Episode 13

1064 Words
Resha terlihat begitu cantik nan anggun dengan kebaya putih dipadukan dengan rok batik khas Indonesia yang sangat pas di badan Resha, ditambah hiasan siwnger di kepala Resha. Make up yang tidak terlalu tebal. Membuatnya terlihat semakin cantik. Resha, terus memandangi dirinya di depan cermin. Hati ini, hari bersejarah dalam hidup Resha. Ia tak ingin terlihat sedih walau hatinya pedih. Senyum terus Resha suguhkan. Cukuplah dirinya yang tau jangan semua orang melihat kepedihannya terutama orangtua dan adiknya. Pintu terbuka, Resha menengok. Perlahan ibu masuk dan mendekati putrinya. Ibu memandangi Resha yang terlihat begitu cantik nan anggun. "Masyaallah, putri ibu cantik sekali" puji ini dan tanpa terasa air mata ibu lolos begitu saja dengan mudahnya. "Ibu, kok ibu nangis?" ucap Resha begitu lembut. Ibu mengusap lembut pundak Resha. "Maafin ibu nak" tangis ibu semakin pecah ketika Resha memeluknya. Sekeras apapun Resha menahan tangisnya tapi bulir bening itu kini ikut keluar dari mata Resha. Dengan segera Resha mengusapnya. Resha melepas pelukan ibu. Berusaha tersenyum di depan ibu, walau hatinya masih terus menangis. "Ibu, ibu jangan menangis lagi ya, nanti kalau ibu menangis terus, Resha juga pasti ikut menangis. Resha, gak mau make up Resha luntur cuma karena ikut ibu menangis" ujar Resha berusaha menenangkan ibu dan terus tersenyum di depan ibu, karena bagi Resha kebahagiaan orangtuanya di atas segalanya. Ini sudah jalannya. Manusia boleh berencana namun Tuhan yang menentukan. Resha percaya itu. Rencana Tuhan jauh lebih indah dari rencananya. "Resha" gadis itu menoleh ketika mendengar suara yang tidak asing baginya. "Ayu" senyum sumringah kembali terlihat dari wajah manis Resha. Dengan segera Ayu menghampiri Resha, ada Arif juga. "Ya ampun re, loe cantik banget" puji Ayu setelah menyalami ibu dan setelahnya ibu pergi meninggalkan Ayu, Resha dan juga Arif. "Laki-laki yang dapetin loe sungguh beruntung, re" ujar Arif yang di balas senyuman manis Resha. Ddrrtt ddrrtt dddrrtt, ponsel Arif berbunyi. "Agha" gumam Arif setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Aku angkat telpon dulu" dengan segera Arif meninggalkan kamar Resha. "Kemana aja sih loe lama amat angkat telponnya?" omel Agha setelah Arif mengangkat telponnya. "Bacot loe udah kayak emak-emak komplek, gha" balas Arif. "Dimana loe, gue tunggu loe di hotel X. Loe antar gue nikah" ajak Agha. Arif terdiam, sepertinya dia menyadari sesuatu. Hari ini Agha menikah pun dengan Resha. Apa???? Dengan segera Arif menepis prasangkanya. "Sorry men, tapi gue gak bisa antar loe nikah soalnya gue lagi antar Ayu ke acaranya Resha" "Resha?" "Iya, sorry gha. Tapi gue janji tar kalau resepsi di Jakarta pasti gue datang" "Tidak ada resepsi" Tut. Agha mematikan ponselnya secara sepihak. 'Resha' nama itu kembali muncul di pikiran Agha. Gadis yang sempat singgah di hati dan pikiran Agha. Tak Agha pungkiri, walau sebentar dekat dengan Resha, namun gadis itu berhasil mengubah hidup Agha menjadi lebih berwarna. "Agha, kamu sudah siap nak?" tanya mama yang membubarkan lamunan Agha. "Iya ma, Agha siap" jawab Agha. Mama menghampiri Agha yang masih terdiam di tempatnya. "Agha, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang suami. Bahagiakan lah selalu istrimu nak, jangan pernah menyakiti perasaannya walau pernikahan kalian tak di dasari cinta tapi jagalah selalu perasaan istrimu sayang dan belajarlah untuk mencintainya" ujar mama dengan begitu lembut. "Iya ma, Agha akan belajar mencintainya" balas Agha. Mama dan Agha keluar bersamaan. Sudah ada papa Gadendra, kak Tiara juga kak Ferdy diluar yang menunggu sedari tadi. "Loe ganteng juga dek kalau lagi tegang begini?" goda kak Fanya. "Dari dulu kali adik loe ganteng kak" balas Agha. "Sudah-sudah, kita berangkat sekarang" Papa, mama, dan kak Fanya keluar duluan sedang Agha dan kak Ferdy di belakang. "Loe tegang kenapa gha? tegang mau ijab Qabul atau tegang karena malam pertama?" goda Ferdy. "Dua-duanya" jawab Agha asal. Setelah dua puluh menit perjalanan, rombongan Agha tiba di kediaman ayah Naja. Pihak keluarga menyambut kedatangan besan dan mempersilahkan masuk. Di dalam sudah ada pak penghulu yang menunggu. Namun sebelum Agha duduk di depan penghulu untuk mengucap ijab Qabul, pria itu di bikin kaget sosok yang sangat dia kenal berdiri di sebelahnya. "Tegang gha ya?" tanya Arif. "Sedikit" jawab Agha jujur. Walau Agha tak menginginkan pernikahan ini tapi ini sesuatu yang sangat sakral. Munafik jika ia tak gugup. "Nanti malam loe pasti lebih tegang lagi" goda Arif dengan tawanya namu sangat pelan. "Sejak kapan gue ngadepin cewek tegang?" balas Agha dengan pede. Arif hanya tersenyum menanggapi balasan sahabatnya itu. "Kenapa loe bisa ada di sini?" tanya Agha. Belum sempat Arif menjawab, ada seorang yang mempersilahkan dan mengantar Agha duduk di depan penghulu karena acara sebentar lagi akan di mulai. Sebelum acara ijab Qabul di mulai, tak lupa baca doa Khutbatul Hajah, Doa Sebelum Ijab Kabul. Selesai membaca doa ijab Qabul pun di mulai. "[......]" skip ya... Suara itu, terdengar begitu merdu di telinga Resha walau ia tak bisa menyaksikan secara langsung namun hatinya merasakan sesuatu yang berbeda. Bagaimana saksi sah? Sah, Sah, Alhamdulillah. "Resha, selamat ya?" Ayu memeluk Resha dengan begitu erat setelah mendengar kata 'Sah'. Ayu sangat bahagia karena akhirnya sahabatnya kini resmi menjadi seorang istri. Namun tidak dengan Resha. Rasa campur aduk ia rasakan. Antara senang dan sedih sampai ia tak tau apa yang kini ia rasakan. "Iya, makasih yu ya" balas Resha lalu melepaskan pelukan Ayu. Tak lama ibu datang menjemput Resha untuk mempertemukannya dengan suaminya. Sedangkan dibawah, Agha sudah sangat ingin tau wajah gadis yang baru saja sah menjadi istrinya itu. Betapa Agha terpesonanya ketika melihat istrinya. 'Cantik' satu kata yang keluar dari bibir Agha, namun pria itu belum juga menyadari jika gadis yang di nikahi barusan ialah Resha. Gadis yang sempat memberi warna hari-harinya. Karena Resha begitu mangklingi. Tapi, tidak dengan Resha. Gadis itu sempat menghentikan langkahnya ketika melihat lelaki yang baru saja mengucap janji sehidup semati dengannya. Ibu segera menepuknya pelan, memberi kode untuk Resha melanjutkan langkah kakinya. Agha baru menyadari ketika Resha sudah berada di sampingnya, mencium tangannya dan tersenyum untuknya. Ya, senyum yang selalu terngiang di angan Agha. Agha menyematkan cincin di jari manis Resha. Pandangan Agha tak lepas dari Resha. Wajah Agha terlihat semakin tegang dan gugup ketika Resha tersenyum padanya namun dengan segera Agha menutupnya dengan senyum pula. "Wajah perhatikan wajah adik ipar loe, dia terlihat begitu gugup dan tegang dan satu" ujar Arif pada Ferdy. "Iya dan gue yakin nanti malam dia akan lebih tegang" balas Arif dengan candaannya. "Loe betul dan Agha junior akan segera jadi" kata Arif yang paham maksud Ferdy. Mereka tertawa bersama. _______ ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD