Episode 7

1014 Words
Lalu bagaimana perasaan loe sama Qainara?" sungguh pertanyaan Arif kali ini membuat Agha bingung. "Gha, apa loe mencintai Qainara?" tanya Arif sekali lagi "Iya Rif, gue cinta sama Qainara tapi gue nyaman sama Resha" jawab Agha jujur. Agha begitu dilema. Di sisi lain dia mencintai Qainara, temannya sewaktu kuliah dulu namun di lain sisi dia merasa nyaman ketika bersama Resha. Gadis yang baru di kenalnya dua Minggu yang lalu namun mampu memberi warna hidupnya. "Bukankah yang kita cari dalam suatu hubungan adalah sebuah kenyamanan gha bukan hanya cinta. Kita cinta sama seseorang tapi belum tentu nyaman dengannya tapi jika kita nyaman dengan seseorang lambat laun kita pasti akan mencintainya" ujar Arif begitu dewasa "Seperti yang loe rasakan saat ini, cinta sama Qainara tapi nyaman sama Resha. Kalau menurut gue itu bukan pilihan yang sulit bro. Gue akan pilih yang nyaman" lanjutnya sambil menepuk pelan pundak Agha yang masih berdiri mematung di depan jendela. Diam. Agha terdiam beberapa saat, mencerna semua ucapan Arif. "Apa karna Resha sepupu loe?" pertanyaan Agha yang tak pernah di duga oleh Arif. Resha gadis ayu, baik sudah pasti banyak cowok yang lebih baik dari Agha mau dengannya. "Seperti yang gue bilang tadi gha. Jika kita nyaman dengan seseorang sudah pasti kita akan mencintainya dan hari hari kita sudah pasti akan di selimuti kebahagiaan namun jika kita hanya mencintainya tanpa merasa nyaman, bukan kebahagiaan gha yang lama lama kita rasakan tapi rasa jenuh karna kita tidak pernah nyaman dengannya" ucap Agha "Bukan karna Resha sepupu gue" lanjutnya. "Gak segampang itu Rif" Agha masih tetap sama, semua tak semudah yang Arif ucapkan. "Semua terserah loe sih gha karna yang ngejalani juga loe sebagai sahabat gue hanya menyarankan yang terbaik aja dan satu pesan gue, jangan loe kasih harapan ke anak orang jika pada akhirnya loe milih yang lain" ucap Arif. Malam hari di kediaman tuan Gadendra. Agha masih terpikirkan ucapan Arif tadi sore. Entahlah ucapan Arif selalu mengiang ngiang di otaknya. Agha tak membenarkan ucapan Arif tapi dia juga tak menyalahkan ucapan Arif. Hatinya sungguh dilema. Antara nyaman dan cinta Agha benar benar di buat bingung. Agha memainkan ponselnya, membuka salah satu aplikasi canggih di ponselnya. Ada Qainara, gadis itu baru saja meng-upload foto beberapa menit yang lalu. Cantik. hanya kata itu yang terucap dari bibir Agha. Qainara memang sangat cantik. Semua lelaki pasti akan mengagumi kecantikannya. Agha membuka akun Qainara. Semua foto gadis itu sungguh sangat sempurna. Dia sudah seperti bak model. Selesai melihat lihat akun Qainara kali ini dia sangat kepo dengan akun Resha. Dia mencari cari akun Resha karna Agha memang belum berteman dengan Resha. Tak sia sia, Agha menemukan akun Resha. Tak seperti Qainara yang hampir setiap jam upload semua kegiatannya. Resha sangat jarang membagikan kesehariannya di media sosial miliknya. Gadis itu mungkin hanya dua kali dalam satu Minggu upload status. Tak secantik dan sesempurna foto Qainara. Gadis itu hanya tersenyum manis di depan kamera. Namun mampu membuat begitu kagum pada gadis itu. Senyum lelaki sejuta karisma itu terus terukir ketika dia menemukan hingga stalking akun Resha. Namun senyum itu hilang ketika dia melihat Resha meng-upload foto dirinya bersama Gavin satu tahun yang lalu. Tak ada kata kata indah. Resha hanya memberi tanda love di caption fotonya. "Apa apaan nih cewek sudah putus juga tapi fotonya masih belum di hapus" gerutu Agha, entah mengapa dia sangat kesal melihat foto itu. "Apa jangan jangan dia masih berharap bisa balikan lagi sama mantannya" lanjutnya. Dia melempar ponselnya ke sembarang tempat lalu membaringkan badannya di kasur empuk miliknya. "Dek, di panggil bokap" kebiasaan Agha, dia selalu tidak pernah mengunci pintu kamarnya. "Bisa gak sih kak tiap masuk kamar Agha ketok pintu dulu" protes Agha "Siapa suruh pintu gak pernah di kunci. Udah sana turun papa sama Mama udah nunggu" ujarnya lalu meninggalkan Agha. Tak lama Agha mengikuti kakaknya turun. "Pa, ada apa papa panggil Agha?" tanya Agha setelah sampai di ruang keluarga. "Nak, papa ingin bicara sesuatu padamu" ujar papa dengan penuh kasih sayang. Ya papa dan mama memang sangat menyayangi kedua anaknya. Beliau tak pernah membeda bedakan kasih sayangnya. "Bicara apa pa? sepertinya serius?" tanya Agha "Agha, apa kamu tak ada keinginan untuk menikah?" tanya papa hati hati. "Ya pasti adalah pa keinginan untuk menikah kan Agha pria normal" jawab Agha santai "Sayang, bukan begitu maksud papamu" ujar mama. Agha memang tak mengerti apa maksud papanya. "Lalu?" "Begini Agha, papa ingin menjodohkan mu dengan putri teman papa" tak ada jawaban dari Agha. Pria itu hanya duduk terdiam di tempatnya. "Agha?" suara papa menyadarkan Agha dari lamunannya. "Ech iya pa" jawab Agha gelagapan. "Baiklah, kalau begitu Minggu depan kita pergi melamar" ujar papa "Minggu depan?" tanya Agha tak percaya "Iya biar bulan depan kalian segera menikah" "Tidak semudah itu pa, ada banyak hal yang harus Agha pikirkan" protes Agha "Apalagi yang kamu pikirkan Agha, usiamu sudah matang untuk menikah, kau juga sudah punya pekerjaan tetap lalu apalagi?" tanya papa "Apa kau masih ingin main main bersama teman temanmu? pergi sore pulang pagi? nongkrong tidak jelas. Hura Hura sana sini. Apa itu yang masih kamu pikirkan Agha?" tanya papa yang membuat Agha tak bisa berkutik. "Papa tidak suka penolakan Agha. mau tidak mau bulan depan kamu tetap harus menikah dengan putri teman papa" ucap papa tegas. Tidak ada pilihan buat Agha, bulan depan dia tetap harus menikah. "Terserah papa, tapi jangan terlalu berharap banyak dari pernikahan itu" ujar Agha yang langsung pergi meninggalkan mama dan papa. Agha kembali membanting tubuhnya di atas ranjang. Dia akan sangat tidak bisa berkutik jika sudah berhubungan dengan papanya. Apapun yang papanya inginkan harus terpenuhi. Menikah? belum ada target buat Agha menikah tahun ini apalagi bulan depan. Tak pernah terbayangkan dalam benak Agha. "Bagaimana gue bisa menikah coba? calon istri gue aja gue kagak kenal. Masak iya tiba tiba menikah" batin Agha "Tapi bagaimana ya rasanya?" Agha sudah membayang pernikahan itu. Entah apa yang dia pikirkan. Agha tersenyum sendiri membayangkan hal itu. Dua orang yang belum saling mengenal. Tidak pernah bertemu sama sekali tiba tiba menikah. Pasti akan malu malu. Seketika Agha tersenyum geli. "Agha sadar, apa yang loe bayangkan?" tanya Agha pada dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD