2. Long time no see!

1553 Words
Air "Ariaaaaaa Abinayaaaa!!! Lo ga tau apa gue pusing urusin pameran lo, seenaknya aja lo ga balik-balik! Pas balik udah selesai gini buat apaan coba!" Sudah setengah jam aku ngomelin Abi lewat telpon, Abi baru saja balik dari Ausie setelah mengurusi pekerjaannya selama 3 minggu, dan dia masih di bandara. "Hahaha, sabar Ir. Air itu harusnya menyejukkan, kok lo malah bikin panas ati ya!" "Bukan gitu, Biii. Lo tau kan kacaunya hari itu, gue kudu mendadak jadi interpreter, padahal di hari itu gue juga kudu standby ngajar and bimbingan anak-anak skripsi. Lo banyangin aja deh Bi pusingnya gue. Mana lo ditelpon susah banget!" "Trus gimana akhirnya? Yang dikorbanin yang mana? Lebih pentingan gue apa profesi lo? Hahaha" "Sial lo, Bi! Ga mau jawab gue. Besar kepala nanti lo!" Yaa, aku memang selalu begini. Apapun mau Abi lebih aku turuti, walopun harus mengorbankan pekerjaan utamaku. Soulmate kalo kataku, tapi kata Abi dia cuma soulmate-nya Aira "Jadi milih interpreter tho? Bagus deh. Lo resign aja jadi dosen trus kerja di gue. Hahaha" "Udah lo buru ke apartemen, gue tungguin sekarang! "Gue ga bisa kesana sekarang, Ir! Si Aira udah ngomel mulu dari kemarin, besok aja ya gue kesana! Ah, Aira. Udah berapa lama aku ga ketemu dia? Terakhir ketemu di acara kelulusannya, 2 tahun lalu. Aku dan Abi berteman dari SMA. Bahkan kami kuliah di universitas yang sama, walaupun beda fakultas. Ngomong-ngomong soal kedekatan keluarga kami, benar-benar dekat. Udah kayak saudara sendiri. Sama Abi aja ya tapi, Aira jangan dibilang saudara lah. Ups! Kok jadi kepikiran Aira. Udah kayak apa dia sekarang? Ah.. Apa aku aja yang ke rumah Abi? Hehe.. Pagi ini aku akhirnya telpon Abi. Aku memutuskan sore ini untuk mengunjungi rumahnya. Sudah sekitar 2 bulan aku ga 'sowan' ke Ayadhi dan Iburi. Ya memang dari dulu aku manggil kedua orang tua Abi begitu, mereka yang minta karna aku udah dianggap anak sendiri. Aku memarkir mobilku di bawah pohon beringin di halaman rumah Abi. Rumah Abi punya halaman yang luas. Ayadhi yang sudah lama pensiun selain membantu Iburi urus katering, beliau juga punya hobi mengurus tanaman. Makanya halaman rumah Abi sangat cantik, rapi, dan berwarna. Soalnya banyak banget jenis bunganya. Aku berjalan ke arah rumah, disapa oleh Mang Jeki, tukang kebun Abi. Kemudian dia mempersilakan aku langsung ke dalam rumah. "Silakan duduk dulu, sebentar ya, Mas Air. Saya ke atas panggil Mas Abi dulu." "Iya Mang, makasih ya" Akupun duduk di sofa ruang tengah. Jangan merasa aneh kenapa aku duduk di ruang tengah, bukan karna aku sudah saking dekatnya, tapi rumah Abi memang tidak punya ruang tamu. Kalo tamu yang tidak terlalu dekat ya di teraslah tempatnya. "Mas Air?!" Seketika aku mendengar suara yang ga asing lagi, suara yang sudah lama sekali ga aku dengar, tapi masih terekam jelas siapa sang pemilik suara. "Ehhh, Aira." "Ih, udah lama banget ga ketemu Mas Air. Pasti udah lupa ya sama Aira!" Aira mencebik dan langsung memposisikan dirinya duduk di sebelahku. Sikap manjanya belum hilang. Ya ke Abi, ya ke aku. "Ga lah, masak lupa. Abis tiap Mas Air kesini kamu pas ga ada terus." Jawabku sambil mengacak-acak rambutnya. "Ya Mas Air kesininya tiap semester sekali sih, udah