Air
Aku kesiangan. Semalaman nggak tahu kenapa aku uring-uringan dan baru bisa memejamkan mata sebentar setelah shubuh. Sedangkan aku ada kelas pagi jam 7. Syukurlah jarak apartemen terlalu tidak jauh dari kampus, sekitar 15 menit.
07.05 aku baru sampai di halaman kampus. 07.15 aku baru sampai di kelas. Mahasiswaku pun heran, karna aku biasanya selalu ontime.
"Pagi semuaaa!"
"Pagi, Pak Aiiirrr!"
Beberapa pasang mata menatap kagum bercampur heran kepadaku. Itu sudah biasa. Akupun paham kenapa mereka seperti itu. Beberapa mahasiswa dan dosen di kampus suka kurang kerjaan menjelaskan bahwa itu karena parasku yang menurut mereka diatas standar. Tapi itu sama sekali ga mengusikku. Paras dan harta menurutku nomor sekian dari beberapa poin penting yang harus kuperhatikan, contohnya kecerdasan dan hati. Dua poin itu yang buat aku mungkin masih jomblo sampai detik ini. Terlalu pemilih? Ya harus lah, namanya cari calon ibu buat anak-anakku. Jangankan untuk calon istri atau pacar, teman dekat saja aku itu pemilih banget, makanya sampai sekarang teman dekatku ya cuma Abi sama Keanu yang sekarang menetap di Singapore.
Setelah hampir dua jam aku mengajar, entah kenapa aku pengen makan di luar kampus. Biasanya aku selalu delivery order, malas sekali rasanya kemana-mana. Tapi kali ini aku butuh angin paling tidak untuk menyejukkan ketergesa-gesaanku pagi tadi.
Aku berjalan menunduk, tidak mempedulikan sekitar, ke arah mobilku yang terparkir di ujung. Sayup-sayup aku mendengar suara itu lagi.
"Mas Aiiiirr. Tunggu! Ih dipanggil daritadi ga nengok-nengok, masak iya sih Aira harus ngejar-ngejar gini sampe keringetan nih."
"Eh, Ra. Maaf tadi mas ga denger, tumben nih kita ketemu di kampus." Mencoba terlihat biasa, padahal sebenarnya aku gemes banget liat Aira ngos-ngosan mengejarku. Senyum simpul tanpa sadar terukir di bibirku.
"Emang sengaja cari Mas Air. Abisnya kemarin pulangnya jutek."
"Ga jutek, Ra. Mas biasa aja kok."
"Kalo biasa kenapa panggil nama lengkap? Kan Aira jadi kepikiran semaleman."
Kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir mungilnya, tanpa dia sadari justru itu membuat jantungku berdetak lebih cepat.
"Mungkin mas ga sengaja, lagi capek aja. Mau makan? Mas laper banget, yuk!"
"Aira ada kuliah mas nanti jam 2."
"Ya kan sekarang masih jam setengah 1, Ra. Yuk makan, mas beneran udah laper nih. Deket kok dari kampus, mas jamin kamu ga telat nanti."
"Ya udah deh, ayuk!."
Akhirnya kamipun masuk ke mobil. Saatnya ngobrol. Rasa penasaranku pun sudah membuncah. Siapa kira-kira yang menemuinya semalam.
"Mas tadi kesiangan, Ra. Pagi udah cepet-cepet rasanya capek banget sampai kampus. Makanya ini pengen cari angin biar lupa sama hecticnya pagi tadi."
"Mas Air kan pulang jam 8. Kok bisa kesiangan, emang lembur kerjaan semalem?"
"Nggak, Ra. Ga tau susah tidur."
"Eh sama donk, semalem Aira juga susah tidur, padahal tugas udah kelar jam sembilan. Tidur baru jam satuan."
"Kenapa ga bisa tidur? Saking senengnya abis diapelin? Iya?" Tanyaku dengan senyum yang sangat kupaksakan.
"Dih, nggak lah. Orang cuma Mas Dimas ini yang dateng."
Oh, Dimas namanya. What? Dia panggil Mas juga??? Rasanya ga rela. Biasanya Aira selalu manggil Kakak untuk orang baru yang lebih tua. Hanya orang terdekat saja yang dipanggil Mas. Ini kenapa dia panggilnya Mas?!
"Wah pake Mas manggilnya, deket banget ya, Ra?"
"Ih, kepo."
"Ya kepo donk, Ra. Selama ini kan Mas Air ga pernah liat kamu didatengi cowok malem-malem."
"Ya itu jaman SMA kalik, Mas. Yang boleh ke rumah nemuin Aira kan cuma Mas Air. Hahaha.."
"Ya iya orang mas mau ketemunya sama Abi."
"Nggak, Mas Dimas itu orang jawa. Ga biasa dipanggil Kakak, jadi dia mintanya Mas aja, ya udah Aira turutin."
"Pacaran?"
"Ih apaan sih, Mas Air! Dia tuh cuma kakak tingkat yang kebetulan ngulang beberapa mata kuliah di kelas Aira."
"Ya kan udah gede, Ra. Wajarlah punya pacar. Iya juga gapapa." Sahutku ragu-ragu. Nggaklah. Jangan sampai Aira punya pacar dulu. Abi aja belum ada. Kalopun Aira punya ya minimal yang udah kerja aja deh. Eh?!
"Tau sendiri kan mas, Aira itu hobinya be-la-jar. Dan pacaran salah satu yang bisa ganggu hobi Aira!"
"Kata siapa? Banyak tuh mahasiswa mas yang pacaran tapi nilainya tetep stabil. Bagus."
"Ya itu mereka, kalo Aira ga yakin bisa gitu."
"Emang kamu ga pernah naksir cowok, Ra? Kan ga mungkin segede ini ga pernah, at least, naksir cowok."
"Pernah."
Saking kagetnya aku terlalu kencang menginjak remku. Reflek kurentangkan tangan kiriku untuk melindungi Aira agar tetap aman di tempatnya.
"Eh maaf, maaf, Ra. Mas ga sengaja kekencengan injeknya. Syukur lagi sepi jalanan."
"Ih, mas Air. Ati-ati deh! Aira ada kelas nih jam 2. Pastikan Aira selamat sampe kampus lagi!"
"Iyaaa, iyaaa." Akupun tersenyum. Kangen juga ngomelnya anak ini.
"Jadi siapa tadi yang pernah kamu taksir?"
"Ada lah. Ga usah disebutin namanya. Tapi Aira udah hempaskan kok rasa itu jauh-jauh."
"Loh kenapa? Emang ditolak?"
"Yakalik Aira nembak duluan, Mas! Tapi udahlah biarin aja jadi kenangan kalo Aira pernah punya cowok yang Aira suka. Hehe.."
"Menyerah sebelum berjuang itu namanya."
"Gapapa yang penting bisa liat dia udah seneng kalo Aira mah. Mas Air sendiri kayaknya 11-12 sama Mas Abi. Sama-sama susah buka hati ya?."
"Ih kata siapa? Abi itu mah."
"Brarti Mas Air udah punya pacar???!!!"
Gleg. Pertanyaan Aira dengan nada yang naik 1 oktaf membuatku kaget. Udah bisa nanya masalah ini ya dia. Udah gede emang adiknya Abi. Udah bukan Aira yang cuma bisa ngobrolin pelajaran. 'Raaa.. Mas Air jadi ngerasa kamu jauh kalo obrolan kita begini' batinku.
.
.
.
Aira
"Brarti Mas Air udah punya pacar???!!!"
Duh semoga Mas Air nanggapi pertanyaanku ini dengan kalem. Barusan suaraku naik satu oktaf, kaget, kesel, jengkel campur jadi satu. Dan reflek tubuhku ga bisa menutupi itu semua.
"Biasa aja nanyanya. Ga usah teriak-teriak, Ra!"
"Eh, maaf. Jadi udah punya?"
"Udah yuk turun, udah sampe, mas laper banget."
Mas Air terkesan menghindari pertanyaanku. Ya bukan Aira namanya kalau rasa penasarannya ga terobati. Akupun hanya diam ga menggubris ajakan Mas Air turun.
"Ayok, Ra! Laper!" Tanyanya sambil mendongakan kepalanya lagi di pintu mobil.
"Jawab dulu baru Aira turun!"
"Emang penting banget? Harus dijawab?"
"Iya penting banget! Jawab sekarang!" Nekad emang akutu, biarin aja lah. Aku sama Mas Air kan sama kayak aku sama Mas Abi. Jadi wajar kan sikap merajukku keluar sekarang?
"Duhhh, susah emang ngadepin kamu, Ra! Ga bakal bisa bohong. Haha" 'Jadi beneran udah punya ya, Mas?' Tanyaku dalam hati. Akupun masih betah memandang Mas Air menunggu jawabannya.
"Kalo mas sama Abi beda, Ra. Kalo Abi emang susah buka hati. Kalo mas udah kebuka buat satu orang. Tapi kalo ditanya soal pacar, mas belum punya, Ra!!! Masih setia nunggu. Hehe.. Udah cukup jawabannya?" Akupun mengangguk. Walaupun sebenarnya pengen banget nanya detail semuanya. Tapi aku aja ga jawab pertanyaan Mas Air tadi kan?! Jadi kurasa ini sudah cukup adil.
"Udah cukup. Hehe.." kutarik bibirku sebisa mungkin agar tersenyum. Akhirnya kami turun dan makan bersama.