lembut. Ayah menarik nafasnya panjang membuangnya perlahan.
"Ada apa yah? tolong jangan buat Resha khawatir"
"Resha, kuliah dan biaya hidupmu di ibukota butuh biaya tak sedikit nak, sedangkan adikmu di sini juga masih sekolah masih butuh biaya juga sedangkan usaha ayah saat ini sedang goyang nak" ujar ayah pelan. Di sana, air mata Resha tak bisa di bendung lagi, air mata itu mengalir dengan sendirinya. Tak tau apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Resha, ayah minta tolong padamu nak, menikahlah dengan putra teman ayah supaya masa depanmu terjamin nak" lanjut ayah dengan hati-hati.
"Apa ayah ingin menjual, Resha?" tak pernah terpikir dalam benak ayah, Resha berkata seperti itu. Tak ada pernah terlintas dalam pikiran ayah untuk menjual anak perempuannya. Tapi memang saat ini kondisi usaha ayah sedang tidak stabil.
"Tidak, bukan seperti itu nak maksud ayah. Tolong mengerti keadaan ayah sayang" tak ada jawaban, Resha masih terisak. Hatinya sungguh dilema.
"Baiklah, Resha ikut ayah" tak ada pilihan buat Resha, dia hanya bisa menyetujui keinginan ayahnya. Tut dan panggilan terputus.
Resha, kembali menangis, entah apa yang dia tangisi. Usaha ayahnya yang hampir bangkrut atau dia harus menikah sama orang yang tidak dia kenal.
Dari dalam lubuk hati Resha, tak ingin dia cepat-cepat menikah. Gadis itu masih ingin menikmati masa mudanya. Dia masih ingin jalan-jalan bersama teman-temannya. Dia masih ingin bekerja untuk membahagiakan orangtuanya namun harapan itu seakan sirna begitu saja. Mau tidak mau, siap tidak siap bulan depan dia sudah harus menikah.
Selintas terbesit dalam pikiran Resha, mengapa dulu dia tak menerima lamaran Gavin, jika pada akhirnya dia harus menikah muda juga? Tidak, Resha segera menampik pikiran itu.
Resha, segera menyeka air matanya lalu berdiri dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia ingin mengajak Ayu jalan, berharap bisa sedikit melupakan masalahnya.
Selesai mandi, Resha langsung pergi ke rumah Ayu. Hanya butuh waktu dua puluh menit naik ojek, Resha sampai di rumah Ayu. Di sana, Ayu sudah siap karena tadi Resha sudah menelponnya.
Resha dan Ayu memutuskan untuk jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan di ibukota. Resha sudah menceritakan semua pada Ayu. Hatinya sedikit lega karena sudah mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Kak Abi" tanpa sengaja, Resha melihat Agha yang sedang asyik menemani Qainara shopping. Agha tampak begitu bahagia menemani Qainara. Gadis itu hanya tersenyum masam melihat Agha bersama wanita lain. Tak ingin lama-lama melihat Agha, Resha kembali memalingkan pandangannya. Dia kembali sibuk membantu Ayu memilih pakaian.
"Ini bagus gak?" tanya Qainara dengan manja.
"Iya bagus" jawab Agha singkat. Qainara masih sibuk memilih pakaian, tak sengaja Agha melihat seorang yang dia kenal. Di perhatikannya wajah gadis itu. Gadis itu selalu tersenyum walau matanya masih sedikit bengkak.
"Resha" Agha ingin menghampirinya, namun Qainara sudah lebih dulu memanggilnya.
"Agha, kita cari makan saja yuk? bajunya gak ada yang menarik" Agha hanya bisa menuruti kemauan Qainara. Kebetulan perutnya juga sudah lapar.
Entah serba kebetulan kah atau bagaimana, Ayu juga mengajak Resha makan di tempat yang sama. Lagi, Resha melihat Agha dan Qainara sedang ngobrol dengan begitu asyik.
"Re, ada kak Agha" ujar Ayu memberitahu Resha. Ayu tak menyadari bila Resha sudah terlebih dulu melihatnya.
"Iya, aku udah lihat" jawab Resha datar.
"Ih ngeselin banget sih tu orang. Kemarin deketin loe sekarang malah jalan sama perempuan lain" ujar Ayu kesal
"Biarin lah Yu, itu haknya mas Abi mau jalan sama siapa saja"
"Fakboy sekali dia, mentang-mentang ganteng, tajir semua cewek di deketin udah gitu di sakiti" Ayu terus ngedumel, dia sangat kesal temannya di permainkan.
"Ya biarlah Yu, lagian juga kan bulan depan gue udah nikah jadi....." belum sempat Resha meneruskan ucapannya, Ayu sudah lebih dulu memotongnya.
"Apa yang akan loe lakuin jika kak Agha suka sama loe?" tanya Ayu bercanda
"Gue sikat, gila aja cowok setampan mas Abi gue lepas begitu aja" jawab Resha asal ceplos.
"Tapi kira kira siapa, Re ya cewek itu?" tanya Ayu sambil menunjuk ke meja Agha dan Qainara
"Tau" jawab Resha sambil mengangkat bahunya tanda tak mengerti.
Agha tak menyadari jika Ayu dan Resha terus memperhatikannya sedari tadi. Dia masih asyik mengobrol sembari menunggu pesanannya datang.
"Boleh kita gabung?" ujar seseorang yang baru datang bersama temannya.
"Boleh dong" jawab Resha dengan semangat.
Edo dan Salsa, teman satu kampus Ayu dan juga Resha. Di kampus mereka selalu berempat. Mereka sudah seperti saudara karna sama-sama perantau.
"Loe habis nangis, Re?" tanya Edo
"Iya, dia mau di kawinin bulan depan ama bokapnya" Ayu yang menjawab dengan enteng.
"Apa?" tanya Edo dan Salsa sedikit berteriak karena tak percaya.
Semua yang ada di cafe menoleh ke arah mereka, termasuk Qainara dan juga Agha. Terlihat Ayu yang membungkam mulut Salsa dan Resha yang membungkam mulut Edo sambil memelototi sahabatnya itu.
Agha hanya tersenyum masam kearah Resha, pun dengan Resha. Mata mereka saling berpandang beberapa detik.
"Dasar anak kecil" gerutu Qainara.
"Loe betul mau nikah, Re?" tanya Salsa yang hanya di balas anggukan oleh, Resha.
"Yach, patah hati lagi gue" ujar Edo lalu menyeruput minuman Ayu.
"Kan gue udah bilang, yang hanya bawa cinta akan kalah ama yang bawa orangtua" celetuk Ayu. Edo hanya berniat menghibur Resha, Edo sudah menganggap Resha, seperti adik sendiri.
"Apa dia ganteng, Re?" tanya Salsa penasaran.
"Nah itu dia masalahnya, gue belum tau orangnya ganteng atau tidak" jawab Resha enteng.
"Gimana sih Re, trus kalau orangnya jelek, tua, enggak banget gimana?" Salsa sudah membayangkan yang tidak-tidak "Oh no" lanjutnya menggelengkan kepalanya.
"Kalau orangnya seperti yang loe bayangin tadi, gue bersumpah saat itu juga gue akan kabur" seru Resha.
"Kalau orangnya ganteng, Re?" tanya Edo
"Otw" jawab Resha dengan tawa khasnya. Ya Resha benar benar terhibur dengan sahabatnya. Biarpun hanya obrolan receh namun sangat menghibur Resha saat ini