kayak liburan semesteran, ya jelas aja Aira ga di rumah, Aira kalo liburan kan ke rumah eyang." "Iya ya, udah gede sekarang, udah mahasiswi ya Ra?! Gimana kuliah? Asik?" "Asik banget, Mas! Aira juga jarang liat Mas Air di kampus." Iya, aku tahu Aira kuliah di universitas tempat aku ngajar. Jadi wajar Aira merasa aku sudah lupa sama dia. "Iya, Mas Air kalo nyampe langsung masuk kantor, seharian, keluar kantor kalo ngajar doank, kalo udah selesai langsung pulang. Jarang berkeliaran" "Pantesan, aku aja sering ketemu Bu Levi. Mas Air kan ada kelas di fakultas Aira juga kan kayaknya?" "Loh, kok tau? Iya, cuma mata kuliah dasar aja, jadi ga sering." Setelah itu kulihat Abi turun dari lantai dua. Matanya masih terlihat mengantuk. Aku tahu dia pasti lelah. "Dari jam brapa, Ir? Sorry badan gue remuk banget, capek parah. Tidur gue seharian. Abis terima telpon lo tepar." "Dek, kok Mas Air ga disuguhin minum sih, malah ngobrol aja" Abi langsung memposisikan duduknya di sofa depanku. "Eh iya lupa. Mas Air mau minum apa? Dingin aja ya? Lagi panas gini." "Iya segampangnya aja, Ra." Setelah Aira ke dapur, aku dan Abi langsung membahas tentang apa saja yang terjadi di pameran kemarin. Setelah meletakkan 2 gelas orange juice di meja, Aira pun pamit ke atas, mau mengerjakan tugas katanya. Ah anak itu masih saja hobi belajar. . . . Aira Aku langsung naik setelah menyuguhkan minum ke Mas Air dan Mas Abi. Kurebahkan badanku sejenak di kasur lalu kemudian aku duduk di meja belajarku. Oke, tugas syntax harus selesai malam ini. Walopun deadline masih lusa, tapi aku ga mau bikin kecewa Bu Dwi (dosen syntax). Dia yang selalu memanggilku Barsha, disaat tidak ada satupun yang memanggilku dengan nama itu. Ada sih, satu orang, yang selalu memanggilku dengan nama lengkapku. Disaat dia gemes, jengkel, tapi ga bisa marah. Iya, bener, Mas Air. Dan itu berlaku ga cuma buat aku, ke Mas Abi pun begitu. Ditengah mengerjakan tugas hapeku berbunyi 'Ra, gue ke rumah ya, pinjem catetan pragmatics" Sms dari Mas Dimas, kakak tingkat yang mengulang mata kuliah pragmatics di kelasku. 'Ya, Mas. Aku di rumah kok.' Balasku Setelah itu aku menyiapkan catatan pragmaticsku. Dimas Wardanu, mahasiswa semester akhir. Bisa dibilang aku dekat dengan Mas Dimas. Karna ada beberapa mata kuliah kelasku yang dia ikuti. Dan secara sadar kedekatanku dengan Mas Dimas menimbulkan efek lirikan-lirikan judes beberapa gadis kampus yang menyangka aku adalah pacar Mas Dimas. Ya cerita klasik kampus. Mas Dimas itu perfect whole package. Aku bilang outernya ya. Karna jujur belum tau banget orangnya seperti apa. Oh my! Pacar??? Jangan ngomongin itu, aku langsung ga mood. Kayaknya belajar lebih menyenangkan daripada pacaran. Lagian aku baru semester 5 ini. Mas Abi aja yang udah dua puluh tujuh tahun pacar belom punya. Mas Air jug..... Ehm aku ga tau kalau Mas Air. Mungkin udah punya. Kayaknya ga mungkin ya Mas Air ga punya pacar. Penampilan oke, ya kalik, siapa yang ga bakal terpesona sm postur 188cm dia, hidung mancung, kulit maskulin, otak pinter. Inner outer dapetlah dia. Uhm, kaaaannnn.. Bayangin Mas Air punya pacar kok kesel!!! "Dek... Airaaa... Ada temen kamu nih di bawah!" Suara Mas Abi. Ah pasti Mas Dimas udah sampai. Langsung kubawa buku pragmatics dan turun ke bawah sambil berlari kecil. Mas Air masih ngobrol sama Mas Abi. Aku langsung ke teras rumah. Ayah ga bakal kasih ijin orang yang belum dekat untuk masuk ke rumah. Itu satu dari sekian family rules! "Ini, Mas. Emang banyak yang belom di catet? Aku lagi kerjain syntax. Mas Dimas udah?" "Aku ketinggalan yang nyatet pragmatics competence itu aja sih. Syntax belom ah, besok aja." "Besok brangkat bareng siapa, Ra?" Tanya Mas Dimas. Sudah berkali-kali dia menanyakan hal yang sama. Senggak mau nggak maunya aku pacaran, ya aku ngerti sedikit kalo Mas Dimas sebenernya lagi pdkt-in aku. Eits, bukan ge-er. Tapi berkali-kali pula dia menanyakan hal yang sama tentang 'kenapa ga pacaran, Ra?', 'masa sih Ra kamu ga ada naksir siapa gitu?', dan pertanyaan-pertanyaan lain. Bebarengan pertanyaan itu, Mas Air dan Mas Abi keluar dari rumah, Mas Air mau pulang. Ga biasanya Mas Air wajahnya datar, tanpa sedikitpun senyum, ngliatin ke arah Mas Dimas. "Mas Air pamit dulu ya, Aira Barsha!" Sambil mengulurkan tangannya Deg. Kok manggil nama lengkap sih, dengan tatapan seperti itu pula. Aku salah apa? "Iyaaa, Mas Air sering-sering kesini ya, jangan pas semesteran doank. Masih pengen sharing nih soal kuliah." Aku mencoba ga terpengaruh sama panggilan tadi, kusambut tangan Mas Air kemudian ku ayun-ayunkan manja. Aku emang manja. Dan kadang aku ga bisa bedain manjaku ke Mas Abi dan Mas Air. Aku menganggap mereka sama. Sama-sama tempat yang pas untuk manja-manjaan. Hehe Ga membalas ucapanku lagi, Mas Air langsung berjalan ke mobilnya diantar Mas Abi. Yah, kok gitu sih. Udah 2 tahun ga ketemu, kok jutek gitu. Ga kayak Mas Air. Aku salah apaaa??? Air Aku bisa melihat kedekatan mereka lewat pintu yang terbuka lebar. Aira sudah dewasa ternyata. Sudah ada yang ngapelin, walaupun bukan malam minggu. Aku rasa sudah waktunya aku pulang. Pembicaraanku dan Abi juga kurasa sudah clear, yang penting Abi sudah tahu apa yang memang harus diketahui tentang kelangsungan pameran itu. Aku berjalan ke arah Aira kemudian pamit. Entah kenapa rasa kesal muncul sehingga aku harus memanggilnya dengan nama itu. Aira Barsha. "Kenapa lo?" Tanya Abi "Apaan?" "Kesel?" "Sama?" "Aira lah, orang yang lo panggil namanya lengkap Aira, bukan gue." Aku mematung kaget, ga nyangka Abi akan memperhatikan se detail itu "Gapapa, kenapa harus kesel sama Aira." "Lah makanya gue nanyaaaa, Air mengalirrr. Tadi aja pas gue dateng ngobrol santai gitu kok abis itu jadi kesel." "Gapapa." "Udah sih, Ir. Jujur aja sama gue, kenapa???" "Gapapa." "Naksir sama Aira?." Deg. Pertanyaan yang ga pernah aku bayangkan bakal keluar dari mulut Abi. Sahabatku sendiri. "Apaan sih lo! Salam buat Ayadhi sama Iburi ya. Gue ga nungguin. Besok ngajar pagi-pagi banget." Nah. Ayadhi sama Iburi memang sedang meeting mempersiapkan kematangan katering untuk wiken. Biasalah kalo wiken banyak orang nikahan. Aku kapan? Eh. "Iya udah kalo gitu, ati-ati. Salam juga buat Ayah sm Bunda ya, Ir. Bilangin maaf belom sempet kesana." Akupun mengangguk. Kulajukan mobilku dengan kecepatan normal. Dijalanpun aku baru sadar, kenapa aku bisa sekesal itu. Dan memanggilnya dengan nama itu. Aira Barsha...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD