Detik berganti menit, menit berganti jam dan jam terus berputar begitu cepat. Hari lusa dia akan menjadi seorang istri. Dia akan mengikat janji suci sehidup semati.
Resha, sama sekali belum mengenal laki-laki pilihan ayahnya itu, namun sebagai seorang istri, dia harus selalu setia, mencintai kekurangan dan kelebihan suaminya kelak.
Hari ini, dia ada janji untuk bertemu dengan tuan muda Gadendra, calon suaminya. Asisten tuan muda Gadendra sudah mengatur jadwalnya.
Ada rasa aneh dalam diri Resha, tapi dia tidak mengerti rasa apa ini. Resha, sudah sangat penasaran dengan calon suaminya ini. Bagaimana kalau dia jelek? bagaimana kalau dia buncit terus berkacama tebal? bagaimana kalau dia berkumis tebal?
Ya, pertanyaan-pertanyaan aneh itu selalu menghantui pikiran, Resha. Gadis itu dengan segera menggelengkan kepalanya. Meyakinkan dirinya sendiri. Tidak mungkin tuan muda Gadendra, seburuk itu.
Resha, hanya berdandan ala kadarnya, tak enak jika membuat tuan muda Gadendra, menunggu terlalu lama.
Tak lama, Resha sampai ketempat mereka janjian, hanya ada asisten tuan muda Gadendra di sana. Dengan hati dag dig dug, Resha menghampiri asisten tuan muda Gadendra.
Asisten tuan muda Gadendra, menyambut Resha dengan sangat sopan, lalu mempersilahkannya duduk.
"Terimakasih" ucap Resha tak kalah sopan.
"Maaf nyonya, tuan muda tidak bisa hadir karena beliau ada perjalanan mendadak keluar kota, jadi beliau mewakilkannya kepada saya" pria itu masih mempertahankan bahasa formalnya.
"Jangan terlalu formal"
"Maaf, tapi anda calon istri tuan saya jadi saya harus menghormati anda" Resha, hanya tersenyum. Belum pernah ia berbahasa seformal ini dengan orang. Rasanya aneh.
Asisten Gion, memberi satu map pada Resha. "Itu surat yang tuan muda titipkan ke saya, silahkan nyonya membacanya terlebih dulu" Resha, membuka surat itu perlahan. Perjanjian pra nikah. "Apa ini?" batin Resha.
Resha, membaca satu persatu isi poin surat perjanjian pra nikah itu. Rasanya, sangat susah menelan air ludahnya.
"Perjanjian macam apa ini?" hatinya sakit. Dari perjanjian ini, Resha tau kalau laki-laki itu juga tak menginginkan pernikahan ini.
Resha, kembali memahami isi perjanjian pra nikah itu. Tidak ada yang di rugikan dalam isi perjanjian itu. Tapi, ada yang mengganjal, kenapa orang lain tidak boleh mengetahui pernikahan ini? Namun, Resha tak ingin memikirkannya, dengan segera dia menandatanganinya. Tersenyum, lalu kembali menyerahkan map itu pada asisten Gion.
Setelah menandatangani perjanjian itu, Resha pamit pulang karena sore ini dia harus kembali ke kota B. Asisten Gion, terus memperhatikannya sampai gadis itu benar-benar tak terlihat.
Asisten Gion, menawari untuk mengantarnya sesuai perintah bosnya namun gadis itu menolaknya dengan sopan.
"Kenapa bos tidak mau di jodohkan dengan gadis secantik dia, apa bos tidak akan menyesal sudah membuat perjanjian aneh begini" batin asisten Gion heran.
____________
"Semoga aku kuat menjalani semua ini" batinnya menguatkan diri "Menjadi istri yang tak di inginkan" lanjutnya lalu tersenyum masam. Dia menghela nafas lalu membuangnya kasar.
Dia sedang bersiap-siap untuk ke kota B. Resha, berangkat sendiri tanpa sahabatnya karena pernikahannya sengaja di adakan sederhana, hanya ada keluarga sesuai permintaan Agha dan juga Resha.
"Semoga pas ijab Qabul dia salah nyebutin nama gue, biar gue gak jadi nikah sama dia" gerutunya. Tapi, dalam hatinya dia sangat penasaran dengan sosok calon suaminya itu.
Berkali-kali ia meminta foto calon suaminya itu pada ayahnya, namun sama jawaban ayah selalu 'ayah tak punya fotonya'. Apa tuan muda itu orang misterius?
"Mau loe misterius atau apalah terserah, gue gak peduli. Yang penting loe jangan galak aja sama gue, sama loe galak sama gue, gue pulangin loe ke rumah orangtua loe" umpatan aneh itu mulai keluar dari mulut, Resha.
Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan, akhirnya Resha sampai ke tanah kelahirannya. Hatinya selalu damai setiap dia menginjakkan kaki di kotanya, namun tidak untuk saat ini.
Langkahnya berat, sangat berat. Melihat senyum keluarga yang menyambutnya dengan begitu hangat. Dia harus kuat, dia harus tegar, dia harus meringankan langkahnya.
Ibu menghampiri Resha, memberi pelukan sayang pada putri semata wayangnya. Ada nenek juga di sana. Resha, langsung berhambur kepelukan nenek setelah ibu melepaskan pelukannya.
Hanya nenek yang mengerti, Resha. Resha, begitu menyayangi nenek. Gadis itu, tak ingin terlihat sedih di depan nenek. Semaksimal mungkin, Resha memberikan senyum manisnya.
"Kau datang sendiri?" tanya nenek setelah Resha, duduk di sebelah nenek.
"Iya" jawabnya singkat "Nenek kapan tiba?"
"Nenek sudah dari kemarin" nenek mengelus rambut panjang Resha, beliau sangat menyayangi cucunya. "Resha, sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang, jadilah istri yang baik nak. Jadilah istri yang selalu menurut nak. Jadilah yang selalu mengutamakan kepentingan suami. Jadilah istri yang selalu setia menemani suamimu di saat suka maupun duka" dan masih banyak wejangan dari nenek. Resha, hanya tersenyum mengerti dan kembali memeluk nenek. Pelukan itu serasa hangat, sangat hangat.
"Semoga Resha, bisa menjadi istri seperti harapan nenek dan harapan calon suami, Resha. Walaupun Resha tidak yakin, tapi Resha akan selalu berusaha" batinnya.
Setelah bertukar beberapa kata dengan nenek, Resha pergi ke kamarnya. Badannya serasa lelah karena perjalanan lumayan jauh. Tak lama, ayah masuk.
"Resha" panggil ayah
"Iya, yah" ayah menghampiri Resha yang sudah bangun dari baringannya.
"Nak, maafin ayah belum bisa menjadi ayah yang baik buat kamu" ayah membuang pandangannya ke sembarang arah, tak kuat menatap mata putri semata wayangnya.
"Ayah, ayah memang bukan ayah yang baik tapi ayah, ayah terbaik yang pernah, Resha miliki. Resha, sangat bersyukur memiliki ayah, seperti ayah. Ayah yang selalu menyayangi Resha dan adik" gadis itu selalu berusaha tersenyum di depan ayah, walau hatinya sedang menangis.
Ayah memeluk Resha dengan penuh kasih sayang. Air matanya tak bisa di tahan lagi. Mereka menangis dalam pelukan.
"Maafin ayah Resha, maafin ayah. Gadendra, maafin aku sudah menjadikan keluargamu korban keegoisan ku" batin ayah.
Di sana di kota S. Agha baru selesai pertemuan dengan klien-kliennya. Besok pagi dia sudah harus terbang ke ibukota dan melanjutkan perjalanan ke kota B. Agha, langsung kembali ke hotel, mengistirahatkan badannya sebelum kembali melanjutkan perjalanan jauhnya.
Terbesit di benak Agha untuk kabur dari acara pernikahan itu. Namun, dia segera menangkisnya. Bisa saja dia lari tapi bagaimana dengan orangtuanya? orangtuanya pasti akan sangat malu dan dia tak ingin itu terjadi.
Dia membuang nafas kasar. "Sial, kenapa juga tu cewek gak nolak perjodohan ini. Kalau dia nolakkan gue ada alasan. Atau dia tidak laku makanya dia terima perjodohan ini." ujarnya pada diri sendiri. "Gue bakal bikin loe gak nyaman sama gue dan gue bakal bikin loe minta cerai dari gue, ya ini lebih baik" Ponselnya berbunyi. 'Papa' nama yang tertera dalam layar ponselnya.
"Iya pa" ujarnya setelah panggilannya tersambung
"[....]"
"Iya besok pagi, Agha terbang ke ibukota" Tut. Agha mematikan ponselnya lalu melemparnya ke sembarang tempat lalu mengambilnya kembali. Dia membuka aplikasi di ponselnya. Ada status Resha, lima menit yang lalu.
Ini bukan pilihanku tapi ini pilihan Allah. Aku hanyalah hamba yang tak bisa menentang garis takdirnya. Apa yang kita inginkan belum tentu Allah inginkan. Tapi apa yang diinginkan Allah sudah pasti yang terbaik buat kita. Bismillah, kulangkahkan kakiku dengan bismillah, walau berat semua akan terasa ringan.??
Agha, ingin membalasnya, namun dia hapus kembali. Dia tak ingin hubungannya terlalu jauh. 'Resha, gadis baik-baik dan dia layak bahagia. Gue gak boleh ganggu lagi kehidupannya, sebentar lagi gue akan menikah. Gue gak mau nyakitin, Resha. Resha, semoga loe bisa nemuin laki-laki terbaik, Resha'.