Rembulan malam berlalu, berganti dengan matahari pagi yang begitu cerah. Resha, membuka gorden dan jendela kamarnya. Udara pagi ini begitu sejuk. Selama tinggal di ibukota, belum pernah dia mendapat udara sesejuk ini.
"Udara yang indah nan sejuk" Resha, menghirup udara dalam-dalam dengan rasa bahagia dalam hatinya. Entahlah, tetiba hatinya berbunga-bunga.
"Semoga hidupku kedepannya, secerah dan seindah mentari pagi ini" ujarnya yang masih menatap sinar mentari. Dia tak ingin melewatkan pagi ini dengan kesedihan. Dia sudah bertekad akan memulai harinya dengan senyuman.
Resha, masih berdiri di depan jendela. Menatap luar dengan tatapan kagum akan ciptaan Tuhan. Senyumnya tak pernah pudar dari bibir indahnya.
"Kak Resha" senyum bahagia itu tambah nampak saat melihat adik semata wayangnya menghampirinya.
"Reza" Resha, menghampiri adiknya. Wajahnya sangat terlihat bahagia. Dia memeluk adiknya dengan erat, sangat erat.
Fahreza Naja, putra sulung keluarga Naja yang kini menginjak remaja. Di usianya yang remaja ini, Reza harus berjuang melawan penyakitnya. Ya,, lima bulan yang lalu dokter memvonisnya kanker darah.
"Kenapa kamu jadi kurus begini, dek?" tanya Resha perhatian.
"Oh ya, kakak sudah pernah ketemu sama calon suami kakak?" remaja itu segera mengalihkan pembicaraan, dia tak ingin jika kakaknya mengetahuinya.
Resha, menarik nafasnya panjang. "Belum"
"Apa kakak bahagia dengan pernikahan ini?"
"Ya" lirih. Dia kembali duduk di tepi ranjang. "Kakak bahagia dek, sangat bahagia" Resha, kembali menyuguhkan senyum manisnya. Tak ingin orang lain tau isi hatinya. Dia juga sudah berjanji untuk terus selalu bahagia.
Reza, bukan anak kecil lagi, ia juga sangat hafal sifat kakaknya. Reza, tau dibalik senyum kakaknya sebenarnya ada rasa kecewa yang mendalam yang kakaknya pendam.
"Maafin Eza kak, gara-gara Eza sakit, kakak harus mengorbankan perasaan kakak. Eza, berjanji. Eza akan lebih semangat menjalani pengobatan dan Eza berjanji, Eza pasti akan segera sembuh" batinnya.
Sedangkan di sana, di ibukota. Siang ini, Agha baru tiba di ibukota, tak langsung pulang ke rumah tapi Agha langsung ke kantor. Ia ingin memastikan jika calon istrinya sudah menandatangani surat perjanjian pra nikah yang ia bikin.
"Apa dia sudah menandatanganinya?" tanyanya setelah di ruangan asistennya, ya Agha tak punya banyak waktu, dia hanya singgah untuk mengambil surat itu saja.
"Sudah tuan, ini suratnya" dengan sigap asisten Gion menyerahkan surat perjanjian pra nikah itu.
"Bagus. Apa dia cantik?" tanya Agha sedikit basa-basi.
"Tuan besar tidak salah memilihkan calon istri untuk tuan muda, nyonya muda sangat cantik" puji asisten Gion, yang membuat Agha memandanginya aneh.
"Oh" singkat. Agha langsung meninggalkan ruangan asisten Gion, keluarganya sudah menunggu di rumah. Dia sudah harus melanjutkan kembali perjalanannya ke kota B.
Di dalam mobil, Agha masih kepikiran ucapan asistennya itu, 'Nyonya muda sangat cantik'. Ya, Agha jadi sangat penasaran dengan calon istrinya itu. Tidak mungkin bukan, tuan Gadendra memilihkan calon istri untuk putranya yang jelek. ?
Tanpa Agha sadari, bibir itu melengkung membuat sebuah senyuman. Entah kenapa hatinya jadi berbunga-bunga.
"Agha, kamu kemana saja? kenapa jam segini baru sampai?" cecar papa dengan pertanyaannya.
"Papa, apaan sih. Baru juga Agha datang, sudah di cecar pertanyaan" gerutu Agha.
"Sekarang cepat kamu mandi, kita langsung berangkat" Agha, membulatkan matanya tak percaya. Apa tidak ada kesempatan untuknya istirahat sebentar?
Agha, bukan anak yang suka melawan orangtua. Dia pergi ke kamarnya untuk membersihkan badannya.
"Dasar papa tidak ada akhlak, sudah tau baru pulang dari luar kota, bukannya di suruh istirahat dulu malah di suruh buru-buru di ajak lagi" sepanjang anak tangga Agha, terus mengomel.
Semua sudah siap, tinggal menunggu Agha, saja. Papa dan mama sudah tidak sabar ingin melihat putra kesayangannya mengikat janji suci sehidup semati dengan wanita pilihan mereka.
"Mama sudah tidak sabar pa, melihat Agha menikahi, Resha" ujar mama yang di anggukan papa.
"Papa juga ma, mereka pasti akan sangat serasi"
"Emang papa sama Mama yakin kalau Agha, akan bahagia bersama, Resha?" tanya Fanya, kakak perempuan Agha.
"Papa yakin, sangat yakin. Adik kamu itu anaknya manja dan Resha, dia mandiri dan dewasa. Papa yakin, Resha pasti bisa ngemong adik kamu" Tak lama Agha, turun. Wajahnya begitu bersinar, mungkin pengaruh habis mandi. Bukan.
"Wih... calon pengantin wajahnya makin bersinar aja nih?" goda Fanya. "Aura kegantengan loe makin keluar, dek" lanjutnya.
Agha, hanya tersenyum tipis. "Baru sadar ya kalau ternyata adiknya ganteng" Agha, memasang senyum semanis mungkin yang membuat Fanya ilfil.
"Gak jadi, gue cabut kata-kata gue" ucapnya ilfil.
"Kalian itu ya sudah kayak kucing sama tikus saja" ujar mama.
"Maaf Ferdy, telat" ujarnya yang baru datang.
"Kak Ferdy, pulang? bukankah masih dua bulan lagi baru pulang?"tanya Agha
Pria itu tersenyum manis, lalu menghampiri adik iparnya. "Demi loe gue pulang" ujarnya.
"Cih, bilang aja loe rindu bini loe" ujarnya.
"Wajib itu, gha" ujarnya yang menghampiri istrinya. "Bentar lagi loe juga bakal ngerasain rindu sama istri" godanya, yang mendapatkan senyum tidak jelas dari, Agha.
"Iya sudah kita berangkat sekarang, keburu sore" ajak papa.
_____________
Dikediaman tuan Naja, sore ini keluarga tuan Naja menggelar acara pengajian, biarpun acara pernikahan Resha, hanya dilaksanakan sederhana dan hanya kerabat yang di undang.
Acara berlangsung dengan sangat khidmat. Di genggamnya tangan ibu dan nenek untuk menguatkan hatinya yang rapuh, namun tak bisa Resha bendung. Air mata itu mengalir dengan begitu saja.
Hari ini, hari terakhirnya sebagai seorang single, besok statusnya sudah menjadi istri orang. Andai dia menikah dengan orang yang dia cintai, mungkin hatinya tak kan sehancur ini. Bukankah dia sudah berjanji untuk tidak menangis?
Resha, sepertinya tak bisa menepati janjinya sendiri. Dia tak ingin memungkiri hatinya, kalau dia tak menginginkannya. Apalagi, dia ingat isi perjanjian pra nikah yang di buat calon suaminya itu. Hatinya sungguh sangat hancur.
Andai dia tau akan seperti ini, mungkin waktu Gavin, mengajaknya menikah dulu, dia akan menerimanya dengan senang hati. Namun bukankah jodoh sudah di atur olehnya?
Gavin! tiba-tiba nama itu muncul kembali di ingatan, Resha. Bagaimana jika Gavin tau? Bukankah dulu Resha, menolaknya karna alasan belum siap menikah di usianya yang masih sangat muda? Dan sekarang. Selang dua bulan, dia juga sudah ikut menikah. Apa Gavin, akan menertawakannya?
Enggak. Resha, menggelengkan kepalanya dengan cepat. Gavin, bukan type orang seperti itu. Dia pasti tidak akan menertawakannya. Dia pasti akan mengerti dengan keadaan ini. Dan dia pasti paham, jodoh, maut dan rejeki ditangan Tuhan.